Kebahagiaan dan strategi coping terhadap situasi stres


—HAPPYNESS
Seligman, tokoh Psikologi Positif, menyatakan kebahagiaan terbagi ke tiga masa, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Masa lalu :
  1. —kepuasan,
  2. —besarnya kepuasan (contentment),
  3. —pemenuhan (fulfillment),
  4. —kebanggaan,
  5. —kedamaian (serenity),
  6. —kesuksesan,
  7. kelegaan.
—Masa kini :
  1. —kenikmatan (pleasure)
  2. —gratifikasi/rasa syukur (gratification).
—Masa depan:
  1. —keyakinan (faith),
  2. —kepercayaan (trust),
  3. —kepastian (confidence),
  4. —harapan,
  5. —optimisme

—Kebahagiaan yang autentik (sejati) yaitu individu yang telah dapat mengidentifikasi dan mengolah atau melatih kekuatan dasar (terdiri dari kekuatan dan keutamaan) yang dimilikinya dan menggunakannya pada kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan, cinta, permainan, dan pengasuhan.

—Tingkat kebahagiaan yang dirasakan seseorang bergantung pada emosi positif yang dirasakan pada masa lalu, masa kini, dan masa depan.
COPING terhadap situasi pencetus STRESS

Stress timbul saat seseorang menerima tuntutan situasi melebihi kapasitas dan  sumber-sumber yang dimilikinya.

Untuk menghadapi situasi pencetus stress, orang melakukan strategi coping.

Coping merupakan mekanisme psikologis untuk menemukan respon adekuat terhadap tuntutan dan tantangan lingkungan, usaha yang melibatkan kognitif dan perilaku, yang disalurkan untuk mengelola tuntutan baik eksternal maupun internal yang menimbulkan tekanan atau dinilai melebihi sumber-sumber pada diri seseorang.

Delapan tipe coping (Lazarus & Folkman, 1984) :
  1. Confrontative coping (strategi coping yang dilakukan secara agresif untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan/membahayakan, berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan)
  2. Seeking social support (strategi coping yang ditandai dengan dorongan untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan mencari informasi dari orang lain yang ada di sekelilingnya)
  3. Planful problem solving (ditandai dengan dorongan untuk berfokus pada masalah dan mencoba untuk membuat perencanaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi)
  4. Self-control (ditandai dengan dorongan untuk meregulasi/mengatur perasaan seseorang)
  5. Distancing (ditandai dengan dorongan untuk melepaskan diri dari permasalahan, atau situasi yang menekan seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi sesuatu atau berusaha membuat pandangan-pandangan positif, seperti menganggap masalah sebagai lelucon)
  6. Positive reappraisal (ditandai dengan dorongan untuk mencari makna positif dari pengalaman yang dialami dengan memfokuskan diri pada pengembangan diri)
  7. Accepting responsibility (ditandai dengan menyadari/mengakui tanggung jawab dan peran diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya menjadi lebih baik)
  8. Escape/avoidance (mencoba untuk memikirkan masalah dari keinginan orang yang bersangkutan/wishful thinking atau dorongan untuk menghindar/lari dari situasi yang menekan, misalnya dengan makan, merokok, alkohol, menggunakan obat-obatan, dan lain-lain).
Tiga coping pertama dikategorikan sebagai problem-focused coping, sedangkan 5 coping terakhir dikategorikan sebagai emotion-focused coping.
***
Kira-kira ada nggak ya, keterkaitan antara coping strategi yang dipilih seseorang ketika menghadapi situasi stres dengan tingkat kebahagiaan yang dirasakannya?
Hipotesis saya sih, ada.
Logikanya gini nih, kalau kita BERHASIL mengatasi masalah, entah itu dari melalui penyelesaian masalah itu sendiri atau pengelolaan emosi saat menghadapi masalah, maka emosi positif akan muncul, misalnya rasa lega, tenang, relaks, dst.
Hanya saja, yang masih menjadi pertanyaan saya, coping itu kan nggak semuanya produktif ya.. bisa juga strategi coping yang dipilih justru kontra produktif😦
Gimana tuh kalau begitu?
Yang paling mudah dijadikan contoh adalah Escape/avoidance. Kalau tiap kali mengalami situasi stress, orang melakukan escaping/avoiding, yang artinya melarikan diri, maka yang ada adalah penumpukan masalah. Kontra produktif tuh kalau begitu kan? Bukannya selesai, masalah akan menjadi semakin rumit dan tak terkendali.
Hmmm… sebuah ide penelitian yang menarik🙂
Yuk, siapa yang mau melakukan penelitian dengan tema ini?

2 thoughts on “Kebahagiaan dan strategi coping terhadap situasi stres

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s