Keterampilan Intrapersonal untuk Anak: Perlukah??


Keterampilan intrapersonal adalah keterampilan yang harus kita miliki untuk mampu mengelola diri sendiri, berupa nilai-nilai yang kita miliki untuk dapat berkembang menjadi pribadi yang sehat secara mental-psikologis. Keterampilan ini dapat dilatihkan dan ditingkatkan. Seperti pepatah, “tak kenal maka tak sayang’, demikian pula yang terjadi pada diri kita. Maka dari itu, sangatlah perlu untuk mengembangkan keterampilan intrapersonal sebelum kita belajar untuk mengenal dan menyayangi segala sesuatu yang di luar diri kita, termasuk di dalamnya adalah orang-orang di sekitar kita (interpersonal).

Kami merangkum 8 nilai yang perlu dikembangkan untuk mendukung keterampilan interpersonal:

Konsep Diri

Konsep diri itu apa sih? Sebenarnya, gampangnya kita menyebut konsep diri adalah bagaimana kita mengenal diri kita sendiri. Siapa sih kita? Untuk anak-anak, konsep diri yang paling sederhana diawali dengan mengetahui namanya, nama orang tua, dan nama anggota keluarga yang lain. Selanjutnya, pengetahuan ini meningkat dengan mengetahui informasi-informasi lain yang melekat pada dirinya. Seiring bertambahnya usia, anak mulai mengenali hal-hal yang abstrak, seperti bagaimana sifatnya, seperti apa perilakunya, bagaimana ia ketika berada di antara orang banyak, hal-hal apa yang membuatnya senang dan sebaliknya, bagaimana reaksinya terhadap sesuatu, dan seterusnya. Konsep diri yang baik membantu anak untuk dapat tumbuh dan berkembang menjadi pribadi dewasa yang baik pula. Dalam hal ini, yang disebut baik adalah sehat secara mental. Seorang anak dapat menjadi anak yang pemalu atau sebaliknya, menjadi anak yang penuh percaya diri tergantung pada bagaimana ia mengenali dirinya. Tentu saja, perlu dukungan dari lingkungan terutama keluarga untuk menumbuhkan konsep diri yang baik pada anak.

Komitmen dan Keteguhan Hati

Komitmen membuat kita bertahan dalam mencapai cita-cita kita, pekerjaan kita, dan hubungan kita dengan orang lain. Komitmen merupakan janji yang kita pegang teguh terhadap keyakinan kita dan membuat kita mampu memberi dukungan serta sikap setia pada keluarga atau teman kita. Keteguhan hati membuat kita menjadi pribadi yang mempunyai prinsip, tidak mudah dihasut atau dipengaruhi, dan membuat kita teguh dalam mencapai cita-cita.

Siapa bilang komitmen adalah milik orang dewasa? Anak-anak pun perlu belajar berkomitmen dan memegang teguh sebuah komitmen. Pernahkah orangtua anda dahulu berkata, “Ayo, makannya dihabiskan ya.. nanti kalau nggak habis ayammu mati.” Kalimat tersebut merupakan salah satu cara orangtua mengajarkan nilai komitmen pada anak, yaitu bahwa anak harus menghabiskan makan karena ia berkomitmen pada hal itu. Menghabiskan makan adalah tujuan yang harus ia capai dan ia harus berupaya semampunya untuk mencapai tujuan tersebut. Terkadang orangtua jaman sekarang sering menyepelekan hal ini dengan memberikan toleransi anak untuk tidak menghabiskan makannya. Tanpa disadari, orangtua menanamkan nilai pada anak bahwa anak boleh tidak menyelesaikan apa yang menjadi tugasnya. Maka jangan heran jika sekarang anda sering menemui anak yang menyisakan makanan, lekas bosan dengan mainannya, mudah mengambek, atau mudah teralihkan perhatiannya. Semua ini bisa jadi karena ia tidak merasa ”terikat” dengan apa yang sedang ia lakukan atau apa yang menjadi tugasnya. Tidak ada keteguhan hati untuk menyelesaikan semua rintangan.

Keteguhan hati sangat erat kaitannya dengan kesabaran. Bersabar adalah sikap yang kita tunjukkan ketika kita mampu menangani kelambatan, halangan, masalah ketika kita mencapai cita-cita atau tujuan. Dan perlu ditekankan pada anak, bahwa kesabaran akan berbuah manis. Ada perasaan lega, berharga, puas ketika anak berhasil memegang komitmen, berteguh hati dan bersabar dalam mencapai tujuannya. Misalnya: menabung untuk membeli peralatan sekolah yang baru atau belajar giat sebelum ujian yang akan membuahkan nilai bagus.

Tangguh Menghadapi Situasi Stress    

Sebagian besar dari kita memaknai stress sebagai sesuatu hal yang tidak menyenangkan. Pendapat tersebut 50% benar, karena memang ada stress yang sifatnya menekan dan membuat tidak nyaman. Stress adalah situasi kondisi saat orang merasa tidak nyaman dan memunculkan emosi-emosi negatif. Stress jenis ini disebut distress. Meski demikian, ada juga stress yang bersifat membangun, yaitu stress yang memacu individu untuk berjuang dan berusaha lebih baik lagi. Stress jenis ini disebut eustress. Bagaimanapun juga, cara menghadapi stress sangat tergantung pada masing-masing individu, apakah ia akan menyikapi situasi atau kondisi tidak menyenangkan tersebut sebagai distress ataukah eutress.

Apakah anak bisa mengalami stress? Tentu saja bisa. Seperti halnya orang dewasa, anak juga rentan mengalami stress jika ia tidak memiliki kemampuan untuk menghadapi stress dalam kehidupannya sehari-hari. Hal yang tampaknya sepele bagi orang dewasa dapat merupakan pemicu stress pada anak, misalnya telat berangkat sekolah, lupa mengerjakan pekerjaan rumah, diolok-olok teman, bertengkar dengan saudara kandung (sibling), dan lain sebagainya. Anak yang tangguh dapat ”dibentuk” sejak kecil. Salah satunya dengan menumbuhkan keyakinan bahwa dia dapat mengatasi permasalahan dalam hidupnya dimulai dengan hal-hal yang kecil, misalnya mampu menerima bila kondisi tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, mengalami kekecewaan, menerima kekalahan dengan lapang dada dan sebagainya. Anak juga dapat dilatih untuk mengembangkan sudut pandang positif terhadap suatu peristiwa dan memaknainya sebagai eustres yang membangun.

Reaksi masing-masing orang terhadap stress sangat beragam. Meski demikian, kita dapat dengan mudah menandai saat kita mengalami stress dengan memperhatikan reaksi fisiologis tubuh kita. Coba anda ingat, apa yang anda rasakan ketika anda hendak menjalani wawancara kerja? Detak jantung meningkat, berkeringat dingin, perut mulas? Coba anda ingat kembali ketika anda masih kecil, bagaimana anda sulit tidur ketika mengetahui keesokan harinya anda akan pergi berwisata bersama teman-teman? Reaksi fisiologis, termasuk sulit tidur, adalah beberapa penanda bila kita sedang menghadapi situasi atau kondisi yang menegangkan atau membuat kita tidak nyaman. Selanjutnya, barulah kita mereaksi stress sesuai dengan hal yang kita hadapi. Hal ini disebut coping. Ada 2 macam coping yang umum diketahui, yaitu emotion focused coping (coping yang terfokus pada penyaluran emosi negatif saat stress) dan problem focused coping (coping yang terfokus pada penanganan masalah penyebab stress).

Berani

Sikap berani memungkinkan kita menghadapi bermacam kesulitan, bahaya, atau rasa sakit dengan cara-cara yang membuat kita dapat mengendalikan situasi. Kita dapat membangun sikap berani dengan mengenali sesuatu yang menakutkan atau sesuatu yang menantang kita untuk kemudian memikirkan strategi yang tepat untuk menghadapinya.

Semua orang tentunya pernah mengalami takut. Meski demikian, rasa takut dapat dikelola menjadi motivator untuk bergerak. Seperti halnya stress, rasa takut seringkali menjadi alasan untuk kita menghindari situasi atau kondisi pemicunya. Misalnya: anak yang mengaku takut pada ulat akan cenderung menghindari bermain di rerumputan. Padahal, justru ketakutan itu menghambatnya mengeksplorasi lingkungan. Maka dari itu, keberanian perlu ditanamkan pada anak sedini mungkin, dimulai dari keberanian menghadapi ketakutan yang bersifat konkret, seperti: takut ulat atau ular, takut gelap, takut badut, dan sebagainya, hingga ketakutan yang bersifat abstrak, seperti: takut ditinggalkan, takut gagal, takut ditolak, dan sebagainya. Tumbuhnya keberanian juga merupakan bekal tumbuhnya kepercayaan diri anak, karena dengan keberanian anak semakin yakin terhadap dirinya.

Mengatur waktu

Pernahkah anda menemui anak yang sulit sekali diminta untuk mandi sore, padahal hari sudah petang? Atau anda sendiri dulu juga seperti itu? Apakah perilaku malas mandi atau menunda mandi itu terbawa hingga dewasa? Perilaku tersebut adalah salah satu contoh kecil dari ketidakmampuan mengatur waktu. Kita akan dengan mudah mengabaikan jadwal karena beranggapan bahwa jadwal boleh saja dilanggar, sehingga kita menjadi tidak disiplin pada diri sendiri.

Mengenalkan rutinitas pada anak sangat baik untuk melatihnya menghargai waktu sekaligus melatihkan kedisiplinan dan tanggung jawab. Rutinitas sehari-hari yang terencana dengan baik akan membantu anak untuk belajar berpikir runtut dan terpola. Berbeda dengan anak yang tidak terbiasa dengan rutinitas, ia akan cenderung mengalami kesulitan untuk fokus karena mengalami kebingungan. Selanjutnya, ia akan cenderung sulit mengambil keputusan dan cenderung sulit mengambil peran sebagai pemimpin.

Lantas muncul pertanyaan, “apakah semua harus serba teratur? Tidak bolehkan ada waktu santai dan bermalas-malasan?” Tentu saja setiap orang berhak atas waktu santai (leisure time), namun demikian, untuk berhak menikmati waktu santai ia harus terlebih dahulu memahami bahwa ada waktu-waktu lain untuk bekerja, belajar, istirahat, dan seterusnya. Ia harus memahami bahwa tidak sepanjang waktu dapat ia habiskan untuk bersantai. Nah, pemahaman inilah yang perlu ditanamkan pada anak sedini mungkin melalui latihan memiliki rutinitas harian. Anak dapat mengatur waktu yang ia miliki sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan usianya, serta bertanggung jawab atas jadwal yang telah ia susun sendiri.

Kejujuran dan integritas

Nilai kejujuran dan integritas pribadi boleh jadi semakin langka saat ini. Seperti pameo bahasa Jawa, “Yen jujur malah ajur” yang berarti jika jujur justru malah hancur. Kita telah bersikap jujur ketika kita berbicara sesuai kenyataan, tidak berbohong, dan telah memperlakukan orang lain secara adil. Sulitnya bersikap jujur saat ini karena orang-orang di sekitar kita seringkali tidak mendukung kita untuk jujur. Maka dari itu diperlukan integritas pribadi untuk tetap bertahan pada nilai kejujuran yang diyakini. Anda pernah menonton film Forrest Gump yang dibintangi oleh Tom Hanks? Tokoh Gump adalah contoh pribadi yang jujur dan terintegrasi, meski demikian, tantangan baginya adalah bahwa ia seringkali dianggap sebagai orang yang tolol.

Kita mempunyai integritas ketika kita jujur pada diri kita sendiri dan berpegang teguh pada nilai-nilai moral kita sendiri. Contoh kejujuran pada diri sendiri:

  1. Melakukan sesuatu karena benar-benar menyukainya, bukan untuk mencari muka/mencari perhatian/ ingin dipuji.
  2. Ada kesamaan antara apa yang dipikirkan dengan apa yang dikatakan/dilakukan.
  3. Tidak berpura-pura agar terlihat hebat.

Apakah kejujuran dan integritas ini penting? Mengapa demikian? Kejujuran dan integritas kita perlukan karena sesungguhnya hati nurani kita mengetahui setiap kali kita berbohong. Tidak memiliki integritas pribadi sama halnya dengan berbohong pada diri sendiri dan itu artinya kita menyangkal konsep diri kita yang sesungguhnya dan menampilkan topeng untuk menutupinya. Mekanisme penyangkalan ini dalam jangka panjang akan berakibat pada kondisi mental kita, yang menjadi penuh kepura-puraan.

 

Keyakinan Diri

Keyakinan diri adalah keterampilan hidup (lifeskill) yang perlu dimiliki. Orang dengan keyakinan diri yang rendah akan mudah terpengaruh oleh lingkungan, tidak memiliki keteguhan hati dan mudah terlibat dalam berbagai masalah. Orang dengan keyakinan diri tinggi akan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, memiliki keberanian untuk mengambil keputusan, dan mampu mengambil peran sebagai pemimpin jika dibutuhkan.

Keyakinan diri juga akan mendorong kepercayaan diri. Pada anak-anak, hal ini tentunya sangat positif untuk mendukung prestasinya. Hal ini akan mengembangkan rasa bangga pada diri sendiri. Rasa bangga adalah perasaan yang kita miliki untuk menghargai diri sendiri. Kebanggaan merupakan rasa senang yang kita rasakan ketika kita menyelesaikan tugas yang menantang, mampu menyelesaikan masalah, mencapai tujuan yang sulit, atau berhasil mendapatkan sesuatu yang kita inginkan dengan cara yang baik.

Rasa bangga terkait dengan perjuangan dan pencapaian/prestasi. Apa yang mudah bagi kita, kita akan menerimanya dengan biasa-biasa saja. Apa yang kita dapatkan dengan perjuangan, seringkali membuat kita puas, dan itulah yang memicu rasa bangga. Rasa bangga sering menjadi bahan bakar motivasi dalam diri. Bangga atas hasil kerja kita mendorong kita untuk menjadi produktif dan berusaha keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri kita.

Kepercayaan Diri

Seringkali muncul konotasi negatif dari frase kata kepercayaan diri yang berkembang dalam dunia anak dan remaja, yaitu narsis. Akibatnya muncul kesan negatif pula ketika seorang anak/remaja disebut percaya diri. Dua konsep ini perlu kita bedakan karena memang maknanya jauh berbeda. Narsis atau narsisme adalah suatu konsep kecintaan yang berlebih pada diri sendiri sehingga penilaian terhadap diri menjadi subjektif, bersikap arogan dan sombong, serta cenderung agresif dalam pergaulan. Hal ini sangat berbeda dengan konsep percaya diri yang didukung dengan keyakinan diri serta rasa bangga pada diri sendiri, yang membuat anak/remaja tangguh dalam kehidupannya, mampu beradaptasi dalam lingkungan sosial, bersikap asertif, objektif, serta terintegrasi.

Anak atau remaja yang percaya diri tidak harus selalu tampil di depan, namun demikian ia memiliki keyakinan untuk dapat mengerjakan tugas dan menyelesaikan tanggung jawabnya dengan baik. Percaya diri dapat diartikan tidak minder, mampu menghargai diri sendiri dan orang lain, mampu memegang komitmen, serta mandiri. Mandiri adalah mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri dan tidak tergantung pada orang lain. Seiring pertambahan usia, tolok ukur kemandirian juga semakin meningkat.

Percaya diri membuat kita dapat menentukan jalan hidup kita sendiri, menentukan pilihan, dan membuat keputusan sendiri. Percaya diri menghindarkan kita dari sikap ragu-ragu. Sikap percaya diri perlu dipupuk sejak dini karena akan mendukung tugas perkembangan pada tahun-tahun berikutnya.

***

Tertarik untuk berdiskusi tentang topik ini? Bergabunglah dengan kami di http://edictionworld.com

Hmmm…proyek terbaru saya bersama seorang kawan lama saya, Bung Adjie Sylarus, semoga bermanfaat buat kita semua yaaaa…😀

well, i’m so excited with my new job…heheehe…mencoba peruntungan sebagai penulis juga nih😀. Karena masih berkaitan dengan dunia psikologi, mungkin ini lah salah satu wadah saya mengaktualisasi diri tanpa meninggalkan rumah😀 –maunya di rumah terus sama Kiddo.

So, let’s join us, people…and make life better😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s