Classmate


Yup!

Butuh bertahun-tahun bagiku untuk menemukan makna dari pertemuan kita di waktu itu. Bertahun yang lalu, tak terasa waktu telah berjalan secepat itu. Sampai detik ini, perasaanku kepadamu bukannya hilang namun justru menguat. Konyol bukan?

Pastinya banyak yang akan menertawakanku karena kondisiku yang seperti ini, kata mereka: “Nggak move on.” Hey, c’mon guys, kalian tahu apa sih tentang yang aku rasakan? Kamu juga, tahu apa kamu??? Meskipun sudah berkali-kali kusampaikan tetap saja kamu mengganggap itu sebagai angin lalu!

“Apa artinya aku bagimu?”

Sudah sejak lama aku belajar untuk tidak meletakkan harapan padamu. Teori tentang harapan (Hope) menyebutkan bahwa harapan memiliki dua aspek kognitif, yaitu agentic cognition dan pathway thought. Agentic cognition adalah persepsi kita sendiri terhadap sumberdaya motivasional yang kita miliki untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Pathway thought merujuk pada persepsi kita terhadap kemampuan yang kita miliki untuk dapat menentukan cara mencapai tujuan tersebut. Ketika aku berkata, “I will never give up on you” maka agentic cognitionku berperan..tapi apalah artinya itu jika tanpa disertai dengan “I can get to your heart.” Faktanya, jelas aku tidak bisa memenangkan hatimu. Dan yang lebih jelas lagi, mustahil bagi kita untuk bisa bersama. Aku tahu itu. Tanpa perlu kau jelaskan pun aku sudah tahu.

This is my defensive coping here.. my wishful thinking. Me. Only me.

Ternyata, itulah aku bagimu.

A classmate, huh?

Seharusnya responku adalah marah, kecewa, terluka. Jujur aku merasakan itu ketika kau menyampaikan hal itu. Kemudian, aku berpikir, apalah hakku untuk marah, kecewa, terluka?

Deci & Ryan, tokoh penggagas teori determinasi diri menyebutkan bahwa motivasi intrinsik untuk berperilaku seseorang muncul karena adanya 3 dorongan dari dalam dirinya, yaitu: competence, autonomy, dan relatedness. Pertama, competence membuat kita termotivasi untuk belajar, untuk bisa, untuk menguasai, untuk mendapatkan keterampilan tertentu..dan ketika tujuan itu tercapai, kemampuan atau hasil belajar yang baru itulah reward-nya. Kedua, autonomy membuat kita berusaha untuk mandiri. Mengapa? Karena kita butuh untuk stand on our feet. Tidak bergantung pada orang lain. Bebas. Terakhir adalah relatedness, yaitu kita butuh untuk menjalin hubungan dengan orang lain, merasakan kedekatan, affection, cinta, kasih sayang, penerimaan. Seolah-olah tampaknya autonomy dan relatedness bertolak belakang ya? Sebenarnya begini, jika kita merasakan relatedness yang murni, atau oleh Deci & Ryan disebut dengan istilah true relatedness, kita akan merasakan bebas…merasakan autonomy.

Kukasih tahu deh, true relatedness itu apa.

True relatedness adalah ketika aku mencintaimu dan aku tidak lagi mengkhawatirkan bagaimana reaksimu terhadap perasaanku. True relatedness adalah ketika aku menginginkan agar kau bahagia, meskipun kebahagiaanmu tidak melibatkanku di dalamnya. True relatedness adalah ketika aku bisa menerima bahwa arti diriku bagimu tidak sepenting arti dirimu bagiku.

Dengan demikian, aku merasa lebih bebas bersama cinta ini. Energi yang kudapatkan menjadi lebih besar lagi, untuk kemudian dapat kubagikan pada orang lain yang membutuhkan energi kehangatan dan cinta kasih.

Jadi.. tak apalah jika bagimu aku hanyalah classmate.

Thanks anyway🙂

References:

  1. Burns, G.W (2010). Happines, healing, enhancement. New Jersey: John Wiley and Sons, Inc.
  2. Deci, E.L & Ryan, R. M. (1985). Intrinsic motivation and self-determination in human behavior. New York: Springer Science

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s