Tertawalah!


Don’t forget to laugh, people! Laugh your mistakes, sure you’ll be less distressed. Laugh your successes, then you’ll get motivated even more😀
 
Saya tulis kalimat tersebut sebagai status di Dei’s Gallery, hari Selasa lalu. Intinya sih tentang humor. Saya teringat Terapi Tawa yang dikembangkan oleh Ibu Prof. Hartanti dari UBAYA. Saya pernah memandu presentasi beliau di Konferensi Nasional IPK (Ikatan Psikolog Klinis) tahun 2010 lalu, sebagai moderator.
 
Humor telah lama digunakan sebagai coping mechanism yakni dalam menghadapi situasi-situasi sulit di kehidupan. Orang yang berhumor akan memandang permasalahannya dari sudut pandang yang berbeda, dan dengan sendirinya akan menurunkan perasaan yang melumpuhkan yaitu rasa cemas dan tidak berdaya. Sense of humor adalah sebuah cara memandang dunia; sebuah ‘gaya’ tertentu, sebagai bentuk perlindungan diri (self-protection) dalam interaksi dengan orang lain.
 
Melalui humor orang dapat mengubah kerangka berpikirnya yang kemudian berpengaruh terhadap kualitas afeksi dan perilakunya. Seseorang yang humoris memiliki kemampuan untuk mengubah sudut pandangnya sehingga ia bisa merasakan adanya jarak antara dirinya dengan situasi ancaman yang dihadapinya.
 
Freud  menyatakan bahwa humor adalah proses mekanisme pertahanan diri yang tertinggi pada manusia. Menurutnya, humor menyediakan penghematan bagi energi emosional; esensi dari humor adalah bahwa seseorang dapat menghindari kemungkinan munculnya tampilan emosional yang buruk. Orang-orang yang humoris dikatakan sebagai orang yang cenderung dapat survive berjuang ‘melawan hidup’.
 
Individu yang mempunyai rasa humor tidak akan mencela situasi dan tidak akan merasa tersinggung apabila orang lain menertawakan kekhilafannya. Sebaliknya, ia akan mengemukakan kesedihan dengan cara yang menggembirakan sebab menurut tanggapannya tidak ada nilai yang mutlak.
 
Dengan humor, ada asumsi bahwa seseorang dapat meningkatkan resiliensinya terhadap situasi stres. Seorang kawan dari UIN Jakarta pernah melakukan penelitian tentang topik ini, meskipun masih merupakan penelitian deskriptif. Resiliensi dipandang hampir sama dengan kekuatan dan fleksibilitas, sebuah kapasitas untuk bertahan dan memulihkan diri dari gangguan terhadap keseimbangan seseorang atau stress berat yang diakibatkan oleh pengalaman yang tidak menyenangkan (seperti trauma, kehilangan harta benda, politik, bencana alam, perubahan budaya).
 
Saya?
Orang pendiam seperti saya ini cenderung menjadi penikmat humor saja🙂
Bu Hartanti waktu itu sempet ngasih kuesioner indikator humoris sih, tapi saya lupa isinya seperti apa. Ada banyak item, hehehee…
Kalau menurut teori, indikator humoris nih:
  1. Humor production, berupa kemampuan kreatif menjadi humoris, membuat lelucon, mengidentifikasi hal yang lucu dalam sebuah situasi serta mengkreasikan dan menghubungkan situasi tersebut dengan cara-cara yang dapat menyenangkan orang lain
  2. Uses of humor for coping, penggunaan humor dalam menghadapi masalah atau mengatasi situasi sulit dengan menggunakan humor
  3. Social uses of humor, bagaimana penggunaan humor yang digunakan individu untuk tujuan sosialisasinya
  4. Attitudes toward humor, sejauh mana sikap-sikap individu terhadap humor dan terhadap orang-orang yang humoris
Saya termasuk orang yang harus belajar melihat dunia dengan berhumor🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s