Tree of Life


 

Finally, I try to make one tree of life pendant🙂

Someone from Wire Wrap Jewelry Artists gave me the link to you tube which show me how to make tree of life, so sad that I couldn’t remember her name so I couldn’t thank her😦

Tree of life mengingatkan saya pada teori struktur kepribadian Sigmund Freud. Yaaaa.. tak bisa dipungkiri, saya memang juga banyak terpengaruh oleh beliau dan teori-teori psikoanalisa-nya, meskipun kadang-kadang juga tercampur baur dengan teori dan pendekatan yang lain🙂 Pernahkah anda mengikuti tes seleksi pegawai? Trus diminta menggambar pohon? Itu namanya tes BAUM (sesuai nama penciptanya) dan dasar teorinya ya menggunakan teori psikoanalisa Freudian ini -psikoanalisa nggak cuma dari Freud, ada beberapa murid Freud yang beraliran sama tapi mengembangkan teori baru, ada Jung-ian, Adlerian, Eriksonian, dll. Nggak usah dibahas, nti tambah bingung.🙂

Dalam teori struktur kepribadian, Freud menyebutkan bahwa manusia memiliki 3 struktur dalam kepribadiannya, yaitu Id, Ego, dan Superego. Sudah sering dengar?

Yang pertama… ID… pada gambar pohon, ID dilambangkan oleh AKAR. Inti dari ID adalah LUST, segala sesuatu yang secara instingtif dimiliki oleh manusia dan juga oleh binatang. Misalnya: naluri berkembang biak dan seks, otonomi wilayah dan kekuasaan -jadi inget sofa di rumah kemarin dipipisin sama kucing tetangga, nampaknya dia mau ekspansi wilayah :(- kebutuhan bertahan hidup seperti makan, minum, udara, tempat berteduh, yaahh kurang lebih itu lah…

Yang kedua, EGO. adalah cara-cara yang kita punya dan kita lakukan untuk memuaskan kebutuhan naluriah dan instingtif kita. Di sini, kita sudah berbeda dari binatang karena kita tidak semata-mata dikendalikan oleh naluri saja, tetapi mulai menggunakan otak untuk berpikir dan berperilaku. Pada gambar pohon, dilambangkan dengan BATANG. EGO berkata tentang BISA atau TIDAK BISA.

Yang ketiga adalah SUPEREGO. Superego adalah sekumpulan nilai dan kepercayaan -belief: keyakinan, bukan agama, maksudnya sesuatu yang diyakini- yang menjadi referensi normatif dari setiap keputusan yang kita ambil. Superego berkata tentang BOLEH dan TIDAK BOLEH.

Misalnya begini: ID bilang “aku pengen terkenal sebagai pengrajin perhiasan top” dan EGO mengetahui caranya yaitu dengan belajar dan berkarya, dan SUPEREGO akan menjadi filter untuk setiap perbuatan tidak menyenangkan yang mungkin kita lakukan untuk mencapai keinginan menjadi ARTIS TOP. Superego bilang, jadilah diri sendiri, jangan membajak karya orang, jadilah orang yang sportif, dst.

Weeeelll ini hanya secuplik banget tentang teori Freudian🙂 Sebagai dasar, bolehlah kita bahas dikit-dikit yaaa…

Dan manusia itu memiliki dua macam dorongan, dorongan HIDUP (EROS) dan dorongan MATI/HANCUR (THANATOS). Menurut teori ini, segala perilaku buruk diilhami oleh dorongan MATI karena pada dasarnya semua perilaku buruk itu akan mengarah pada kehancuran, baik itu yang sifatnya menghancurkan diri sendiri (Self-destructive) atau yang menghancurkan orang lain. Sedangkan dorongan HIDUP akan membuat kita terus bertumbuh menjadi individu yang selaras, antara ID, EGO, dan SUPEREGO bekerja secara berdampingan, tanpa ada salah satu atau salah dua yang lebih dominan.

Gangguan patologis muncul manakala terjadi konflik intrapsikis pada individu. Artinya, terjadi benturan kepentingan antara ID, EGO, SUPEREGO yang membuat individu tidak mampu mengarahkan perilakunya dengan baik, tidak mampu mengambil keputusan, dan terlalu banyak menggunakan mekanisme pertahanan diri yang tidak disadari. Mekanisme pertahanan diri (DEFENSE MECHANISM) pada teori Freudian dapat dianalogikan seperti sistem imun yang kita miliki untuk melawan kuman/virus penyakit. Bedanya, mekanisme pertahanan diri  ini melindungi kita dari cedera psikologis.

Wah kok jadi panjang ngomong teorinya… hahahahhahaaa…

Penting bagi kita untuk menyadari mekanisme seperti apa yang kita lakukan saat menghadapi/mengalami cedera psikologis, coba deh saya kasih contoh, yang paling sering ditemui:

  1. DENIAL > menyangkal. “AH nggak kok, saya baik-baik saja.” padahal dia merasa sakit hati.
  2. RASIONALISASI > mencoba mencari alasan/pembenaran.. bahasa gaulnya ngeles. “Ah, aku nggak bisa bikin itu kan karena itu susah”. Rasionalisasi biasanya dilakukan untuk mencari dukungan sosial, atau simply, karena takut disalahkan.
  3. REPRESS > menekan. Wis pokonya apapun yang terjadi, DIAM. Enak nggak enak ditelen sendiri. Biasanya jatuhnya malah sakit fisik, entah yang flu, entah mules, entah jantungan, entah migren, entah insomnia, entah obesitas, entah anemia, entah hiper/hipotensi. FYI, fisik dan psikis itu berkaitan lho…
  4. REPLACEMENT >cari pengalihan, kdang malah nyari kambing hitam.
  5. REAKSI FORMASI > memutarbalikkan fakta/situasi/kondisi agar dirinya merasa aman/nyaman.

Itu hanya beberapa yang populer. Dan sebenarnya, sangat wajar kalau kita melakukan mekanisme ini karena ya itu tadi, ibaratnya ini adalah imun system kita. Tapi yang perlu disadari adalah apakah mekanisme ini efektif atau hanya sebagai pengalihan sementara. Analoginya, sama ketika kita minum antibiotik atau obat penghilang rasa sakit. Seringkali pil-pil itu kemudian malah kontraproduktif karena sebenarnya mereka tidak menyembuhkan penyakit, hanya menekan sementara gejala penyakit yang muncul. Jangka panjang malah membuat kita ketagihan. Begitu juga dengan mekanisme pertahanan diri, perlu direvisi, apakah ini menyelesaikan masalah atau hanya menunda penyelesaian masalah?

Nah, kembali lagi ke Tree of Life..

Sebuah pohon tidak akan kokoh, bila ada bagian tubuhnya yang hilang. Begitu pun dengan diri kita.

Bertumbuh bukan berarti menghilangkan bagian yang tidak kita inginkan dari diri kita, tetapi mengakui, menerimanya sebagai bagian dari diri kita dan beradaptasi dengan kondisi itu, mencari cara yang efektif untuk dapat terus berkembang, tanpa merugikan pihak manapun.

Dorongan instingtif ID bukan berarti buruk (misalnya: seks, keinginan memonopoli, rasa iri, takut, keinginan berkuasa, dsb), hanya saja ia memang perlu dikelola🙂

Dalam istilah kawaters, mungkin perlu modifikasi kali yaaaa…

Seperti ini nih, Tree of Life yang saya modifikasi.. jadi pohon mangga😀

 

Also visit my page at Dei’s Gallery🙂

Happy Free-day ALL!!!

 

 

3 thoughts on “Tree of Life

  1. Mbak, setahu saya, Baum itu bukan berasal dari nama pencipta tesnya, melainkan dari bahasa Jerman yang berarti “pohon”. Mungkin juga saya yang keliru, tolong dicek lagi.
    (kalau kurang berkenan, komentar ini tidak usah dipublikasikan juga tidak apa-apa)🙂

    • Ohh gitu.. hehehe maaf saya sudah banyak melupakan hal pokok nih sepertinya.. lho kenapa nggak dipublikasikan? saya fair-fair aja kok mbak/mas.. malah senang ada yang mengkoreksi ketika saya melakukan kesalahan. Maturnuwun sanget.
      Salam kenal yah🙂

    • Mbak/Mas Numpang Lewat, terimakasih atas koreksinya. Sayangnya anda nggak nyebutin sumbernya ya.. tapi ini sudah saya kroscekkan dengan info dari Wikipedia: “The Baum test, (also known as the “Tree test”) is a projective test developed by German psychologist Charles Koch in 1952. It is used extensively across the world as a method of analyzing an individual’s personality and underlying emotional history.”

      http://en.wikipedia.org/wiki/Baum_test

      Terimakasih sekali lagi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s