Psychopathic Partner


Psychopathy (/sˈkɒpəθi/[1][2]) is a mental disorder characterized primarily by a lack of empathy and remorse, shallow emotions, egocentricity, and deceptiveness. Psychopaths are highly prone to antisocial behavior and abusive treatment of others, and are very disproportionately responsible for violent crime. Though lacking empathy and emotional depth, they often manage to pass themselves off as normal people by feigning emotions and lying about their pasts.

 

Definisi ini saya peroleh dari wikipedia, karena saya merasa perlu untuk memastikan gejala-gejala yang saya temui itu akan pas dengan diagnosis apa.

Ini adalah kisah dari seorang klien saya newly-wed-couple, si istri yang mengeluhkan “merasa tersakiti” oleh suaminya. Saya identifikasi lagi keluhan si istri tersebut…muncullah beberapa fakta yang menurut saya dapat saya masukkan dalam kategori abusive behavior, meskipun tak nampak secara harfiah akibat dari abusive behavior tersebut.

Memang lah sulit… bagaimana kita hendak membuktikan kekerasan psikologis seperti: berbohong, memanipulasi aktivitas (melarang pergi ke luar rumah tapi tidak secara langsung mengemukakan alasan), menggelapkan uang, berselingkuh, memojokkan istri sehingga justru istri yang kemudian merasa bersalah…

hmmm…

Saya perlu mengecek lagi bagaimana pola hubungan mereka selama ini, karena jangan-jangan si istri juga “menikmati” disakiti oleh si suami yaa…tanpa ia sadari dapat erjadi seperti itu lho..

Logikanya begini:

Ketika kita menghadapi masalah, kita akan merasa tangguh ketika berhasil melewati masa-masa berat itu dan berhasil menyelesaikan masalah. Pada sebagian orang, ia merasa “kecanduan” untuk mampu tampil sebagai pribadi yang tangguh.

 

Pernah baca novel Clara Ng yang berjudul Tea for Two? Hmmm cerita nya mirip seperti itu. Teman-teman yang berminat untuk mengetahui isi novel ini silakan bergabung di goodreads.com.

Untuk si suami… Nggak tahu deh, musti ngomong apa… kalau ngomongin teori sih gampang, tapi menghadapi fakta sebenarnya di lapangan itu yang susah. Tentu yang namanya gangguan psikologis slalu memiliki tingkatan ringan (mild), sedang (moderate), dan parah (severe)… tapi bagi orang awam, pasti tidak mudah untuk mendeteksinya kan?

Sekarang, nama lain dari gangguan psikopat adalah gangguan kepribadian antisosial. Judulnya sih antisosial, tapi biasanya penderita gangguan ini mudah sekali beradaptai dan berkamuflase di lingkungan pergaulan sosialnya. Ia akan terlihat sangat mempesona dan begitu mudah dicintai (lovable).

Seram???

Begitulah…

Memang benar kata sebagian orang yang skeptis terhadap perkawinan, bahwa menikah itu sama seperti membeli kucing dalam karung. Terkadangkita tidak tahu pribadi seperti apa pasangan yang kita nikahi itu sesungguhnya…semua terkuak ketika sumpah sehidup semati itu telah diikrarkan.

Lantas bagaimana?

Hmmm…menikah itu butuh dua orang kan ya? It takes two to start the tango, kata orang barat bilang. Jadi, kalau terjadi apa-apa di dalam perkawinan, ya dua orang yang terlibat di dalamnya harus ikut berperan.

Peran seperti apa?

Masing-masing diri pasangan lah yang mengerti jawababnnya. Tapi mungkin pertanyaan-pertanyaan seperti ini dapat menjadi trigger refleksi diri:

Bayangkan bila esok pagi kau bangun dari tidur, dan menemui bahwa masalahmu terlesesaikan dengan ajaibnya. Akan seperti apa hidupmu saat itu?

****

Nah, apa yang dapat kau lakukan sekarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s