Menunggu


Bagi sebagian besar orang, menunggu adalah hal yang membosankan. Menurut mereka, menunggu adalah kegiatan pasif, diam, tak dinamis sehingga seringkali memunculkan kebosanan jika terlalu lama melakukannya. Terlebih lagi jika hal yang ditunggu adalah hal yang tidak pasti. Nah, betapa sengsaranya menunggu jika seperti itu…

Sayangnya, dalam perjalanan hidup kita jelas tak semua hal dapat berjalan dengan mulus, lancar, dan bebas hambatan bukan? Ada kalanya kita harus berhenti sejenak untuk kemudian bersiap dan berjalan lagi. Mengapa harus berhenti? Ibaratnya di persimpangan, kita perlu diam sejenak menunggu lampu hijau menyala sebelum benar-benar mulai memacu kendaraan dan melaju bukan? Jika kita memaksakan diri berjalan ketika lampu merah menyala, maka jelas kita akan celaka. Seperti itu analoginya.

Ketika menghadapi rintangan, seringkali kehendak impulsif kita ingin bersegera mengakhirinya, entah bagaimana pun caranya yang penting cepat selesai, beres, tidak ada masalah, itu yang ada di benak kita. Padahal sebenarnya keberadaan masalah atau rintangan itu adalah agar sejenak kita diam dan merenungkan… Mengevaluasi, memikirkan kembali berbagai hal hingga sampai pada rumusan mengapa masalah itu timbul. Dengan begitu, kita menjadi lebih mawas diri (aware of the self).

Mengapa orang tidak suka memiliki masalah? Hahaha.. Sepertinya sudah “bawaan” ya seperti itu. We tend to avoid problems because they make us feel uncomfortable and disturbed. Bahasa gaulnya sih, “bikin rempong aje”. Sayangnya, jika nature manusia adalah males rempong, maka nature dari kehidupan kita adalah menghadirkan suka dan duka (dalam bentuk masalah, rintangan, kehilangan dkk.) tadi itu secara silih berganti. Maka, Jika kita menolak menghadapi masalah, sebenarnya itu kita SEDANG mencari masalah. It is a crime against the nature of life, indeed. 

Yaaa.. Kalau nggak rewel mah namanya bukan manusia ya. Kalau hatinya bersih terus, lempeng-lempeng aja mah itu malaikat namanya. Manusia pasti lah manusiawi dengan segala keluhan, ketidakbersyukuran, sikap rewel, enggan repot, dan segala hal lainnya yang menunjukkan ‘kemanjaan’ (ehm, pinjem tagline Syahrini yah.. “manjhaaa” hahahaha).

Namun daripada itu, manusia juga adalah makhluk yang diciptakan olehNya dengan akal dan kemampuan berpikir. Nah, dari pengalaman “naik” dan “turun” itu manusia -diharapkan- bisa belajar agar hidupnya lebih baik dan berkualitas. Sehingga, ketika dalam posisi bersedih, takut, merasakan kehilangan, marah, kecewa, dan seterusnya, kita perlu menunggu dengan sabar.

Dalam hal ini, proses menunggu bukan lagi proses yang pasif. Justru ia menjadi proses yang aktif dan super dinamis. Selama menunggu waktu yang tepat, seseorang dapat belajar menangkap tanda-tanda dengan peka dan kemudian memaknainya. Jawaban Tuhan atas doa-doa manusia tidak hadir begitu saja dengan jelas seperti tulisan berjalan pada sebuah prompter yang siap dibaca kapan saja oleh sang pembawa acara atau pelakon di atas panggung. Manusia lah yang harus memaknai sendiri tanda-tanda itu. Senyampang menunggu, ia dapat mengolah data tersebut menggunakan seluruh daya upaya yang dimilikinya. Maka, sabar menunggu itu tidak sekedar diam, namun bergerak dalam hening yang tak semua orang tahu. Dinamika yang terjadi adalah dinamika internal di dalam diri manusia itu sendiri.

Bagaimana denganku? Ya, aku sedang menjalani proses menunggu. Menunggu keputusan, menunggu kepastian, menunggu pergantian masa, menunggu saat perubahan, menunggu kesempatan untuk menemukan pengalaman baru, menunggu saat yang tepat untuk belajar mencintai diri dan mencintaimu dengan baik dan benar. Aku paham betul, tidak ada yang dapat dipaksakan dari proses menunggu ini.

Menunggu ya artinya menunggu (hahaha, bingung kan?)

Aku tahu kau tidak pernah memintaku untuk menunggumu. Jadi, keinginan untuk menunggu muncul dari diriku sendiri. Aku tahu kau tidak pernah menginginkanku. Jadi, keingininan untuk bersamamu adalah keinginanku sendiri. Jadi, kalaupun aku memutuskan untuk menunggumu, itu adalah keputusan yang kubuat dengan sadar dan perlu dijalani dengan sabar. Bisa jadi, besok sudah berubah. Bisa jadi begitu, karena bukankah hidup selalu berubah setiap detiknya?

Aku tidak akan menyangkal apapun. Untuk apa?

Sejauh aku menghindar, sekuat apapun aku menyangkal, aku hanya akan melawan diriku sendiri. Justru hanya akan memperparah rasa sakit dari luka yang memang sudah ada sebelumnya. Hidup menghantarkanku padamu, ya sudah. Artinya, kali ini aku memang harus belajar sesuatu dari pertemuan kita. Kunikmati saja itu.

Aku tidak pernah menyangka akan bertemu denganmu. Semua terjadi begitu saja, bukan? Tanpa arahan, tanpa petunjuk jalan. Jika bagimu tak bermakna, itupun tak mengapa. Perjalananmu dan perjalananku memang berbeda. Jika aku belajar bersabar, maka kaupun pasti punya hal lain untuk kau pelajari dari pertemuan kita ini. Sebuah sudut pandang yang berbeda. Dari kacamata yang berbeda. Mungkin sekarang adalah waktuku, yang mana itu bukan -atau belum- merupakan waktumu. Tak apa. Semua akan tiba pada waktunya masing-masing, sesuai yang sudah digariskan sebelumnya.

Tak apa, aku akan belajar menunggumu dengan sabar, selama bagiku menunggu adalah sebuah perjuangan yang layak kulakukan untukmu. Kunikmati saja, kujalani saja. Toh masa seperti ini pun takkan berjalan selamanya. Akan ada masa aku memperoleh hasil dari penantianku, dan sekarang bukan saat yang tepat untuk mereka-reka apakah gerangan itu.

Aku menyayangimu dan saat ini masih begitu. Sesekali aku akan mengeluh karena merindukanmu, kupikir itu wajar. Sesekali aku akan mencarimu karena merindukanmu, itupun wajar. Sesekali aku akan bersedih karena terlalu merindukanmu, masih juga wajar. Aku tidak akan memaksakan diri untuk mengatakan bahwa aku baik-baik saja ketika aku tidak. Aku akan mengakuinya, setidaknya pada diriku sendiri. Karena aku tak mau masa menungguku hanya berlalu penuh kesia-siaan. Kunikmati saja prosesnya berjalan dan mengayakan diriku dari pengalaman apapun itu yang kutemukan di sepanjang perjalanan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s