Kenapa?


Pertanyaan yang begitu sulit terjawab ketika aku harus dihadapkan pada kenangan-kenangan tentangmu.

Sudah lama berlalu, tak terasa dua belas tahun yang lalu sejak pertama kali aku melihatmu. Dan sepuluh tahun lalu sejak aku pertama kali mengenal sosokmu lebih dekat. Dekat? Pun tak sebegitu dekat…

Diantara kerumunan mahasiswa itu, entah mengapa kau menarik perhatianku. Aku tidak mengenalmu, tidak tahu siapa namamu, pun dari angkatan berapa dirimu kala itu. Dua tahun kemudian, ketika berjumpa. Satu kelas, kau ingat? Tentu tidak ya.. Untung saat itu aku cukup nekat untuk mengambil matakuliah yang sebenarnya belum boleh diambil untuk mahasiswa seangkatanku. Jika tidak, tentunya aku akan melewatkan kesempatan bertemu denganmu (lagi). Benar saja, dari sekian puluh mahasiswa, yang seangkatan denganku hanya 4 orang saja (5 orang sudah termasuk diriku). Aku mengenali sosokmu, sudah mengetahui namamu, meskipun belum pernah sekalipun bertegur sapa. Kau ingat? Kuyakin tidak.

Pada semester berikutnya, aku mendaftarkan diri menjadi asisten matakuliah itu. Dan bertemu lagi denganmu… aku masih ingat dengan jelas, saat briefing asisten.. di suatu sore.. kau sudah di lantai atas bersandar di pinggir fasad tangga, aku hendak naik bersama seorang kawan. Pandangan kita bertemu, dalam hatiku berkata, “Astaga, ada dia!”, aku senang sekali. Senang sekaligus berdebar-debar🙂 Kita duduk bersebelahan…membuatku benar-benar salah tingkah!

Kegiatan bersama di proses asistensi itu memberi kesempatan padaku untuk lebih dekat padamu. Kita saling bertukar nomor handphone.. bercerita tentang banyak hal. Aku sungguh mengagumimu, kau tahu? Tampaknya tidak. Suatu ketika aku memberikan sebuah buku padamu. Apakah kau masih menyimpannya? Aku menyerahkannya beserta sepucuk surat, berisi pernyataan bahwa aku mendukungmu apapun yang terjadi, sebuah penyemangat untukmu kala itu, yang sedang menghadapi suatu permasalahan.

Itupun yang kau lakukan padaku. Entah mengapa, aku merasa aman bila berada di dekatmu. Bahkan ketika kau jauh pun, aku merasa kau ada untukku di suatu tempat di luar sana. Keyakinan yang gila mengingat diantara kita tidak pernah ada hubungan apapun. Kemudian terpikir olehku, it’s a dead end. Buntu. Kita “berpisah”, sibuk dengan aktivitas masing-masing. Sesekali berkirim kabar melalui pesan singkat namun itu pun jarang terjadi. Aku mencoba mematikan perasaanku padamu. Aku berharap seiring berjalannya waktu semua berakhir dan selesai.

Ternyata aku salah… dua tahun kemudian (ada apa dengan jangka waktu dua tahunan ini ya??) aku bertemu lagi denganmu.. di kampus tentunya. Kita sama-sama mendaftar untuk program studi S2, fakultas yang sama, bidang yang sama… Pada saat pengumuman penerimaan, tidak hanya fakta bahwa aku diterima yang membuatku bahagia, namun fakta bahwa kita akan belajar di kelas yang sama, membuat perasaan ku berbunga-bunga. Jujur, aku mencoba mengalihkan pandanganku pada laki-laki lain.. tapi ternyata perasaan itu tidak muncul sebagaimana ia muncul ketika aku bersamamu. I must be crazy!

Masa perkuliahan itu… sungguh aku ingin menjaga jarak denganmu. Berusaha tidak banyak terlibat karena aku tidak mau terluka. Terluka oleh harapan yang kubangun sendiri, seandainya aku berkesempatan untuk bersamamu. Aku menghindari sekelompok denganmu tiap kali ada tugas kelompok. Aku menahan diri untuk tidak menghubungimu jika tidak benar-benar memerlukannya. Aku tidak ingin terluka. Kupikir, bagimu aku bukan siapa-siapa.

Suatu masa, ternyata kita sekelompok sewaktu tugas praktik. Apakah itu kebetulan? Aku tidak tahu. Tinggal serumah denganmu, banyak berinteraksi denganmu, membuat aku menginginkanmu lebih dari sebelumnya. Masih ingatkah saat aku memintamu untuk menemaniku kunjungan ke rumah klien? Sepanjang perjalanan itu aku ingin sekali memelukmu karena kutahu masa itu tak akan terulang lagi. Itulah saat-saat kita begitu dekat. Aku masih ingat semua detail itu…

Aku pasti sudah gila karena mencintaimu. Tanpa alasan. Sekian tahun berlalu dan rasa itu tidak pernah berubah. Begitu kuatnya kah kemampuan pikiranku yang menyimpang semua kenangan tentangmu?

Masih ingatkah sewaktu kau memberikan peluit berkompas saat aku akan berangkat KKN? Aku masih menyimpannya. Gila!

Kenapa aku? Kenapa kamu?

Dulu aku berharap segera dapat menemukan jawaban, tapi ternyata sepuluh tahun berlalu dan hal itu masih merupakan tanda tanya. Kau berkata bahwa jalan kita berbeda. Baik. Kau berkata bahwa jika aku bersamamu maka bisa jadi akupun akan merasa kecewa. Tapi, apakah kau pernah memberikan kesempatan itu padaku? Kesempatan bahwa aku mampu mendampingimu?

Apakah karena aku tidak cukup baik?

Aku masih terus bertanya-tanya… belum mendapatkan jawabannya. Atau mungkin memang seharusnya aku tidak bertanya yaaa..

Aku hidup di masa datang dan cerita ini harus selesai dengan akhirnya bahwa dirimu merupakan sepenggal kisah dalam hidupku. Di masa itu. Seperti katamu, “Rasa yang muncul terkadang hanya untuk dinikmati dan dirasakan tapi tidak untuk diwujudkan. Karena terkadang ketika menjadi wujud, rasa itu justru kehilangan maknanya..”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s