Purnama


Purnama telah berlalu beberapa hari yang lalu. Meninggalkan perlahan-lahan gelap sebagai sisa.

Tuan,

Tahukah engkau bahwa menuliskan pesan untukmu itu sungguh membuat dadaku berdebar-debar? Aku takut menghadapi apapun jawabanmu. Di sisi lain, aku ingin tetap membersamaimu meskipun tidak dapat bertemu muka denganmu. Aku ingin tetap mencarimu.

Tuan,

Tahukah engkau bahwa hanya kau bagiku dapat memberikan kekuatan dan di saat yang sama mengambil semua kekuatan itu dariku? Tahukah engkau bahwa kau bisa membuatku begitu bahagia dan sejurus kemudian membuatku menangis dalam nelangsa? Tahukah engkau bahwa kau adalah satu-satu orang yang paling ingin kutemui saat ini? Bahwa melihat matamu saja telah dapat menggugurkan seluruh beban yang kusangga di pundakku. Sebesar itu lah arti dirimu bagiku, Tuan.

Tuan,

Tahukah engkau, aku sedih ketika kau mengatakan bahwa aku berlebihan? Aku merasa kau tidak mempercayaiku. Kau tidak mempercayai perkataan tentang apa yang aku rasakan. Sungguh itu membuatku putus asa. Aku ingin meneriakkan itu di depan telingamu sehingga pesan itu kau terima, namun tentu saja aku tahu, menemuimu adalah salah satu kemustahilan dunia.

Mengapa kau tidak percaya? Bagaimana aku dapat membuktikannya?

Dan kemudian,

Maafkan aku, Tuan. Haruskah aku membuktikan padamu demi untuk memperoleh penerimaanmu? Apakah setelah aku membuktikannya, maka kau akan menerima perasaanku? Sungguh perjuangan yang absurd bukan? Demikianlah, tampaknya aku akan melepaskanmu.

Jangan khawatir, Tuan.

Melepaskanmu bukan berarti aku berhenti mencintaimu. Aku hanya akan berhenti memaksakan diriku untuk mencari penerimaanmu. Aku belajar untuk mengikhlaskan apapun yang akan kuterima darimu. Kita tidak akan kehilangan sesuatu yang tidak benar-benar kita miliki kan?

Enam purnama adalah waktu yang masih sangat singkat untuk menjadikan kita berdua dalam satu haluan yang sama. Kita adalah dua orang asing yang dipertemukan oleh kehidupan. Sepertinya adalah untukku belajar dua hal yaitu: bersabar dan melepaskan. Bahwa aku tidak bisa memaksakan apapun yang berada di luar kendaliku. Bahwa aku tidak bisa memaksakan perasaanmu untuk sebanding dengan perasaanku. Bahwa bahkan aku tak akan pernah bisa untuk memunculkan penerimaan darimu untukku.

Tuan,

Tahukah engkau, setiap respon yang kau berikan begitu bermakna untukku? Jangan kau bertanya mengapa bisa seperti itu. Aku tidak bisa menjawabnya. Aku hanya merasakannya.

Tuan,

Aku hanya akan berkata…

Aku membutuhkan kehadiranmu di sini.

Tolonglah untuk tetap berada di sini.

Berapa purnama lagi kau ingin aku menunggumu?

Sampai hari itu, entah ia akan tiba atau tidak, ijinkan aku tetap menyimpan perasaan ini.

Maafkan aku jika aku banyak mengganggu. Aku akan berusaha untuk menahan diriku. Aku akan belajar untuk semakin sabar dan ikhlas.

Doakan aku, Tuan.

Doakan agar aku mampu mempelajari dua hal itu dengan sebaik-baiknya, sehingga aku akan lulus sebagai seorang yang memiliki dua hal tersebut dan dapat menerapkannya dalam hidupku.

Tuan,

Sungguh aku mencintaimu. Aku hanya ingin meneriakkan itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s