Tanggapi Tawaran Gratis, Konsumen Wajib Kritis


Beberapa waktu lalu, saat saya di rumah, kebetulan Ibu saya memperoleh sebuah undangan untuk menghadiri acara pembagian hadiah (doorprize) yang disponsori oleh sebuah toko peralatan rumah tangga yang baru dibuka di kota saya. Karena penasaran, Ibu mengajak saya memenuhi undangan tersebut. Selain Ibu, beberapa tetangga kami juga memperoleh undangan serupa.

Pada hari dan tanggal sesuai undangan, kami datang ke tempat yang telah ditentukan. Setiba kami disana, ternyata telah banyak para tamu undangan lain yang telah datang. Beberapa diantara mereka mengomentari acara yang digelar. Sebagian besar dari para undangan tampaknya menyangsikan ketulusan perusahaan membagikan produk secara gratis. Dan keraguan tersebut terbukti ketika salah seorang karyawan membuka acara dan menyampaikan maksud diadakannya acara ini.

Ternyata, karyawan itu memberitahukan bahwa tamu undangan memang benar akan memperoleh hadiah. Syarat yang harus dipenuhi untuk membawa pulang hadiah tersebut sangat mudah. Para undangan cukup menunjukkan KTP dan kartu undangan, serta membeli barang lainnya yang ada di kios. Misalnya, kalau membeli alat pemanas air (dispenser), maka hadiah berupa alat pembuat jus manual boleh dibawa pulang dengan gratis. Serempak terdengar gemuruh suara tamu yang menandakan protes dan kekecewaan.

Begitu mendengar penjelasan yang disampaikan, satu demi satu para tamu undangan segera meninggalkan kios. Ada yang berwajah masam, ada pula yang hanya senyam-senyum karena baru sadar telah “dikerjai” pihak toko yang mengadakan promosi produk peralatan rumah tangga. Beberapa orang tetap dengan kepala dingin mengikuti acara hingga selesai. Kami akhirnya memutuskan untuk membeli seperangkat panci presto dengan bonus sebuah wajan teflon, gratis. Walaupun tidak sebagus merek terkenal, peralatan baru kami memberikan manfaat yang cukup memuaskan.

* * *

Jika hasil yang kami peroleh cukup positif, mungkin bagi para undangan yang lainnya (khususnya yang terlanjur mengharapkan barang gratisan), pengalaman seperti ini dapat menjadi pengalaman yang mengecewakan. Terus terang, dengan cara promosi seperti ini, Ibu dan saya pun sempat kecewa dan merasa tertipu namun dengan mencoba memahami apa yang hendak disampaikan oleh pihak toko, kekecewaan tersebut dapat kami atasi dengan cukup rasional. Karena memang membutuhkan barang-barang tersebut, maka kami memutuskan untuk membelinya.

Menurut beberapa pengamat sosial-ekonomi, biasanya praktik ini dilakukan dengan menggunakan Customer Data Base (CDB). Dari data itulah perusahaan mencoba menarik minat konsumen dengan memberikan iming-iming bonus, diskon, atau janji-janji muluk agar tertarik. Namun yang membuat heran setelah ditindaklanjuti informasi tersebut, ujung-ujungnya konsumen dikenakan biaya atau bahkan harus membeli sebuah produk dahulu.

Pertanyaan yang mungkin timbul adalah darimana pihak toko mengetahui nama dan alamat orang-orang yang selanjutnya dikirimi undangan? Data yang diperoleh biasa datang dari sebuah institusi yang menjadi rekanan perusahaan tersebut yang sama-sama saling menukarkan data pembeli potensialnya. Misalnya saja dari sebuah Bank. Melihat hal ini, penyalahgunaan data bisa saja terjadi. Namun, pihak yang membocorkan data tersebut tentu saja tak mau tahu, apalagi harus bertanggung jawab jika terjadi penipuan atau praktik pemasaran yang menyesatkan. CDB ini meski melanggar hak privasi konsumen, namun secara etika pemasaran dibenarkan.

Dan sebenarnya dalam memperlakukan konsumen diperlukan etika bisnis yang tak merugikan. Jika selama ini produsen hanya berpikir bagaimana barang dan jasa ini bisa laku, itu salah. Karena sikap kritis konsumen dapat berbalik menyerang para pengusaha/produsen. Berapa besar biaya promosi yang dilakukan secara gencar dan berapa besar juga kerugian yang dialami jika perlakukan terhadap konsumen kurang memuaskan? Karena biasanya rasa kecewa ini akan menyebar dan menjadi bumerang bagi kelangsungan daur hidup produk tersebut. Citra perusahaan akan ambruk dan perlu biaya promosi cukup besar untuk memulihkan nama baik tersebut.

* * *

Dalam konteks ini, disadari atau tidak, perempuan lebih banyak memainkan peranan dalam keuangan dan belanja rumah tangga, baik secara langsung menjadi pelaku atau hanya memberi peluang pada anggota keluarga lain untuk bertindak sebagai konsumen. Untuk itulah perlu pemberdayaan bagi ibu-ibu rumah tangga yang kerap tertipu dalam berbagai kasus berkedok undian berhadiah ini. Dengan menyebarluaskan informasi yang sepatutnya diketahui konsumen.

Berdasarkan UU nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (PK), konsumen sepenuhnya memiliki hak atas kenyamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan jasa. Begitupun dalam cara penyampaian informasi, produsen berkewajiban menyampaikan informasi yang benar, jelas, serta jujur mengenai kondisi barang dan jasa berikut jaminannya (Pasal 8). Dalam hal ini konsumen terkadang diperlakukan secara sepihak. Jika menyadari akan hak-haknya, maka kerugian bisa diminimalkan. Konsumen harus kritis pada produsen dari setiap barang yang dibeli. Bahkan jika merasa dirugikan bisa diajukan tuntutan. Selama ini konsumen sering mangalami kerugian dalam pembelian barang dan jasa. Konsumen terpaksa mengalah bila berhadapan dengan pengusaha, meskipun mendapatkan produk atau layanan yang buruk.

Konsumen juga berkewajiban membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang dan jasa, sebagaimana diatur dalam pasal 5 UU PK. Perlu kejelian konsumen dalam memutuskan membeli sebuah produk. Jangan sampai terjebak. Informasi yang diberikan pada suatu produk harus benar-benar disimak dan diteliti. Termasuk pemberian cuma-cuma, pemberian kupon/voucher, atau garansi.

Pemberian hadiah adalah trik pemasaran agar mendapatkan attention, yang selanjutnya mendapatkan interest dari konsumen hingga melakukan action membeli. Untuk menarik minat (attention), boleh jadi diskon besar-besaran atau menjanjikan barang gratis sebagai hadiah. Upaya ini dilakukan agar konsumen tergerak untuk mengetahui informasi tentang produk lain yang disembunyikan untuk nantinya ditawarkan agar dibeli. Jika membeli barang tersebut baru mendapat hadiah. Cara dagang tersebut boleh. Tidak menipu konsumen. Karena memang tidak diwajibkan beli. Selama hadiah yang menjanjikan itu benar-benar ada dan diberikan itu tak masalah. Baru kalau hadiah itu sudah dijanjikan gratis, kemudian tidak diberikan itu menyalahi.

Selama ini di Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur etika bisnis dalam pemasaran produk. Sehingga dengan mudah konsumen terjebak oleh keadaan yang merugikan. Disinilah peran serta Lembaga Konsumen yang harus benar-benar memberikan arahan pada konsumen untuk bersikap kritis.

Dalam strategi pemasaran dikenal istilah konsep penjualan, dimana upaya produsen yang sangat gencar dalam melakukan promosi dan penjualan untuk menjemput konsumen. Biasanya ini dilakukan pada produk-produk yang “tidak dicari”. Produsen harus mememiliki berbagai teknik penjualan yang sempurna untuk mendapatkan pembeli potensial. Dengan cara menjualnya berdasarkan manfaat produk tersebut, yang dilakukan melalui advertising (periklanan) atau surat. Konsep penjualan ini biasanya dilakukan sangat agresif, sehingga tak jarang produsen memberikan diskon atau produk gratis. Padahal, jika konsumen jeli, semuanya biaya yang dipotong atau diberi cuma-cuma itu masuk dalam hitungan biaya produk lainnya.

 

Referensi:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s