Accepting feedback


Apa sih feedback?

Feedback dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai umpan balik atau masukan. Feedback biasa kita terima setelah kita melakukan sesuatu atau menghasilkan sesuatu dan orang lain mengapresiasi proses tersebut.

Pernah dengar kata kritik?

Tentunya ya! Saya pribadi jarang menggunakan kata kritik, karena entah mengapa yang muncul di kepala saya adalah konotasi negatif dari kata tersebut yang rasanya membuat tidak nyaman. Heehe, most of us, nggak suka dikritik ya nggak sih?

Menurut saya, hal ini adalah bentukan budaya. Ingat pameo ASAL BAPAK SENANG pada jaman pemerintahan Orde Baru lalu? Kita terbiasa hanya mau menerima masukan yang baik-baik saja dan cenderung bersikap defensif untuk masukan yang -kita persepsi- tidak baik.

Kenapa saya sebut “persepsi”? Ya, karena penilaian baik/tidaknya sebuah masukan adalah hal subjektif yang kita lakukan. Kalau menurut kita baik ya didengar, kalau ndak ya diabaikan, menurut standar kita pribadi. Justru hal inilah yang seringkali kemudian berubah menjadi bumerang. Kita jadi tidak peka untuk melihat KONTEN dari sebuah masukan.

Seringkali kemudian kita melihat SIAPA yang memberi masukan. Pernah nggak, terbersit pemikiran: “Ah, SIAPA sih lo, ngasih tau gua begini begitu?” atau “Emang KAMU sudah bisa apa? sudah lebih baik dari SAYA, kok mau ngasih tau (menggurui)?” ketika ada orang yang memberikan masukan?

Jika pernah, maka anda termasuk orang-orang yang terjebak dalam subjektivitas pribadi. Menurut saya, siapa saja berhak memberikan masukan, asal KONTENnya sesuai. Dalam arti, kalau dalam rangka membahas karya seni, yang diberi masukan ya tentang karya seni, bukan penampilan sang seniman. Kalau membahas pengembangan pribadi, yang diberi masukan ya tentang karakter seseorang bukan tentang kondisi keuangannya.

Masih ingatkah Anda pada film box office Macaulay Culkin, Home Alone 2? Itu lho yang setting-nya sewaktu Kevin McCallister (MC) nyasar di New York? Ada scene ketika Kevin bertemu dengan seorang perempuan tunawisma di taman, lalu mereka berbincang di atap sebuah gedung opera. Sang perempuan bercerita bahwa ia tak pernah lagi berbicara pada orang lain, ia kehilangan keluarga, pekerjaan, dan hidupnya semenjak ia berpisah dengan orang yang dicintainya. Kevin, si anak kecil, memberikan masukan pada sang perempuan tersebut: “Mengapa kau tidak mau mencoba? Hatimu memang patah, tapi setidaknya kau masih punya hati bukan? Cobalah untuk menyapa orang-orang, anggaplah tidak ada yang rugi (nothing to lose) dengan kau berbuat begitu. Jangan tersinggung, dengan tubuhmu penuh dengan kotoran merpati, pasti tak ada orang yang mau dekat denganmu. Kusarankan sebaiknya kau ganti bajumu.”

Kalau sang perempuan ini bersikap subjektif, ia pasti akan marah. “Hei, SIAPA kamu, anak kecil, tahu apa kau tentang kehidupanku?” Mungkin respon itu yang ia munculkan. Tapi, ternyata dalam film tersebut, perempuan tua ini menyikapi perkataan Kevin dengan tertawa, ia melihat KONTEN ucapan Kevin memang benar, tak peduli ucapan tersebut keluar dari mulut siapa.

Untuk dapat bersikap seperti itu, kita memang butuh pola pikir positif. Artinya, kita tekankan pada diri kita, bahwa feedback itu dapat menjadi stimulus bermuatan positif (menyenangkan) atau bermuatan negatif (tidak menyenangkan) tergantung pada cara kita mempersepsinya. Kalau kita merasa orang yang memberikan masukan itu adalah orang yang mau menjatuhkan kita, saingan, atau musuh misalnya, pasti apapun yang ia sampaikan terdengar sumbang di telinga kita🙂 Bisa juga nih, kalau kita mempersespi orang yang memberi masukan adalah orang yang incapable, kita cenderung akan bersikap apatis dan meremehkan masukan tersebut. Yang kita munculkan adalah reaksi defensif, upaya membela diri. Dan pada akhirnya mengabaikan KONTEN dari feedback itu sendiri. Memang sih, perlu berbesar hati untuk menerima masukan. Istilah Jawa-nya, LEGAWA… hehhehee…

Feedback kita butuhkan untuk bertumbuh. Feedback ibarat cermin untuk berkaca. Feedback membantu kita mencapai tujuan.

***

Sedikit cerita dari saya, dulu semasa kuliah profesi, kami serba dinilai mulai dari penampilan, gaya/gerak tubuh (gesture), hingga pemilihan kata dan intonasi suara… hiyaaaa capek deh! Kata supervisor, feedback diperlukan agar kami sadar diri. Gimana nggak bete coba, kami diminta untuk melakukan role play (satu berperan sebagai konselor, satu berperan sebagai konseli) di depan kelas, disaksikan teman sekelas lalu dinilai. Grogi kannnn? Tapi pada akhirnya kami mendapatkan banyak pelajaran dari proses tersebut, kami jadi mengetahui kelebihan dan kekurangan. Yup, jadi SADAR. Istilah kerennya SELF-AWARENESS🙂

Saya jadi tahu kalau berbicara saya cenderung banyak menggunakan gerak tangan, itu bisa menjadi distraktor ketika klien/konseli sedang curhat. Saya jadi tahu, saya berbicara terlalu cepat sehingga sulit dimengerti, saya jadi tahu bahwa pilihan kata saya sangat mengena ketika melakukan summarizing (menyimpulkan isi curhatan), dan banyak lagi pelajaran lainnya🙂

Supervisor saya berkata, feedback itu menyambaikan kelebihan dan kekurangan. Kalau hanya menyebutkan kelebihan, maka itu disebut pujian. Kalau hanya menyebutkan kekurangan, maka itu adalah cacian. Ingatlah bahwa fungsi feedback adalah untuk bertumbuh. Ingatlah bahwa tujuan feedback adalah mencapai hasil yang lebih baik. Please no hurt feeling, those are for your own good.

Itu lah yang saya pegang sampai sekarang.

So, keep up the good work!

***

Nah, kali ini pendapat kalian apa tentang bros ini? Kasih masukan dong….🙂

Ini prosesnya…

Dan ini hasil akhirnya…

Material: druzy agate, kristal, kawat tembaga, kawat aluminium warna🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s