Tentang Kekalahan


Setelah aku menimbang-nimbang, sepertinya hal yang “menahan”-ku adalah adanya perasaan semacam sedih karena tertolak..

Dan merasa kalah.

Kenapa harus sedih karena kalah?

Oh yaaa..
Karena kalah membuatku merasa bahwa aku tidak penting. Dan aku tahu aku tidak bisa marah pada orang lain kan? Dia berhak beranggapan demikian, dia berhak menganggap aku tidak penting baginya.

Berdasarkan teori humanistik aliran Rogerian, condition of worth di diriku menjadikan standar itu terlalu tinggi. Menghasilkan serangkaian pikiran yang “menuntut”. Menuntut diriku sendiri, sebenarnya.
Contohnya: kalau aku memang penting/istimewa bukan kah seharusnya aku diperjuangkan? Jika ternyata tidak, maka itu adalah bukti bahwa aku tidak istimewa, tidak dipilih, tidak layak diperjuangkan.
Dan jika itu yang terjadi, itu adalah salahku. Lalu aku berusaha lebih dan lebih keras lagi…berusaha menjadi lebih baik lagi. Agar aku diterima.

Oh yaaa…
Aku paham satu hal..
Merasa kalah karena merasa “seharusnya aku menang”.
Padahal ya tidak bisa selalu menang..
Pikiran negatif muncul karena aku menuntut diriku untuk sempurna sehingga aku malah tidak bisa menerima diriku sendiri apa adanya.. 

Ak merasa sudah menerima dia apa adanya, jadi harusnya dia menerimaku juga.
Ketika dia tidak menerimaku, aku menilai karena itu pasti ada yg salah, ada yang kurang dengan diriku, sehingga aku sedih dan marah pada diriku,
dan kecewa padanya…

Begitulah awalnya kerumitan ini bermula.

#catatankonsultasi #klienhumanistik #supervisi

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s