Outlier


Outlier atau bahasa Indonesianya adalah “pencilan”, dalam bahasan statistik merupakan suatu data yang berbeda dari data-data lainnya sehingga kalau kita lihat di scatter plot, maka si outlier ini akan terlihat terpisah dari “teman-teman”nya yang lain..

seperti ini.. sudah ketahuan yang mana outlier-nya?

Mengapa saya membahas si pencilan ini? Karena akhir-akhir ini saya merasa sebagai pencilan di kelompok crafter. Rasanya tidak nyaman… saya belum pernah sekalipun ikut kumpul-kumpul ketemuan atau yang gaul disebut kopi darat. Pertama, pernah tuh diadakan pas hari sabtu atau minggu gitu saya lupa, pas hari itu saya pengen banget liburan sama keluarga. Terus, beberapa kali setelahnya diadakan pas hari kerja.

Kerjaan saya apa sih?

Saya kebetulan mengajar di sebuah fakultas di universitas negeri di Yogyakarta. Dosen. Nah, suatu waktu saya sampaikan di obrolan grup/komunitas itu di FB, bahwa pekerjaan saya banyak dan menyita waktu yang banyak pula. Intinya, hal itu membuat saya nggak bisa sembarangan keluar kantor. Lalu, seorang kawan di grup itu menjawab bahwa saudaranya ada yang dosen tapi masih bisa hepi-hepi liburan.

Sudah lama sejak statement itu muncul dan saya masih merasa nggak nyaman…

Masing-masing orang punya prioritas hidup kan ya? Kalau saya memprioritaskan pekerjaan saya mengajar plus tetek bengek kerjaan dosen yang lain, ya boleh-boleh saja to ya? Nggak perlu lah saya sebutin bahwa selain ngajar, saya juga perlu belajar, mempersiapkan bahan, membuat soal ujian, mengoreksi berkas ujian, mengolah nilai.. itu masih yang terkait dengan pengajaran saja. Selain itu, saya harus membuat penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat. Selain itu, belum lagi kerjaan sebagai bagian pokja di fakultas, seperti sekarang ini ngerjain borang akreditasi. Masak iya juga saya harus beberin, kerjaan ngisi borang akreditasi itu seperti apa sih? Saya nggak mau ngeluh atau memposisikan diri sebagai korban dari tumpukan pekerjaan, atau menjadi martir dengan memposisikan diri sebagai orang yang paling menderita gara-gara pekerjaan.. hanya saja, mungkin saya kecewa menemui orang yang tidak empatik dan cenderung mengabaikan individual defferences.

Batin saya: “lahh saudaranya tadi di rumah punya pembantu, lha saya enggak.. ngurus rumah sendiri. Saudaranya tadi di kampusnya sudah senior kali, punya asisten untuk semua pekerjaan, lha saya justru yang jadi asisten di sana-sini je..ya nggak bisa disamain dong :)”

Kutipan bagus yang saya dapatkan dari buku The Coaching Manual karya Julie Starr adalah:

An individual is ultimately responsible for their lives and the results they’re getting. People who adopt a victim-like posture act as though life were something that happens ‘to’ them, and they can do little or nothing to influence it. In their language and behaviours it might show up as statements like ‘Well, what can I do about it?’ or ‘This seems to keep happening to me’, or ‘It’s pointless, there’s not much I can do about it anyway.’ To readily blame others for how our lives have turned out doesn’t tend to make us feel very powerful. Instead, we feel like victims at the mercy of the twists and turns of life.

When we adopt a perspective of responsibility for our situations, we immediately feel like we have some power and influence over them. In the example of redundancy, this type of situation often forms a crossroads for people. Some people prosper from the situation, choosing positive action or responses, which cause the apparent cloud to have a silver lining. Such responses might include changing careers, going out and finding a better job, returning to education etc.

Nah, saya memilih untuk bertanggung jawab atas pilihan profesi yang saya ambil, yang artinya memang saya nggak bisa keluyuran di jam kerja.

Lalu, waktu yang lalu… ada teman menawarkan program multilevel marketing.. saya sebenarnya tertarik dengan produknya😀 dan di awal sudah saya sampaikan saya nggak suka “ditekan-tekan” upline MLM. Saya tahu dengan pasti, motivasi saya bersumber dari dalam diri saya. Bukannya saya “nggak bisa” mengatur waktu di sela-sela kesibukan buat jualan, tapi intinya adalah saya “nggak mau”. Beda lho itu… saya mengutamakan karir saya di Fakultas, boleh kan? Walaupun kata orang, gaji dosen berapa sih? Tapi kalau saya merasa cukup, boleh kan? Karena yang saya kejar bukan semata uangnya.

Kalau memiliki perbedaan pandangan seperti ini, apa saya salah? Harusnya enggak dong! Menjadi pencilan bukan berarti salah kan? It’s just being different. Saya baru dapat bukunya Malcolm Galdwell, Outliers: The story of success, tapi sama sekali belum tersentuh… hahahaha saya penasaran juga dengan isinya😀

Terus nih… kembali ke grup crafter. Saya tahu mereka sedang sibuk mempersiapkan event, sibuk mendirikan organisasi resmi… dan saya memang tidak bisa membantu apa-apa saat ini. Waktu saya nggak ada, tenaga juga enggak, uang juga minus (kalau mau sok bossy ya impossible!). Kemarin ada yang mengeluarkan statement, “jangan sampai anak dijadikan kendala.”

Eh?

Saya benar-benar anti dengan kalimat yang judging dan memojokkan seperti itu.

Yaaaa… bagi saya itu memojokkan. Ada banyak cara untuk memotivasi orang lain, tanpa harus didahului dengan “menjatuhkan”nya.

Ini nih, kalimat “andalan” yang sering muncul: “Saya bisa, anda pasti juga bisa!” Lho, tiap-tiap orang kan berbeda ya, nggak bisa disama-ratain gitu dong. Latar belakang beda, keluarga beda… daripada “membandingkan” yang bisa jadi justru membuat orang menjadi defensif, kalimatnya kan bisa diganti, “Saya percaya kamu bisa melalui fase ini.. berat memang, untuk itu saya akan ada disini mendukungmu.” Kayak gitu kan lebih enak didenger? Iya nggak sih?

Daripada bilang, “Saudaraku dosen, tapi masih bisa liburan tuh.” akan lebih nyaman diterima apabila mengatakan, “Iya, seandainya ada kesempatan untuk rehat, pasti asyik ya.” Iya nggak sih?

Ada simulasi di kepala saya nih, seandainya saya mengatakan hal tersebut pada orang yang bersangkutan, dia akan menjawab, “Ngapain saya musti ribet-ribet mikirin dia mau merasakan apa. Makanya jadi orang yang kuat, jangan lembek, jangan lebay.”

Fffhh… apakah berkomunikasi empatik itu sama dengan lebay? Apakah menjaga lisan kita dari kemungkinan manyakiti hati orang lain itu sama dengan lembek? Kalau iya, berarti pemikiran saya di atas benar-benar dapat dinilai sebagai pemikiran outlier dong ya🙂

Ya sudah lah, saya tidak ingin memperpanjang urusan.. toh saya sudah memaklumi… memang ada beragam macam karakter orang. Saya harus dapat menyesuaikan diri and remain healthy.

Bagus sekali, pelajaran selanjutnya yang saya peroleh dari Starr.. ImageNah, keterampilan seseorang dalam menjalin hubungan dengan orang lain memang berbeda satu sama lain, dan faktor kecocokan antarpribadi agaknya juga berperan ya.. kalau nggak cocok/suka, ya poin minus lah yang muncul. Pertanyaan saya begini, why do we dislike people? For what reason?😀

Hehehe, siang-siang malah curcol nih saya… nggak papa ya?😛

Referensi:

Starr, Julie. (2003). The Coaching Manual. Great Britain: Pearson Education

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s