Stress and its effects


Saya menemukan sebuah buku bagus di perpustakaan fakultas dua hari yang lalu. Sebenarnya isi buku ini mirip dengan isi dari buku saya yang hilang entah kemana, karya James Calhoun dan Joan Ross Acocella, Psychology of Adjustement and Human Relationship.

the book cover

Nah, buku yang baru saya temukan kemaren itu berjudul Psychology Applied to Modern Life: adjustment to the 21st century (9th ed.) karya Wayne Weiten, Margaret A. Lloyd, Dana S. Dunn, dan Elizabeth Yost Hammer. Diterbitkan oleh Wadsworth Cengage Learning di Belmount, California, US. pada tahun 2009. Cek link ini untuk lebih detail: the book.

Nah *lagi*, yang mau saya cuplik dalam artikel ini adalah salah satu chapter yang menarik… ehmm sebenarnya semua chapter sangat menarik dan menggoda untuk dibahas, namun berhubung topik pada chapter 3: Stress and its effects ini sangat relevan dengan kondisi dan situasi yang saya hadapi sekarang, maka otak saya pun tampaknya merespon lebih cepat..hehehe..

Oke, lanjut..

Dalam buku ini disebutkan bahwa stress itu adalah suatu kondisi yang sangat wajar terjadi dan siapapun pasti mengalaminya. Yup! Itu benar sekali!

Stress as any circumtances that threaten or ARE PERCEIVED to threathen one’s well being and thereby tax one’s coping abilities.

Artinya kurang lebih begini ya, stress adalah suatu keadaan yang mengancam atau DIPERSEPSIKAN mengancam (oleh individu ybs) kesejahteraan -kondisi yang nyaman/well-being- dan oleh karenanya, menuntut kemampuan coping individu tersebut untuk menghadapinya…

Masihkah ada yang bertanya-tanya: COPING itu apaan sih? Hehehe, istilah coping dalam terminologi psikologi diartikan sebagai kemampuan untuk menghadapi situasi menekan (stressfull event). Asal katanya dari kata COPE. Agak sulit memang menerjemahkannya secara harfiah🙂

Trus, kenapa ya itu saya kok menandai kata ARE PERCEIVED dengan huruf kapital? Hal ini berkaitan dengan penilaian terhadapa kondisi stress. Richard Lazarus adalah salah seorang tokoh psikologi yang fokus meneliti tentang stress, coping, dan emosi pada manusia. Beliau dan kolganya, Folkman, membedakan penilaian stress primer dan stress sekunder.

Primary appraisal is an initial evaluation of wether an even is (1) irrelevant to you, (2) relevant but not threathening, or (3) stressful. When you view and event as a stressful, you’re likely to make a secondary appraisal, which is an evaluation of your coping resources and options for dealing with the stress.

Artinya nih.. “kacamata” individual kita berperan untuk menilai apakah suatu hal -bisa jadi keadaan, situasi, stimulus lainnya- yang muncul itu akan kita nilai sebagai kondisi stress atau tidak.. dan kita sendirilah yang kemudian menilai kemampuan kita untuk menghadapi stress itu, secara lebih spesifik yaitu dengan menentukan cara coping yang tepat.

Kalau ditarik ke kondisi saya sekarang nih, analisisnya seperti ini:

  • Penilaian primer: apakah saya melihat pekerjaan baru saya di fakultas ini sebagai hal yang menegangkan, membebani, menakutkan -dan seterusnya embel-ember menyeramkan lainnya?
  • Penilaian sekunder: saya akan menganalisis lebih lanjut apakah penilaian primer saya ini tepat? dan sejauh mana tingkat “menyeramkannya”? sekaligus bagaimana saya dapat mengatasi atau menghadapi kondisi ini?

Nah, untuk bisa menilai suatu situasi itu “benar-benar ” mengancam atau tidak, ada baiknya kita bahas sedikit tentang: Major Type of Stress. Dalam buku ini, disebutkan ada 2 kategori besar: acute stressor dan chronic stressor.

Acute stressor are threathening events that have a relatively short duration and a clear endpoint. Chronic stressor are threathening events that have relatively long duration and no readily apparent time limit.

Gampangnya begini, stressor akut itu datangnya tiba-tiba, dalam waktu yang singkat, dan penanganannya lebih jelas. Misalnya, ketika anda tinggal di daerah pesisir dan mengkhawatirkan akan datangnya gelombang tsunami, atau ketika anda pulang kerja larut malam dan takut dicegat preman mabuk di jalan. Sedangkan stressor kronis adalah situasi stress yang terjadi berlarut-larut, dalam jangka waktu yang relatif lama, dan penanganannya masih sulit untuk ditemukan. Misalnya nih: ketika anda berada di lingkungan kerja di mana atasan cenderung otoriter dan tidak suportif, ketika anda terlibat hutang dengan bank, atau ketika anda atau anggota keluarga anda mengidap penyakit terminal seperti kanker. Dampak dari stressor kronis ini pun cenderung dalam jangka waktu yang panjang karena akan memperngaruhi banyak aspek lain dalam kehidupan ybs.

Sebenarnya, para ahli pun masih mengalami perdebatan tentang klasifikasi stress. namun demikian penulis buku ini, menyimpulkan bahwa ada 4 tipe stress, yaitu frustrasi, konflik, perubahan, tekanan.

Frustation occurs in any situation in which the pursuit of some goals is thwarted. Artinya gini nih, frustrasi itu muncul bila tujuan yang kita sasar itu tidak tercapai, gampangnya nih, ada perasaan kecewa, dongkol, sebel, menyesal, dan atau bahkan self-blame alias menyalahkan diri sendiri. Intinya, frustasi itu muncul pas kamu pengen sesuatu tapi nggak bisa mencapai itu. Frustrasi yang berkepanjangan dapat mengarah pada hilangnya kesejahteraan hidup seseorang.

Conflict occurs when two or more incompatible motivations or behavioral impulses compete for expression. Konflik itu munculnya ketika kita berada di “persimpangan” alias harus mengambil keputusan, alias bimbang bin galau hehehe.. pertanyaan yang sering muncul biasanya sih “Iya nggak ya??” “Should I or shouldn’t I?”

Live changes are any noticeable alterations in one’s living circumtances that require adjustment. Nah, ini nih kayaknya yang paling relevan dengan kondisi saya nih!🙂 Nah, perubahan dalam hidup menjadi kondisi stress meskipun perubahan yang terjadi adalah perubahan positif, misalnya begini: (dalam kasus saya ya) mendapatkan pekerjaan yang prosepektif menjadi stressor karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan kerja baru, tugas-tugas baru, dan rutinitas baru yang tidak hanya melibatkan saya namun juga seluruh anggota keluarga saya. Jadi, bukan dapat kerjanya yang menjadi stressor, namun perubahan AKIBAT dari mendapatkan pekerjaan baru itu lah yang menjadi stressor

Pressure involves expectation or demands that one behave in certain way. Artinya, kondisi tekanan itu dihadapi invvidu bila ia memperoleh tuntutan atau harapan dari pihak lain yang dibebankan padanya, biasanya sih dari figur yang lebih berkuasa, misalnya orang tua atau atasan. Bisa juga pasangan yang lebih dominan.

Bahasannya sebenarnya masih panjang.. saya lanjut di bagian 2 aja yaaa.. takut malah jadinya membingungkan🙂 Oke, saya istiharat makan siang dulu🙂

One thought on “Stress and its effects

  1. I like your written, but I think..they’re too short…actually I want to know more about what “primer stress and sekunder stres” are. Can U add on your written ? thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s