Ramah-tamah VS Basa-basi


Bangsa kita ini terkenal di dunia internasional sebagai bangsa yang ramah, ya nggak sih?

Heehee…kali ini saya mau ajak anda ngobrolin tentang ciri khas bangsa kita ini dengan salah satu ciri khas yang lain yaitu kebiasaan basa-basi dalam pergaulan.

Sebenarnya sama nggak sih? Atau beda? Bedanya di mana?

Dalam pergaulan sosial, kita memang dituntut untuk menunjukkan sopan santun kepada lawan bicara, terlebih lagi jika lawan bicara adalah orang yang lebih tua atau orang yang dihormati. Nah masalahnya adalah apakah kita bisa membedakan sapaan itu sebagai bentuk keramahan atau merupakan basa-basi?

Haaahahaha, saya nggak akan memberi tips bagaimana mengenali seseorang itu ramah beneran atau hanya sekedar basa-basi(-busuk)ke kita.. nggak penting itu! Yang mau saya sampaikan adalah BAGAIMANA AGAR KITA MENJADI ORANG YANG RAMAH BENERAN, BUKAN TUKANG BASA-BASI.

Penting nggak sih?

Penting dong… seperti yang saya sampaikan sebelumnya di tulisan saya sebelumnya, yang terpenting adalah bagaimana kita bisa jujur pada diri sendiri.

***

Kata RAMAH, kalau boleh saya artikan adalah kata sifat, yang mengandung makna sapaan/perkataan yang penuh kepedulian pada orang lain. Orang yang tidak peduli pada keberadaan orang lain sepertinya akan sulit bersikap ramah.

Kalau BASA-BASI…apa ya? bahasa yang basi begitu ya? Menurut saya sih, kalau percakapan yang terjadi itu garing yang keluar dari mulut isinya ya basa-basi doang gitu. Atau, ketika kita tidak benar-benar peduli –tapi pura-pura peduli karena beberapa alasan–maka yang muncul adalah basa-basi juga. Alasan utama orang berbasa-basi adalah:

Biar KELIHATAN seperti orang yang baik, peduli, empatik, ramah >> jadi sebenarnya, mungkin sifat orang itu kebalikan dari perilaku yang ditunjukkannya. Menurut saya, ini ada sisi positifnya juga sih, untuk menjaga perasaan orang yang diajak bicara, walaupun “lain di bibir, lain di hati.” Tapi kalau kebablasan, nggak sehat juga kan?

Sebenarnya, kembali lagi ke pribadi orang yang bersangkutan, apakah ia berbasa-basi untuk tujuan yang positif atau murni untuk berpura-pura.

Ada kan saat kita menghadapi situasi dimana kita memang “dituntut” untuk berbasa-basi, misalnya ketika saya bertemu dengan klien bertubuh gendut yang bertanya, “Saya nggak kegendutan kan?”…saya akan mempertimbangkan jawaban saya. Kalau misalnya saya langsung menjawab, “Iya kamu sudah kegendutan.” maka pastinya klien saya akan langsung kabur. Jawaban seperti itu pasti sangat menyakitkan. Maka dari itu, saya berbasa-basi untuk memperhalus kata-kata, misalnya dengan menggunakan pilihan kata yang lain untuk menenangkan hatinya.

Demi kesehatan mental kita sendiri,kita musti belajar untuk menerapkan basa-basi yang tidak busuk yaa…

Lho contoh basa-basi busuk itu yang seperti apa sih?

Misalnya: Ada seorang perempuan, Bunga (bukan nama sebenarnya), yang iri pada temannya, Melati (bukan nama sebenarnya juga). Di depan Melati, Bunga berkata bahwa Melati cantik tetapi di belakangnya, Bunga mengatakan pada teman-teman yang lain bahwa Bunga cantik karena operasi plastik.

Apa yang dikatakan di depan Melati adalah basa-basi.

***

Poin penting yang ingin saya sampaikan di sini adalah: BE GENUINE.

Pribadi yang genuine (aseli) tidak akan membohongi dirinya sendiri😀 dan pada akhirnya juga akan jujur pada orang lain di sekitarnya. Motivasi diri lebih karena motivasi internal, bukan motivasi eksternal.

Pendidikan karakter juga nih😀

Nah, bagi teman-teman yang berminat untuk berdiskusi tentang pendidikan karakter, lif skill dan pengembangan pribadi, silakan bergabung dengan kami di http://edictionworld.com/

😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s