Darling, it feels like I’m gonna loose you


Ada dua hal yang dianggap penting dan sering dibahas dalam hubungan interpersonal, yaitu bagaimana membuat hubungan tersebut menjadi menyenangkan dan bagaimana cara mempertahankannya.

Dalam hal ini, perkawinan merupakan salah satu bentuk hubungan interpersonal yang diakui oleh seluruh umat manusia di dunia.

Perkawinan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, baik untuk memenuhi kebutuhan fisik – biologis maupun kebutuhan psikologis. Ditinjau dari sisi psikologis, perkawinan merupakan suatu pernyataan dari dua pribadi yang unik dan merupakan dasar formal untuk membentuk kehidupan keluarga. Peristiwa ini bukanlah akhir dari perjalanan kehidupan sebagaimana pameo yang sering ditemui pada kisah dongeng klasik, tetapi awal untuk melalui kehidupan selanjutnya, karena dalam perkawinan lah seseorang harus bekerja keras mewujudkan harapannya membentuk keluarga yang bahagia bersama laki-laki atau perempuan yang telah dinikahinya.

Perkawinan juga merupakan bagian integral dan merupakan dasar dari suatu keluarga. Fungsi keluarga salah satunya adalah fungsi marital yaitu masing-masing pihak baik suami maupun istri, dalam perkawinannya, harus mengusahakan agar perkawinan mereka tetap memuaskan. Struktur keluarga yang mulanya terdiri dari dua orang saja (suami – istri) kemudian biasanya bertambah banyak dengan lahirnya anak sebagai keturunan mereka.

Di zaman kini, peran di dalam sebuah rumah tangga sudah mengalami banyak perubahan. Banyak istri yang bekerja di luar rumah, mencari nafkah bersama dengan suami. Ketika waktu bergulir ke zaman globalisasi seperti saat ini, pasangan suami – istri bahkan ada yang tak tinggal serumah lagi, entah karena tugas kerja atau hal lain. Ada pasangan yang berpisah untuk jangka waktu lama. Ada yang berpisah kota, banyak pula yang pisah negara. Istilah bujang lokal atau lajang lokal sering ditujukan bagi mereka yang karena suatu sebab harus berpisah dengan pasangan hidupnya (Surono, 2005). Situasi seperti ini membawa mereka memasuki suatu perkawinan yang berbeda dari perkawinan pada umumnya, yaitu perkawinan jarak jauh (PJJ).

Menanggapi fenomena diatas, ada baiknya untuk diingat kembali apa arti perkawinan.

Perkawinan terjadi karena dua orang berlainan jenis kelamin bersama-sama sepakat untuk saling berbagi kehidupan (Surono, 2005).

Setiap pasangan tentunya secara fisik hidup bersama, tidak berada dalam perkawinan jarak jauh. Kebersamaan itu menjadi penting mengingat dalam kesehariannya mereka akan berhadapan dengan banyak perbedaan yang harus dipertemukan dan memerlukan kompromi. Kedekatan secara fisik memungkinkan pasangan suami – istri mendekatkan diri secara mudah.

Dalam sebuah perkawinan, komunikasi yang intens dan berkualitas antara suami – istri mutlak diperlukan karena hal inilah yang selanjutnya akan sangat mempengaruhi kedekatan mereka secara fisik dan psikologis. Masalah seputar hal ini kerap pula muncul pada hubungan perkawinan jarak jauh. Bagi pasangan yang menikah, adalah penting untuk memiliki ruang waktu dan emosi untuk bisa saling bertukar cerita, mengungkapkan isi hati baik dalam bentuk pujian, kritikan atau sekedar cerita berisi kesenangan maupun keluh kesah atas peristiwa yang dialami sehari-hari. Kesulitannya adalah, pasangan PJJ tidak dapat melakukan komunikasi dyadic (tatap muka).

Kondisi ini dapat mengarahkan pasangan pada komunikasi yang tidak efektif dan dalam jangka panjang dapat menimbulkan ketegangan dalam perkawinan (marital strain).

Penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Gottman & Notarius (2000) membuktikan bahwa cara pasangan berkomunikasi dapat digunakan sebagai prediktor keberlangsungan perkawinan mereka. Pendapat ahli sosiolinguistik, Deborah Tannen (1998) mendukung bukti yang diperoleh Gottman & Notarius mengenai betapa pentingnya menjaga komunikasi yang berkualitas dengan pasangan. Tannen menyebutkan bahwa laki-laki dan perempuan memiliki gaya komunikasi yang berbeda dan diperlukan penyesuaian agar keduanya memiliki kesepahaman.

Ada kegamangan dalam menghadapi perkawinan jarak jauh, itu pasti.

Meski demikian, jika dicari solusi yang terbaik, semua akan relatif aman-aman saja. Selama mampu menyiasati, tentunya hal tersebut tidak akan menjadi kendala di dalam rumah tangga.

Menjaga komunikasi agar tetap berjalan dengan lancar, menjauhkan diri dari prasangka negatif, selalu memberikan perhatian dan mengurangi perselisihan, melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk mengusir rasa sepi, dan mendiskusikan kehidupan seksual berdua adalah beberapa cara yang dapat ditempuh oleh pasangan yang sedang berada pada kondisi keterpisahan dalam PJJ. Lepas dari itu semua, masing-masing pasangan dengan ‘perbedaan individual’nya, pasti memiliki pemahaman yang beragam atas kondisi perkawinannya, begitu pula dengan bentuk perilaku coping apa yang akan dilakukannya saat menghadapi kondisi tersebut.

Bagaimana menurut anda?

*curhat nih😛

Sumber bacaan:

  • Gottman, J. & Clifford I. Notarius. 2000. “Decade Review: Observing Marital Interaction”, Journal of Marriage and the Family, vol.62, No.4, hlm. 927–947. http://apt.allenpress.com/aptonline/?request=get-abstract&issn=0022-2445&volume=062&issue=04&page=0927, diakses tanggal 9 Mei 2006.
  • Tannen, Deborah. 1998. Anda Hanya Belum Paham. Alih bahasa: Sumarjinah S. Jakarta: Kentindo Soho.
  • Surono, YDS Agus. Bila Pasangan Terpaut Jarak (Artikel). Majalah Intisari edisi Healthy Sexual Life. Agustus 2005. Jakarta: PT. Gramedia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s