Kecubung dan eksistensinya


Sederhana sih, saya menamainya “kecubung” karena memang warnanya ungu🙂 Seperti warna bunga kecubung yang dulu pernah tumbuh di halaman depan rumah ibu saya🙂

bungakecubungSaya ambil foto di internet, ternyata seperti ini.. jujur saya memang sudah lupa bagaimana bentuk bunganya🙂 kkurang lebih seperti bunga terompet ya..

Nah, beberapa waktu yang lalu saya mendapati bahwa saya masih punya satu batu besar berwarna ungu yang kemudian membuat saya pusing tujuh keliling, hendak “disulap” menjadi apakah dia?? Saya kemudian berpikir-pikir lagi, kenapa ya dulu saya beli batu besar itu? dari ukurannya, batu itu hampir memenuhi telapak tangan saya.. hmm memang tampaknya sejak awal saya berniat menjadikannya bandul kalung (pendant).Lantas saya coba membungkusnya.. maunya sederhana saja, pake weaved bezel melingkari, lalu dikasih cantolan sudah jadi bandul dianya..

kecubung4Trus saya lihat-lihat lagi.. “ih kok plain amat yak? cuma gitu doang?” lalu saya amat-amati lagi.. “ih kok nggak simetris sih? keliatan banget gitu mencong kiri dan kanan engga sama, aneh deh!” trus saya amati lagi.. “kayaknya perlu ditambah sesuatu deh”…

Akhirnya, saya benahi lagi bandul kalung itu sampai saya merasa puas dengan hasilnya.

kecubung3kecubung2Nah, saya tertarik dengan konsep noogenic neurosis yang dipopulerkan oleh Viktor Frankl dan juga tentang kebermaknaan hidup. Konsep yang bagi saya sederhana sekaligus rumit, mudah sekaligus menantang. Seperti halnya kata-kata yang saya ingat dari serial tv Kera Sakti, “kosong adalah isi, dan isi adalah kosong”. Hah! Mbingungke..

Sederhananya, bahwa Frankl menyebutkan dalam hidup kita haruslah memiliki makna (meaning), sehingga kita dapat puas (fulfilled) dengan hidup kita. Frankl membagi meaning dalam 2 tingkatan: 1) specific meaning dan 2) ultimate meaning. Specific meaning adalah makna yang kita peroleh dari hal (sesederhana apapun itu) yang kita lakukan SAAT INI. Ultimate meaning adalah makna tersembunyi yang sifatnya lebih universal, meaning of life in general.

Nah, coba kita lihat gambar di bawah ini:

Saat ini, kita sedang berada di kuadran mana kah?

Dr. Paul T.P. Wong adalah salah seorang tokoh yang mendedikasikan dirinya untuk mendalami kebermaknaan berdasarkan teori yang disampaikan oleh Frankl. Dari hasil penelitian-penelitian yang pernah dilakukannya, beliau merumuskan 4 tipe kebahagiaan, yaitu:

  1. hedonic –> hepi karena pemenuhan kebutuhan/keinginan yang sifatnya segera, misalnya: makan, minum, seks
  2. prudential –> feel of flow, sebuah perasaan enjoy dan menikmati suatu hal yang menurut individu memang merupakan hal terbaik yang dapat dilakukannya
  3. eudaimonic –> sense of fulfillment dan sense of fluorishing yang muncul saat individu melalui proses pencarian makna dan tujuan hidupnya
  4. chaironic –> sense of blessed, bahwa individu memperoleh keberkahan yang berlimpah dari Tuhan

Hmm.. di kepala saya sekarang berkelebatan kilasan ingatan yang tampaknya sulit untuk diurai menggunakan kata-kata, jadi mohon maaf bila pada akhirnya tulisan ini end up confusing, lol..

Minggu lalu saya nonton film 47 Ronin di bioskop. Nah menurut saya, tindakan yang dilakukan oleh para Ronin tersebut bentuk sacrificial life.. coba, tokoh utama, Kai (Keanu Reeves) yang dengan susah payah berperang, sudah menang, eh kena hukuman dari Shogun Tokugawa. Padahal dia sudah tinggal sedikit lagi bisa hidup bahagia dengan Mika, gadis yang dicintainya (–sori saya nggak ngasih ulasan yang detail ttg filmnya yah, silakan nonton sendiri atau baca resensi lengkapnya). Kalau Kai mengedepankan hedonic happyness, maka dia tentu memilih kabur…kawin lari gitu, mengasingkan diri ke Indonesia dengan naik perahu (??)

Namun, specific meaning yang dipegangnya adalah tentang pembersihan nama bosnya, Shogun Asano (yang juga merupakan ayah Mika). Dan dia sudah menentukan bahwa pembersihan nama itu adalah tujuan hidupnya, dan dia bangga, puas, fulfilled dengan jerih payahnya tersebut. Ya ya ya.. saya jadi lebih paham..🙂 –meskipun tampaknya saya justru menularkan kebingungan pada para pembaca😛

Jadi, kalau boleh saya simpulkan, menurut teori kebermaknaan ini.. kesuksesan bukan lah segala-galanya (well, lets redefine success :)), bukan merupakan tujuan utama, karena sukses yang tanpa makna merupakan hal yang kosong dan semata merupakan hidup yang dangkal.

Lalu, kebahagian…happiness.. alangkah indahnya bila setidaknya ada masa dalam hidup kita, saat kita mampu mensinerginakan 4 tipe kebahagiaan versi Wong ini tadi.. terpenuhi kebutuhan, merasa enjoy dengan apa yang dilakukan, menemukan makna yang lebih dalam, dan merasa terberkahi atas semua pencapaian yang berhasil diperoleh serta atas semua anugerah yang Tuhan berikan, through any ways, by any means🙂

Kalau saat ini saya menemukannya melalui si Kecubung cantik ini, boleh kan?

Yup, that’s it!

Topik untuk disertasi???

========

Referensi:

http://www.drpaulwong.com/viktor-frankls-meaning-seeking-model-and-positive-psychology/

47 Ronin, movie review. http://herald-review.com/blogs/decaturade/the-beautiful-disaster-of-ronin/article_1c51a756-6c1b-11e3-8fb6-001a4bcf887a.html

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s