KUTGW!!!!


Keep Up The Good Work!

Hari Senin lalu senior saya, Mas Ahmad Irfan, membuat tantangan di grup dengan tema BIZARRE jewelry. Nah, nah… yang pertama muncul di pikiran saya ya alat-alat make up. Dude, they are my wonderfull pieces of collection! Hahahah. Karena beberapa waktu lalu mensortir make up kit yang kadaluarsa dan merapikan kotak perkakasnya, saya jadi tahu mana saja yang masih bisa digunakan untuk merias dan mana yang tidak.

Karya pertama saya untuk tantangan ini adalah sebuah bandul kalung (pendant).

Tuh, pakenya kuas-kuas make up yang sudah nggak kepake lagi🙂 Trus, gara-gara nonton Pirates of The Carribean, jadinya pendant ini bernuansa laut, dengan penambahan kerang dan mutiara. Akhirnya saya namai MERMAID’s BRUSHES🙂 LOVE it!!

Trus ini yang kedua:

Karya kedua ini terinspirasi dari kartun Advanture Time di Cartoon Network🙂 Ada tokoh vampire cewek bernama Marcelline yang dandanannya gothic. Nah, di karya ini saya tambahkan hair pin (jepit rambut), hair net (jaring buat ngerapiin rambut setelah disanggul), dan saya tambahkan shuttle cock bekas punya misua😛 Sebenarnya, ada niatan untuk mewarnai si kok ini dengan sumba, tapi nggak tahu beli sumbanya di mana, berhubung saya di rumah nggak ada kendaraan dan nggak punya duit buat naik taksi (niat bener ya kalo sampai dibela-belain keluar naik taksi!). Jadinya, kok tetap berwarna putih🙂

Dan karya terakhir untuk tantangan ini:

Dibuatnya dari wig pirang (haha!) dan hair pin ukuran kecil🙂 Di karya ketiga ini pengennya bikin se-set dan keluar dari jalur aman (bros dan penydant), jadinya saya buat bangle dan cincin. Karena kehebohannya, saya namai PROM QUEEN😀 Keknya cocok buat dipake pas acarnya prom gitu🙂

Tantangan buat saya sendiri: kira-kira bisa nggak ya karya-karya bizarre ini diminati pembeli?????? Yup. Itu sudah saya pikirkan sejak awal menentukan konsep, saya sih pengennya mereka suka dan tertarik, tapi kembali lagi ya.. masalah seni itu masalah hati…kalau berjodoh pasti tak lari🙂

***

Nah, lesson learnednya apaan?

Ngapain juga musti bikin segitu banyaknya? Mau show off?

Hahahaha, saya sih penasaran dengan diri saya sendiri. It’s all about my world! Yang dipake jadi bahan-bahannya juga kebetulan semua pernak-pernik tata rias saya. Semacam ada tantangan dari diri saya sendiri, can I keep my good work up? Dari sini sih jawabannya iya. Sebodo teuing orang mau bilang apa, it’s not about them, anyway🙂

Otak perfeksionisnya keluar sewaktu mengeset target🙂 Hayo dalam tiga hari bisa nggak bikin karya yang berbeda dan harus selesai sebelum matahari tenggelam? Bukannya apa-apa, saya kan motonya nih pake hp N73 yang pencahayaannya sangat tergantung pada sinar matahari🙂 Kalau sampai telat ambil gambar, jadi telat upload fotonya, jadi gagal menuhin tantangan sehari satu karya🙂

And see the obstacles: lagi serius ngerjain, harus jeda karena Kiddo pengen nenen, atau dia bosen main sendiri, atau dia pengen nyemil/maem/minum, atau waktunya tidur, waktunya mandi sore, waktunya beberes rumah sebelum suami pulang, waktunya ngangkat jemuran trus lipet-lipet baju biar ga menumpuk ga jelas…

Thanks God, saya berhasil!!!!

Senangnya!

Lesson learned-nya kalau kita berusaha maksimal, pasti hasil juga maksimal.

But anyway, masalah hasil, tidak selalu hasil yang kita inginkan sesuai dengan harapan. Itu biasa. Tapi yang perlu ditekankan adalah, apa harapan awal dan hasil akhir itu sesuai? kita harus “setia” pada jalur.

Misalya, gini nih, harapan saya tiap hari berhasil bikin 1 karya, hasil akhir di hari ketiga saya sudah punya 3 karya. Itu cocok/sesuai ya. Cukup. Dan saya tidak perlu pusing mikirin apakah karya saya cukup bagus atau tidak. Itu di luar harapan awal. Kalau saya mikirin itu sekarang, berarti saya tidak objektif pada diri saya sendiri. Dan saya nyari-nyari masalah. Daaaaaan setelah melalui obstacles itu, saya masih bisa berhasil, maka itu adalah sebuah PRESTASI. Prestasi tidak harus selalu diperoleh dari menang lomba ini-itu… prestasi adalah saat kita berhasil menghargai diri sendiri atas apa yang telah kita lakukan. Pengakuan dan apresiasi dari orang lain adalah bonus. Self efficacy (keyakinan diri) adalah kita sendiri yang menentukan🙂 Itu pendapat saya siiiiiiiiiiiihhhh…. heehehehehehheheeee….

JADI, sebelum memutuskan melakukan sesuatu, jangan lupa untuk menetapkan tujuan. Itu adalah “rel” yang akan kita lalui. Kalau ditengah jalan ada gangguan, ingatlah untuk kembali ke jalur semula🙂 That keeps us focus on plan.

I should not focusing on the obstacles (the negative), but focusing on the question of what can I do to maximize my potentials to reach the better outcomes. By thinking like this, I feel proud of my self for every little thing I succeed and generally, it makes me being more positive person than ever.

Nah, ini saya kopikan dari essay saya kemaren yang buat presentasi di depan Dekan dan Panitia Seleksi, saya menyarikan dari laporan penelitian tesis saya tentang terapi naratif. Waktu itu kasusnya adalah Social Anxiety. Maaf nggak diterjemahkan lagi ke Bahasa Indonesia (presentasi dan wawancaranya memang pake Bahasa Inggris) karena waktunya mepet, hehehe… simple aja kok…

  1. What do you want? Write down as much as possible details of your goals from the picture in your head (well, I usually do imagery) and please be specific of what you write there. It helps you to affirm yourself that this is what you really want in your life.
  2. When you already have specific goal and make sure that this is what you really want, and then set the time when you want this become realistic. How long this will take? What will be the evidence when you are making a progress? What would you see, hear, and feel that will prove that you are on the right track and heading towards your goal?
  3. Now, ask yourself, what resources do I need to achieve this goal? You better ask people surround you to give second opinions. Please write it down, make it as clearly as possible, so you know your weakness and strength. You build support team also, from people surround you.
  4. Can you plan a strategy to get things done? Remember to ask feedback and be objective with it.
  5. Can you start the action now? Take the action, take the first step. There are no such things as a failure, there is only feedback. Feedback may be good, maybe bad. The result of our action can sometime different from what we want. Listen to the feedback while changing your approach. It’s not the goal we’re changing but the approach to aim the goal is being changed.
  6. Continually notice the feedback and mini successes that come your way. You must appreciate your self for doing action. As you progress, take a moment and step back, has all this activity generated anything positive? Remember that as soon as you begin to change, others begin to notice. External forces will often try to hold you back.

Nah begitulah…
Jadi memang kita musti fokus dalam melakukan sesuatu, mengupayakan yang terbaik, namun harus tetap bisa objektif menilai dan menghargai diri sendiri🙂

Harapan yang tidak realistis dan mengada-ada akan mengarahkan sifat perfeksionis menjadi perilaku kompulsif! Daannn… jika kita tidak menyadarinya, malah bisa merembet ke pikiran obsesional juga, jadi OCD dah!

Maka dari itu, kenali diri mulai dari sekarang. Tidak harus yang ribet, justru dimulai dari hal yang paling sederhana saja, hal-hal yang selama ini dianggap remeh dan tak berarti🙂

KEEP UP THE GOOD WORK, people!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s