Bersemangatlah!


Seminggu kemarin merupakan hari-hari sibuk bagi saya… meskipun banyak hari libur di tengah minggu ternyata tidak mengurangi jumlah hal yang harus saya kerjakan🙂 Senangnya adalah “Menjadi produktif” merupakan mood booster yang ampuh bagi saya.. karena setelah melihat hasil kerja keras itu, yang ada adalah rasa bangga, cieeilieeh…😛

Beberapa chat diskusi wiring project yang baru masuk berkombinasi dengan tugas pekerjaan di kampus membuat saya excited (plus cemas juga sih sebenarnya), in the next upcoming week apakah mampu menyelesaikan tantangan-tantangan itu sesuai tenggat waktu yang ada.. Saya pikir saya perlu menentukan tujuan.. walaupun saya akui, jiwa seniman saya seringkali mengarahkan saya untuk berlaku unplanned😦

Locke & Latham (2013) menyebutkan bahwa penentuan tujuan dapat meningkatkan perfomansi melalui lima cara utama, yaitu:

  1. Tujuan yang jelas dapat mengarahkan individu untuk menentukan seberapa besar usaha yang perlu ia lakukan untuk mencapai tujuan tersebut.
  2. Tujuan yang jelas dapat mengarahkan individu untuk menentukan seberapa lama waktu yang ia butuhkan untuk mencapai tujuan tersebut
  3. Tujuan yang jelas akan membantu individu untuk memfokuskan perhatian terkait dengan hal-hal utama yang menjadi tujuannya saja dan cenderung untuk meletakkan hal-hal lain pada prioritas berikutnya
  4. Tujuan yang jelas dapat menjadi acuan bagi individu dalam membuat perencanaan strategik
  5. Tujuan yang jelas dapat menjadi acuan untuk mencari informasi atau referensi yang tepat saat individu menghadapi permasalahan dalam proses pencapaian tujuan tersebut.

Orientasi tujuan juga penting untuk dipahami oleh individu, sehingga ia memiliki arah yang jelas serta mengetahui keberadaan alasan yang berbeda antara satu individu dengan individu lainnya terkait dengan pencapaian tujuan. Dweck & Legget (1988) menyampaikan dua orientasi tujuan besar yang dikejar oleh manusia, disebut sebagai mastery dan performance.

Ketika tujuan itu diorientasikan pada mastery, maka titik fokusnya adalah penguasaan sesuatu yang didasarkan pada upaya pengembangan diri individu. Individu akan menggunakan dirinya sendiri sebagai pembanding. Misalnya: pada tahun lalu, saya baru menguasai satu teknik saja, maka saya menetapkan tujuan bahwa pada tahun ini saya sudah harus menguasai beberapa teknik aplikasi wiring.

Adapun performance adalah orientasi tujuan yang menekankan pada perbandingan sosial dan kompetisi. Hal ini mengarahkan perilaku individu untuk melakukan sesuatu lebih baik dari individu lainnya dan mendasarkan keberhasilan pada pengakuan yang diberikan kepadanya.

Orientasi tujuan ini berdampak pada motivasi. Kita perlu mengecek orientasi tujuan kita pada setiap hal yang akan kita kerjakan, sehingga kita dapat mengidentifikasi:

  1. Apakah orientasi tujuan yang dimiliki sama untuk setiap pekerjaan yang dihadapi?
  2. Jika ada perbedaan, mengapa itu terjadi?
  3. Apakah orientasi tujuan ini mempengaruhi pilihan perilaku yang diambil?
  4. Seberapa lama kita mampu bertahan mengerjakan tugas, membaca buku referensi, atau lainnya sebelum akhirnya merasa lelah atau bosan?
  5. Apakah kita mampu mencapai state of flow saat menjalani aktivitas tersebut?

dan seterusnya…dan seterusnya…dan seterusnya…

Mengacu pada McCombs & Pope (1994), enam tahapan penting diperlukan dalam proses penetapan tujuan. Pertama adalah mengidentifikasi dan merumuskan tujuan. Tahapan kedua adalah mencari alternatif cara untuk mencapai tujuan yang sudah dirumuskan. Setelah berhasil merumuskan tujuan, tahap dua adalah mempertimbangkan permasalahan yang mungkin muncul dalam proses pencapaian tujuan, dan diikuti dengan mempersiapkan alternatif cara untuk mengatasinya sebagai tahapan ketiga. Tahap keempat adalah menentukan batas waktu. Tahap kelima adalah proses evaluasi dari semua tahapan-tahapan tersebut. Tahapan ini diakhiri (tahap keenam) dengan pemberian penghargaan pada diri sendiri berdasarkan pencapaian yang diraih.

Seringkali kemudian beberapa orang berkomentar… “Mau melakukan sesuatu aja dipikir ribet begitu.. mbok ya mengalir saja, dijalani saja..”, dan kalau boleh saya berkomentar, hal-hal seperti ini, pemikiran seperti ini membantu kita lebih mengenali diri. Jika dirasa ribet, maka keribetan lah yang akan kita hadapi, begitu pula sebaliknya. itu adalah ilusi persepsi.

Ini hasil karya “ribet” saya yang pertama (karena selain ini, masih ada 2 karya ribet lainnya yang selesaikan minggu ini)…

ImageDengan proses pengerjaan yang kurang lebih seperti ini:

ImageSeru kan? Seringkali ketika saya buka album berisi foto-foto hasil karya saya sebelumnya, saya bertanya-tanya dalam hati..”Kok saya bisa ya dulu mbikin yang kayak gitu?”, jadi dari dalam diri muncul keinginan (yang sesaat kemudian berubah menjadi tantangan, hehhe..) untuk membuat yang lebih baik lagi di kesempatan mendatang😀

Bersemangatlah, Kawan! Tantangan apapun yang kau hadapi hari ini (dan esok nanti), yakinlah kau dapat melaluinya dengan baik dan memuaskan😀

 

References:

  • Dweck, C.S & Legget, E.L (1988). A social-cognitive approach to motivation and personality. Journal of Personality and Social Psychology, 95, 256 – 273
  • Locke, E.A & Latham, G. P (eds) (2013) New development in goal setting and task performance. NY:Routledge
  • McCombs, B.L & Pope, J. (1994) Motivation hard to reach student. Washington DC: APA Publication

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s