FORGIVING is a must?


Apakah memaafkan itu adalah suatu keharusan?

Hmm… trending topic beberapa hari selama sepekan terakhir adalah tentang Lebaran dan hal yang terkait dengan Lebaran salah satunya adalah kegiatan maaf-memaafkan🙂

Tapi, sebenarnya, inti dari berlebaran itu bukan pada kegiatan maaf-memaafkan, melainkan lebih pada kegiatan silaturahmi dan anjangsana ke kerabat dan famili –walaupun memang, kita selalu mengatakan pada semua orang yang kita temui: “Mohon maaf lahir batin yaa…”

“Memaafkan” merupakan suatu proses psikologis dalam diri individu terkait dengan peristiwa tidak menyenangkan yang pernah dialaminya, dapat berupa proses aktif (memaafkan orang lain/hal di luar diri) atau proses pasif (memaafkan diri sendiri). Jika terkait dengan proses psikologis dalam diri (inner process), tentunya hal ini tidak mudah.

Dalam paradigma psikopatologis aliran Psikoanalisa, peristiwa tidak menyenangkan dalam hidup manusia dapat menjadi penyebab munculnya gangguan kejiwaan, jika tidak diatasi atau diselesaikan. Istilahnya, masalah tersebut menjadi unfinished business (masalah yang tidak selesai), biasanya akan muncul kembali dalam bentuk mimpi buruk, perasaan tertekan/tidak nyaman, depresi, kondisi sulit tidur atau insomnia, dan lain-lain. Begitu dalamnya kesan menyakitkan dari pengalaman tidak menyenangkan tersebut sehingga hal tersebut terekam dalam memori sebagai traumatic event (peristiwa traumatik).

“Memaafkan” adalah salah satu cara untuk bebas dari beban trauma masa lalu.

Mengapa demikian? karena “Memaafkan” adalah jembatan utama untuk proses penting lainnya dalam diri, yaitu “Menerima”. Menerima bahwa peristiwa traumatik itu benar-benar terjadi dan tidak dapat dihindari atau diperbaiki, menerima bahwa ingatan menyakitkan tidak dapat dihapus, menerima bahwa hidup kita harus tetap berjalan dengan baik dan sehat di masa depan.

Setahun lalu saya memimpin sebuah kelompok kecil terapi dengan topik pemaafan pasca-perceraian, pesertanya adalah perempuan-perempuan yang pernah mengalami KDRT dan pada akhirnya memilih untuk berpisah/bercerai. Saya mendapat banyak pelajaran dari kelompok tersebut, karena memang sebenarnya saya pribadi juga memiliki traumatic event yang sama dengan mereka: perselingkuhan dan rasa sakit yang membuat saya terjebak dalam masa lalu dan sulit untuk memaafkan diri saya sendiri serta orang yang telah menyakiti saya.

For God sake, itu sangat nggak sehat!

Meskipun saya tahu itu tidak sehat bagi kondisi kejiwaan saya, tidak mudah bagi saya untuk benar-benar melepaskan diri. Terutama jika muncul tekanan dari “tokoh antagonis” yang setiap kali setelah melakukan kesalahan berkata, “AKu kan sudah minta maaf, berarti masalahnya sudah selesai kan? TIdak perlu diungkit lagi.”

Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah memaafkan itu suatu keharusan?

Ya. Saya menjawab seperti itu pada saat anggota kelompok terapi bertanya pada saya tentang hal itu. Saya berkata, itu keharusan bukan untuk orang lain, apa lagi untuk orang yang telah menyakiti kita, tetapi KEHARUSAN BAGI DIRI KIRA SENDIRI AGAR KITA TERBEBAS DARI BELENGGU RASA SAKIT HATI”

Saya akui, saya sulit untuk memaafkan..dan saya tidak mau merasa bersalah karena hal itu. Saya akui, saya (masih) sakit hati.

Inti dari pernyataan diatas adalah sikap terbuka dan menerima, memaafkan diri sendiri, bersabat dengan diri sendiri… apapun yang sedang dirasakan saat ini, kita harus berani mengakui.

hahahaha, saya ini nulis apa sih? Sepertinya tidak sistematis yaa..maklum, curcol, begitu🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s