Thanatophobia


Saya tidak suka itu. Saya tidak suka kematian. Saya takut pada kematian meski saya tahu, saat itu pasti akan tiba. Hmmmm… saya bukannya takut mati, saya takut ditinggal orang-orang terdekat saya. Saya takut mereka mati.

Sepertinya ini sudah mulai meningkat menjadi fobia… saya sangat berat hati datang ke upacara pemakaman, ke rumah duka, atau menghadiri acara tahlil orang mati.. saya sempat berat hati juga menjenguk orang sakit.. Bukan karena saya tidak peduli dengan mereka yang sedang bersedih hati, tapi saya takut, takut pada perasaan saya sendiri.. Berlebihan ini (ya iyalah kalau tidak berlebihan mah bukan gangguan namanya)!

Saya mengidentifikasikannya sebagai suatu “hawa” yang menyesakkan yang saya rasakan di dada saya, naik hingga mencekat leher saya, membuat saya ingin menangis..
Sebegitu berlebihan kah saya?

Saya paham bahwa memang seperti itu lah roda kehidupan ini berputar.. satu orang mati, satu orang akan terlahir kembali.. tapi kok ya “hawa” tidak mengenakkan itu tetap saja datang, seolah enggan melepaskan orang yang telah lama diakrabi menghilang dari dunia ini..

Menyusuri setapak yang entah berujung di mana, saya pun tak mengetahui jawabannya.. mungkin nirwana…🙂

Pelan-pelan tapi pasti kita akan sendiri..

Saya menyadari bahwa saya sangat menyanyangi orang-orang yang ada di sekitar saya.. saya bahagia berbagi kehidupan dengan mereka semua, meskipun saya tidak mengenal mereka satu per satu..

Saya ingin memeluk ibu saya, ayah saya, nenek.. semua keluarga yang selama ini menanamkan banyak filosofi hidup.. para guru saya.. saya ingin berterima kasih dan menyampaikan bahwa saya mengasihi mereka semua… Saya ingin memegang tangan lelaki itu dan sekali lagi meyakinkannya bahwa saya mencintainya.. saya sangat mengasihinya (ffiuhh..). Saya ingin memeluk sahabat-sahabat saya dan mengatakan bahwa saya pun menyayangi mereka.
Saya merasakan betapa senangnya memeluk suami saya pagi ini, mencium tangannya ketika ia hendak berangkat bekerja… memeluk bayi saya, menyuapinya, menyusuinya… mendengarnya merengek dan menangis…
Siang ini saya merasakan hawa musim gugur.. saat pepohonan melepaskan dedaunannya jatuh ke bumi dan melapuk.. Sejenak, dalam hidup ini, saya merasa bahwa kita harus bahagia…

Lagi-lagi tulisan aneh… *sigh…*

Saya tiba-tiba merasa sangat sedih..

Kawan SMA saya dikabarkan meninggal dunia pagi tadi karena serangan jantung. Istrinya, yang adalah teman SMA saya juga (bahkan sekelas selama 3 tahun) sedang mengandung. Saya semakin tidak suka kematian. Saya takut kehilangan orang-orang yang saya cintai. tapi waktu terus berjalan dan mereka semakin menua.. (jadi inget nenek, pakdhe, budhe, om-tante, bapak-ibu dosen, suami, anak, sahabat, teman, kenalan, SBY… wahhh, wahh.. paraahhhh)

Yang saya takutkan tentang kematian orang-orang yang saya cintai adalah bahwa saya tidak bisa bertemu dengan mereka lagi. Dunia ini masih ada, semua masih berjalan seperti biasanya, kehidupan terus berlangsung, tapi ada yang hilang.. mereka yang mati tak bisa kembali. Mereka tidak ada lagi. Saya sering mengalami kehilangan orang-orang, tapi setidaknya saya tahu mereka masih hidup, masih ada, masih eksis, masih bisa saya telusuri, masih bisa saya ikuti kabarnya.. tapi kalau mereka mati???

Apa ya ini.. thanatophobia? atau apa? lupa saya apa istilahnya…

Tak heran kalau di literatur religi disebutkan bahwa kematian adalah kiamat kecil…😦 Bagi yang mati, tidak ada masalah. Ia hanya tinggal berurusan dengan Tuhannya. Tidak ada istilahnya mati penasaran. Yang penasaran adalah mereka yang ditinggal mati. Penasaran dengan kesalahan2 yang belum terbayarkan pada si mati, penasaran pada pertanyaan2 yang belum terjawab oleh si mati, penasaran tentang apa saja yang belum dilakukan untuk si mati..

“Mungkin bagi dunia kau hanya seseorang (yang kecil & tak berarti), namun bukan tidak mungkin, bagi seseorang, kau adalah dunianya (yang begitu berarti)”

 

Mungkin si hidup yang penasaran tadi adalah orang-orang yang merasa dunianya hilang bersama matinya si mati. Saya tidak mau ahh..jadi orang yang penasaran. Tapi saya masih tetap takut orang mati. Bagaimana ini? Sejak dulu saya memang tidak suka perpisahan, tidak suka perubahan, maunya captured dalam time capsule yang menyenangkan saja… Hahahahhahahhaha, bodohnya! Tentu itu mustahil! Makanya saya banyak membagi2 dunia saya, tapi kok ya tetap tidak rela melepas dunia😦

Saya tampaknya mulai berlebihan menganalisa hal ini… tapi mungkin tahap ini adalah tahap saya semakin mengenali diri saya.
One more mystery have been revealed.
but the case isn’t closed

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s