Here It Comes Again


#curhatanabege

Rasanya ingin meledak!!!

Menyimpan perasaan itu sangat tidak nyaman.. memang benar, akan lebih lega jika kita mengekspresikannya. Namun demikian, mengekspresikan perasaan itu juga bukan merupakan hal yang mudah. Begitu kan? Jika sudah seperti ini, seperti makan buah simalakama saja…

Selalu seperti ini kalau aku berurusan dengan dia..

Love-hate relationship yang nggak jelas, yang kemudian selalu sukses membuat hati kelimpungan nggak jelas juga. Aku paham banget deh gimana rasanya. Bertepuk sebelah tangan..

Disclose sangat sulit dilakukan ketika kita menimbang bahwa resikonya akan lebih besar daripada keuntungannya. Contohnya sekarang nih (iya sekarang!!!), aku ngerasa kangen banget sama dia. Pengen gitu lari nyamperin dia, nubruk, lalu meluk dia sambil ngomong kalau aku tuh kangen banget! Tapi, kenyataannya nggak segampang itu kan? Aku takut dia mikir aku cewek apalah. Trus akhirnya aku pendam lagi deh itu perasaan kangennya, liat nih sampai jadi jerawat segede gaban di jidat! Dan dia tetep nggak pernah tahu, what I have fallen for him. Nyesek nggak tuh?

Dari buku yang kubaca, memang ada beberapa alasan mengapa seseorang enggak mau ngungkapin perasaannya..
(1) Ekspektasi sosial, yaitu adanya pengharapan sosial atas perilaku yg ditunjukkan. Misal: laki-laki tidak boleh menangis, perempuan tidak boleh marah, (2) Kerapuhan, kaitannya dengan adanya kekhawatiran jika ekspresi emosi dinilai sebagai kerapuhan. Istilahnya chilling effect: tidak mengekspresikan emosi negatif karena takut dihukum, (3) Melindungi orang lain, yaitu adanya kekhawatiran bahwa ekspresi emosi dapat melukai perasaan orang lain sehingga memilih utk diam, dan yang terakhir (4) Peran dalam lingkungan sosial dan profesional. Yang ini terkait dengan peran, misalnya: sebagai ketua RT sebaiknya berwibawa dong.

Dalam kasusku tadi, aku lebih pas kalau masuk kategori 2 ya.. nggak mau dong dinilai cemen gara-gara ngomong kangen duluan, ntar dikira cewek apalah, ya to?

Uhuks, jadinya ribet amat ya.. emang ribet dah kalau urusannya adalah perasaanku ke dia. Udah bertahun-tahun, sejak jaman baheula kayak gini mulu, enggak bisa move on. Mungkin aku sudah terobsesi sama dia kali ya? Padahal lho, aku juga udah berusaha mati-matian enggak mikirin dia, enggak ngubungin dia, enggak berusaha nyari dia walaupun aku pengen banget ketemu dia (sedihnyaaa -_-“)

Ayuk gimana dong caranya move on?

Aku udah ngerasa dia sebagai bagian dari hidup, yang kalau nggak ada dia rasanya aku enggak bakal bisa sekuat ini ngadepin hidupku. Yah walaupun aku hanya berada di kejauhan.. (ihhh paling sedih ini.. miserable nggak sih akunya?).

It is a complicated moment when I need to get close to him but I don’t even have a gut to do it.
I have said to him that I will never give up on him, but then I start wandering, “what am I supposed to do?” He is so out of reach. Should I just enjoy my feeling without express it? If he ever read this memo, I hope he knows, it is so bitter to be me😦

But well, I still love him anyway.

Damn.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s