Perempuan Kedua


“Aku adalah seorang ibu. aku tidak akan bertindak bodoh dengan mencintai laki-laki lain yg bukan suamiku. aku tidak mau anakku mengenalku sebagai perempuan bejat, meskipun sekarang dia tidak tahu.”

 

Perempuan itu duduk termenung menghadap jendela kaca di depannya. Wajahnya kusam, rambutnya tergerai kusut masai, tatapan matanya menerawang jauh..menembus rinai hujan, entah kemana. Pikirannya terus digelayuti seribu pertanyaan yg ingin dia sampaikan pada perempuan keduanya…perempuan yg tidak ia kenal namun telah masuk ke ruang perkawinannya yg ia tahu dulu bahagia.

Perempuan kedua itu seorang janda. Janda yang jatuh cinta pada suaminya.

“Aku adalah seorang ibu. Aku tidak akan bertindak bodoh dengan mencintai laki-laki lain yang bukan suamiku. Aku tidak mau anakku mengenalku sebagai perempuan bejat, meskipun sekarang ia tidak tahu.” Begitu batinnya bicara.

Sayang, apa yang dipikirannya tak sejalan dengan apa yang dipikirkan oleh perempuan kedua itu. Ia tahu bahkan perempuan itu tak hendak menyerah merebut suaminya. Astaga! Dunia pasti sudah gila!

***

 

‎”Apa yg salah pada diriku?”

Berulang kali pertanyaan itu muncul dan selalu saja ia enggan menjawabnya. Perempuan itu yakin tidak ada yg salah dg dirinya. Ia berbakti, ia setia. Air mata itu sudah berhenti mengalir, entah sejak kapan. Mungkin sejak ia tak lagi berminat untuk makan. Begitulah hari-harinya kini. Entah apa lagi yg dapat menggugah bibirnya untuk tersenyum kembali. Ia seperti batu, diam dan bisu. Hanya pikirannya yg berlalu lalang, sibuk mencari dan menggali simpul-simpul kenangan yg telah membeku.

“Apa salahku padanya? Bukankah kami sama-sama perempuan?”

***

Laki-laki itu memegang tangannya. Ia tak dapat mengelak, dibiarkannya tangan itu menggenggam erat kedua tangannya. Sebenarnya pun tak ingin ia jauh dari laki-laki ini, laki-laki yang telah bersamanya lebih satu dasawarsa. Laki-laki yang selama ini ia sebut suami, laki-laki yang ia cintai.

“Hidupku hanya untukmu dan anak-anak kita.” Kata lelaki itu padanya, “Aku tidak ingin mengurusi urusan orang lain yang tidak penting bagiku.”

Ia ingin sekali mempercayai kata-kata itu, namun dalam hatinya ia masih menyimpan ragu. Siapa perempuan kedua itu?

***

Suaminya menolak keberadaan perempuan itu. Bahwa segala tentang perempuan itu tak berkaitan dengannya. Perempuan itu gila! Dan harusnya ia percaya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s