Yang Mana? (2)


Melanjutkan tulisan saya dua hari yang lalu…

Temanya adalah tentang pengambilan keputusan ya.. semakin saya telaah lagi, memang benar bahwa orang bebal dan keras kepala sepertisaya ini cenderung memiliki motivasi instrinsik yang lebih kuat. Biasanya memang muncul dari perilaku-perilaku ngeyel itu tadi. Beberapa kawan menyebut saya “Pemaksa diri” karena saking seringnya memaksakan diri ketika melakukan sesuatu atau berhadapan dengan sesuatu. Uniknya, motivasi instrinsik tidak menimbulkan rasa lelah atau burdened selayaknya motivasi ekstrinsik.. sejauh pengalaman saya sih😛

Menarik sekali ketika membaca buku Ryan & Deci (1985) berjudul Instrinsic Motivation and Self-Determination in Human Behavior, saya menemukan teori klasik motivasi dan penjelasan/akar teori motivasi dari sisi Psikoanalisis.. maaf saya tinggal mengutip saja, soalnya butuh waktu agak lama kalau harus menjelaskan… kalau ada kutipannya seperti ini, justru kita lebih leluasa mendiskusikannya.. (ngelessss… :P)

White (1959) argued for a different kind of motivational concept, one that would complement drives and could be the basis of a motivational theory with greater explanatory power. This new motivational propensity could account for play, exploration, and a variety of other behaviors that do not require reinforcements for their maintenance. As well, it could explain various psychological processes that are involved in normal maturation and in volitional behavior. White referred to this propensity as effectance motivation, because, he argued, organisms are innately motivated to be effective in dealing with their environment. According to White, the feeling of effectance that follows from competent interactions with the environment is the reward for this class of behaviors and can sustain behaviors independent of any drive based reinforcements.

In psychoanalytic theory this motivational force is generally referred to as independent ego energy. The term refers to the fact that the energy of the ego, which is the portion of the personality structure responsible for volitional responding, rational processes, exploration, and play, had originally been hypothesized to be derivative from, rather than independent of, the basic drives of the id.

An organismic theory begins with the assumption of an active organism; it assumes that human beings act on their internal and external environments to be effective and to satisfy the full range of their needs. In the process, behavior is influenced by internal structures that are being continually elaborated and refined to reflect ongoing experiences. The life force or energy for the activity and for the development of the internal structure is what we refer to as intrinsic motivation.

Saya sangat tertarik membaca buku ini lebih lanjut… saat ini masih belum selesai, jauh dari selesai..hihihi…

Setidaknya dari dua chapter awal yang saya baca, saya menemukan jawaban atas beberapa pertanyaan konyol saya tentang kehidupan..

  1. Kenapa saya merasa di masa remaja saya tidak ada boys yang naksir atau mengejar-ngejar saya
  2. Kenapa saya bertahan dengan orang-orang itu saja (saya sebutin nggak ya jumlahnya? hihihihi) yang dapat dengan mantap saya sebutkan sebagai “the love of my life
  3. Kenapa saya nggak bisa dikontrol dan hal itu membuat bisnis multilevel terasa sulit untuk pas dengan diri saya..
  4. Kenapa saya berkeras hati ketika sudah menentukan pilihan, tidak akan mundur atau menyerah.. bahkan sempat saya katakan pada seorang kawan bahwa saya adalah ahlinya “bertahan”

Oke, ada 4 hal itu yang sekiranya dapat lebih saya pahami selepasnya saya menyelesaikan membaca buku ini yaaaa…(next time kita bahas jawabannya apa :P) dan kemudian saya menjadi penasaran, pada orang-orang yang motivasi intriksiknya lebih kuat, apakah ia akan lebih mudah untuk mencapai state of flow? Determinasi Diri itu termasuk dalam ranah kepribadian (tampaknya ya.. wah harus membaca lagi nih :D) dan satu penelitian yang saya baca (Ullen, dkk., 2012) bahwa orang dengan karakteristik neurotik memang lebih sulit untuk mencapai flow.. Pertanyaan di kepala saya bertambah lagi, lha kenapa orang itu menjadi neurotik??? Mundur ke belakang, bisakah kita mencegah seseorang menjadi neurotik? jika ada proneness for flow, maka seharusnya ada proneness for neurotics ya?😛

Hihihihihi.. awalnya saya berniat menamatkan tulisan ini di sekuel ini saja, tapi kok ternyata masih banyak yang perlu dituangkan yaa… padahal saya harus segera chachaoo dari kantor dan menjemput anak saya nih..

Saya lanjutkan besok lagi ya.. menurut saya motivasi itu penting dipelajari karena dapat mengarah ke pengambilan keputusan, self-leadership, self regulation, dll. Kayaknya sih banyak skripsi S1 yang tentang motivasi ya.. tapi ada nggak ya yang pembahasan dan dinamikanya mendalam gitu? Hahahha.. jadi pengen ngetem di PerPus…

Btw, sebelum laptop ditutup.. saya mau pamer nih, hasil karya yang saya selesaikan dalam waktu 6 jam dari sore malam-malam non stop..

blu

“Ngeyel” tampaknya adalah nama tengah saya…hihihihihi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s