katakankatamu


KIAT BERBICARA

Mengungkapkan perasaan dan pikiran secara lisan dalam komunikasi suami-istri bertujuan “agar pasangan mengenalku lebih baik”. Dengan demikian, fokusnya pada “siapa aku” >> semakin berani aku membuka diri, maka semakin mudah bagi pasanganku untuk mengenali diriku.

Tentu saja ada resiko penolakan.. Oleh karenanya, diperlukan keterampilan membuka diri agar pasangan menerima kita. Keterampilan tersebut disarikan ke dalam 10 langkah berikut ini:

1. UNGKAPKAN MAKSUD ANDA DG JELAS

Apa yang ingin anda ungkapkan haruslah jelas: perasaan, pikiran, harapan, keinginan, atau kebutuhan.

Rumuskan dengan lugas apa maksud anda. Contoh:

“Aku sedang jengkel sekali..” >> perasaan

“Aku pikir kau sudah membereskan semua urusan rumah.” >> pikiran

“Aku sangat membutuhkan dukunganmu saat ini.” >> kebutuhan

Ingatlah bahwa tujuan anda berbicara adalah “agar dapat dimengerti oleh pasangan” dan bukannya “untuk membingungkan pasangan”.

2. UNGKAPKAN PERASAAN >> LISAN

Faktor eksternal—termasuk pasangan—memang dapat memicu munculnya perasaan negatif, namun bukan ia penyebabnya. Perasaan negatif itu muncul secara spontan, bahkan anda sendiri kadang tidak menyadarinya.

Lebih baik anda mengungkapkan perasaan secara lisan daripada anda bereaksi melalui perbuatan.

Katakan, “Aku sedang marah sekarang.” daripada anda membanting pintu keras-keras.

3. UNGKAPKAN PIKIRAN DG LUGAS

Ungkapkan pendapat atau pikiran anda dengan jelas beserta alasan-alasan mengapa anda berpendapat begitu.

Yang sering mengganggu adalah ketika mengungkapkan pendapat disertai omelan. Pasangan akan menentang bukan karena tidak setuju dg pendapat anda tetapi diserang, dihakimi, bahkan dihina.

Dalam hubungan suami-istri, tujuan utamanya bukan “kalah-menang”, melainkan “agar pasangan mengerti pendapatku.”

4. CARI WAKTU YANG TEPAT

Apabila anda ingin menyampaikan masalah yang serius atau perasaan yang dalam, tanyakan apakah pasangan bersedia mendengarkannya.

Hal ini penting agar komunikasi tidak menjadi ajang “pembuangan sampah” atau bahkan “ajang untuk saling menyakiti”.

5. JANGAN MENUDUH

Ingatlah tujuan anda ketika mengungkapkan pikiran atau perasaan! Anda ingin menyampaikan; “inilah aku”. Jika anda menuduh pasangan, berarti anda mengatakan: “Kau seperti itu.”

Tuduhan hanya didasarkan pada kepentingan pribadi yang takterpenuhi, jadi kebenarannya sangat diragukan. Akibat dari tuduhan >> pasangan akan terluka karena merasa tidak seperti yang dituduhkan.

6. JANGAN BERBOHONG

Pasangan yang dibohongi akan merasa dikhianati dan dirusak kepercayaannya.

Relasi suami-istri tanpa saling percaya ibarat bangunan dengan fondasi yang rapuh, pasti akan mudah roboh.

7. JANGAN MENDUA

Ketika menginginkan sesuatu atau perlu menyampaikan sesuatu, sampaikan dengan jelas dan tulus. Jangan mengatakan “terserah” jika hanya karena takut ditolak oleh pasangan. Jangan berpura-pura. Fokuslah pada apa yang hendak disampaikan, ja-ngan bercabang pada kepentingan yang lain.

8. JANGAN MEMOJOKKAN

Dengan memojokkan pasangan, mungkin keinginan anda akan terpenuhi, tapi pasangan akan merasa tidak dihargai.

“Memojokkan” berarti menimpakan tanggung jawab pada pasangan, atas keputusan anda yang sepihak sehingga pasangan tidak mempunyai pilihan yang lain.

9. JANGAN “MENGALAH”

Hambatan besar untuk berani terbuka adalah “takut ribut” dan mengembangkan sikap “mengalah” sebagai hal positif.

Bagaimana pasangan mampu memenuhi harapan dan kebutuhan anda jika anda tidak membuka diri?

Menyimpan pikiran dan perasaan terus menerus dengan dalih “daripada nanti ribut” akan membuat pasangan tidak bisa mengenal siapa anda sebenarnya.

10. JANGAN MEMAKSAKAN KEHENDAK

Komunikasi suami-istri harus dilakukan demi menjaga hubungan, bukan untuk “memenangkan” sesuatu.

Dalam komunikasi suami-istri, yang dapat kita lakukan hanya membuka diri sehingga pasangan me-ngenal siapa kita, dapat mengerti harapan, keinginan, kecemasan, dan kebutuhan kita.

Pasangan tetap BEBAS. Kita tidak bisa memaksa pasangan untuk memenuhi hal-hal tersebut. Yang dapat kita lakukan adalah “berusaha agar layak dicintai dan dihargai” oleh pasangan.

Sumber:

Subianto, P. 2003. Panduan Praktis Komunikasi Suami-Istri. Jakarta: Gramedia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s