Dini Hari Ini


Entah darimana awalnya kerumitan ini bermula, sepertinya selalu berawal dariku. Aku tidak percaya bagaimana bisa aku menuliskan cerita dan sosok di dalamnya, dan itu ternyata kemudian terjadi secara nyata. Bukan hanya dalam imajinasiku saja.

Kau. Kau wujud dari imajinasi itu. Imajinasi yang kuciptakan untuk membuatku merasa aman, dicintai, dan berharga. Kau ada di sini.

 

Ketika saat ini, (akhir cerita) terjadi seperti imajinasiku itu, entah mengapa, bukannya siap, namun justru aku merasa sangat kecewa! Sangat sedih! Dan kemudian aku tidak berdaya. Kau bilang aku berlebihan kan?

 

Boleh aku menuliskan semua isi pikiran ku? Aku belum berani menyampaikan langsung padamu karena aku takut kau menganggap ku aneh. Lebih aneh dari penilaian mu sebelumnya tentang ku.

 

Kalimat di dalam tanda kurang itu adalah suara di kepala ku yang mewakili dirimu, semacam dialog yang muncul ketika pikiran ku mulai berkembang. Ah, ini menjadi semakin aneh saja rasanya! Tapi aku perlu menguraikannya! Rasanya sudah mau meledak saja kepala ku ini!

****

Aku sedih.

(Kenapa? Salah mu sendiri kamu sedih. Kamu selalu membuat rumit keadaan)

 

Aku ingin kamu meresponku.

(Sudah kubilang, aku sibuk! Kamu harus tahu dimana posisimu)

 

Saat ini aku merasa kehilangan kamu. Aku menyesali kenapa kemarin aku harus menanyakan arti diriku di matamu. That silly question made me trapped on this mess. Aku benar-benar takut kehilangan kamu. Dan sepertinya kamu akan pergi. Walaupun aku sudah menyiapkan diriku, aku tetap merasa tidak rela! Aku tidak pernah ingin kau pergi!

(Duh,lebaii amat sih!! Santai aja kenapa? Take it easy! Sudah kubilang jangan terlalu menganggap Ku penting. Jika sekarang terjadi seperti ini, itu salah mu sendiri! Kamu yg memilih menjadi seperti itu. Jangan salah kan aku!)

 

Aku bahkan tak berani meminta mu utk tetap di sini. Aku takut ketika meminta itu, maka kau akan benar benar pergi … Aku merasa sangat konyol, pathetic dan payah! Bohong kalau kubilang aku nggak papa. Bohong kalau aku bilang aku siap menghadapi ini.

(Aku sendiri nggak yakin dengan apa yang aku rasakan. Kamu menambahi beban pikiran ku dengan pembicaraan ngelantur ini. Kau tahu?!)

 

Aku harus bagaimana?

(Aku ingin menjaga jarak denganmu. Hadapi saja itu.)

 

Aku nggak mau.

(Ngeyel  amat sih! Tidak semua hal di dunia ini dapat berjalan sesuai yg kamu inginkan!)

***

 

Pikiran-pikiran itu terus berseliweran di kepala ku, tanpa bisa kukonfirmasikan ke padamu. Capek sekali rasanya menyimpan itu, tapi aku ga tahu apakah itu semua bisa kusampaikan padamu nantinya.

Aku ingin sekali bersamamu. Saat ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s