Strategi Coping Menghadapi Stres


Semua orang pasti pernah mengalami peristiwa yang membuatnya merasa tertekan atau stres, misalnya saat menghadapi ujian, melakukan wawancara pekerjaan, bertengkar dengan orang tua, saudara atau bahkan pasangan. Sebagian besar dari mereka akan melakukan coping ketika menghadapi masalah-masalah tersebut dengan cara-cara yang efektif seperti halnya melakukan manajemen stres (Aldwin, 1994 dalam Martin & Pear, 2003).

Strategi coping berkaitan dengan bagaimana seseorang menghadapi masalah, persoalan, dan hambatan dalam hidupnya.

Terdapat dua fungsi coping yaitu emotion-focused coping dan problem-focused coping. Emotion-focused coping ditujukan untuk mengontrol respon emosional terhadap situasi stres dan digunakan ketika seseorang merasa tidak dapat mengubah kondisinya sedangkan  problem-focused coping ditujukan untuk mengurangi tuntutan dari situasi stres dan digunakan ketika sumber stres dapat dimanipulasi dan diubah (Lazarus & Folkman dalam Sarafino, 1998).

Bagaimana dengan kamu?

Strategi apa yang biasanya kamu lakukan?

Pergi dengan teman? Curhat? Nge-mall? Merokok (atau bahkan minum alkohol -aduh yang ini jangan ya!)? Belanja-belanji? Tidur seharian? Makan yang enak-enak? Pergi ke pantai atau hiking? Bersih-bersih kamar/rumah? Ngamuk-ngamuk ke semua orang yang ditemui?

Bentuk coping yang dilakukan tiap individu dapat berbeda. Sarafino (1998) menyebutkan perilaku coping antara lain menganalisa dan memperbaiki masalah (planfull problem solving), bersikap asertif namun kadang disertai amarah dan mengambil resiko mengubah situasi (confrontative coping), mencari dukungan sosial, berusaha secara kognitif melepaskan diri dari situasi dengan pandangan positif (distancing), bertindak menolak atau keluar dari permasalahan (escape avoidance), berusaha mengontrol perasaan atau tindakan yang berhubungan dengan masalah (self control), menerima tanggung jawab, berusaha menciptakan makna positif dari situasi yang menekan (possitive reappraisal), mengekspresikan emosi (emotional discharge), mengambil manfaat yang baik dari situasi yang buruk (cognitive redefinition), mendistorsi memori atau realitas dengan mekanisme pertahanan diri.

Sebenarnya, ada banyak sekali yang dapat dilakukan saat mengalami kondisi stress…yang paling mudah adalah melakukan relaksasi. Relaksasi ada tiga macam yang lazim diterapkan, ada relaksasi nafas, relaksasi otot, dan relaksasi pembayangan (imagery).

  1. Relaksasi nafas dapat kita lakukan dengan menarik nafas dalam-dalam melalui hidung dan menghembuskannya secara perlahan melalui hidung pula. Pernafasan yang dilakukan adalah pernafasan perut, bukan pernafasan dada. Bedanya apa? Nafas perut dapat ditandai dengan menggembungnya perut saat kita menarik nafas, sementara saat bernafas dada udara tertahan hanya sampai diafragma (yang justru membuat kita merasa sesak).
  2. Relaksasi otot dapat kita lakukan dengan cara meregangkan otot-otot tubuh dan kemudian melemaskannya. Otot yang sering terasa pegal adalah otot bagian tangan, pundak, leher, tengkuk, dan punggung. Sebenarnya, lebih mudah dengan gambar atau video untuk menjelaskan bagaimana melakukan relaksasi otot, tapi saya bingung bagaimana membuatnya, heee….
  3. Relaksasi imagery ini seringkali dilakukan sebagai relaksasi pamungkas untuk melengkapi serangkaian relaksasi nafas dan otot yang dilakukan sebelumnya, karena setelah relaksasi nafas dan otot, tubuh kita secara fisiologis merasa rileks dan tenang. Imagery dimaksudkan untuk mengistirahatkan pikiran kita dari hiruk-pikuk beban pikiran yang ada. Yang paling populer adalah “safe place” yaitu kita membayangkan suatu tempat yang paling nyaman, yang paling mujarab untuk menenangkan hati dan pikiran kita yang sedang galau. Tempat itu dapat saja suatu lokasi yang benar-benar nyata atau tempat rekaan sesuai imajinasi kita, yang penting disini adalah fungsi dari gambaran tempat tersebut.

Relaksasi dapat diterapkan oleh siapa saja dan kapan saja. Coba deh! Meskipun memang di awal mencoba akan terasa kikuk dan aneh, tapi jika dilakukan terus-menerus maka akan menjadi kebiasaan yang positif.

Selamat mencoba!

Sumber:

  • Martin, Garry & Joseph Pear. 2003. Behavior Modification: What Is It & How to Do It. New Jersey: Prentice Hall Inc.
  • Sarafino, Edward P. 1998. Health Psychology. USA: Wiley.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s