It’s not easy to be ME


Pernahkah berpikir “Sayalah orang yang paling menderita” ketika kamu sedang menghadapi masalah?

Siapa sih di dunia ini, orang yang nggak pernah mengeluh?

Bahkan orang sebijak Dalai Lama pun pernah mengeluh ketika ia dititipkan oleh sang ibu di biara ketika masih berumur 6 tahun (silakan cek di buku Dalai Lama, The Art of Happyness, siapa tahu informasi yang saya sampaikan salah. Maklum, baca bukunya sudah bertahun yang lalu hehehee…). Mungkin orang-orang besar dunia yang kita kenal akan kebijaksanaannya pun pernah mengeluh. Kalau saya adalah Einstein, saya pasti akan mengeluh habis-habisan ketika dibilang gila saat mempublikasikan teori relativitasnya.

Begitulah…

Sangat manusiawi ketika kita merespon sesuatu yang negatif  itu secara lebih mendalam, karena kita memang cenderung lebih mudah mengingat hal negatif daripada sebaliknya. Meskipun demikian, tidak selamanya hukum itu berlaku, terutama jika kita melatih diri kita untuk menerima hal negatif dan positif secara berimbang.

Hukum tentang keseimbangan memang berlaku dalam kehidupan. Seperti halnya kata-kata, ada sinonim pasti adapula anonim, setiap kali ada pro pasti juga ada kontra. Tuhan memang sudah menggariskan segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Kalau dalam budaya Cina, kita sudah sering melihat dan mengenal adanya konsep Yin dan Yang tentang keseimbangan dalam hidup. Saya yakin dalam kebudayaan dan filosofi yang lain, prinsip keseimbangan ini pasti juga ada.

Kembali lagi ke reaksi “mengeluh” tadi…

Ketika kita menyadari sepenuhnya dimana kita berada, apa yang sedang kita lakukan sekarang, dan dengan siapa kita sekarang, saya berpendapat bahwa keluhan yang kita sampaikan hanya bersifat reaktif dan temporer, yaitu keluhan yang seketika muncul sebagai reaksi dari stimulus yang datang tiba-tiba. Misalnya: saat kita buru-buru hendak berangkat sekolah/kuliah/kerja ternyata ban motor/mobil kita kempes, reaksi kita adalah mengumpat dan mengeluhkan hal itu.

Refleks seperti itu wajar dan sangat manusiawi. It happens to anybody, tanpa pandang bulu😀

Yang perlu kita cermati adalah:

  • Perbandingan antara stimulus (peristiwa/kejadian yang memicu keluhan itu muncul) dan respon/reaksi yang menyertainya. Maksud saya begini nih: kalau ban kempes, reaksi kita yang wajar biasanya berkata, “Sial, lagi buru-buru malah ban kempes. Asem tenan!”. Kalau reaksi yang kita munculkan adalah merubuhkan motor sambil berteriak-teriak kenceng itu namanya sudah lebay..nggak sehat.
  • Seberapa sering kita mengeluh dalam sehari? Kalau hal-hal kecil kita keluhkan setiap harinya, sampai-sampai orang lain mengenal kita sebagai si X yang pengeluh, atau statement update status di facebook atau twitter isinya keluhan semua, berarti udah nggak sehat dude!

Jadi, tetap perlu dipertimbangkan kualitas dan kuantitas keluhan itu. Karena, kalau boleh jujur, kita memang butuh mengeluh sebagai salah satu strategi coping emosi ketika menghadapi situasi dan kondisi yang tidak menyenangkan. Ini membantu kita untuk meregulasi emosi.

Nah, bagaimana caranya agar kita nggak jadi orang yang pengeluh?

  1. Be here and now, maksudnya sadarilah dimana kamu berada sekarang, apa yang sedang kau kerjakan, dengan siapa kau berada/berinteraksi saat ini.
  2. Belajarlah untuk mencari strategi coping yang lain untuk mengalihkan hasrat mengeluh, terutama ketika peristiwa pemicu sudah beberapa saat berselang (sudah nggak hangat lagi). contohnya begini: kalau bocor ban sudah kejadian seminggu yang lalu, ya nggak usah dibahas lagi hari ini. Sudah basi, bro!
  3. Berusahalah berpikir positif saat mengalami hal buruk. Bagaimana caranya? Ketika mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan, berilah jeda untuk dirimu sendiri dengan menarik nafas panjang selama beberapa menit. Hal ini membantu tubuhmu menghisap lebih banyak oksigen yang dibutuhkan oleh otak untuk berpikir secara lebih rasional dan objektif.

Kamu bertanya, apakah saya pernah mengeluh?

Tentu, saya jawab iya, saya pernah mengeluh.

Mengeluh dapat saya ibaratkan sebagai “sedikit membuka jendela”…hanya perlu sedikit saja agar udara segar dapat masuk, namun tidak terlalu lebar sehingga angin kencang dari luar rumah tidak membuat kita kedinginan.

Semua tepat, sesuai porsinya.

😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s