Pricing your artwork


Tak terasa sudah sudah 5 tahun saya mengenal dunia manik-manik dan aktivitas meronce… Saya mulai mengenal dunia ini pada bulan Februari 2006, saat itu saya sedang akan memulai proses pengerjaan skripsi…heeehehe…dan biasalah, pake acara males-malesan dulu dan mencari aktivitas lain yang nggak nyambung dengan tugas yang harusnya dikerjakan –dan segera diselesaikanšŸ˜€

Sekarang, Februari 2011.

Uhmm, jikalau saya ditanya, pengalaman apa saja yang saya dapatkan dalam hobi manik-manik ini, sebenarnya saya belum bisa menjawab banyak. Selama ini saya merasa belum benar-benar serius menggeluti bidang ini. Banyak sekali sambilannya… sambil ngerjain skripsi, lalu sambil kuliah tata rias, lalu sambil kuliah magister profesi, lalu sambil kerja praktek, lalu sambil ngerjain tesis, lalu sambil jadi ibu rumah tangga, dan sebentar lagi sambil momong anak…

Sudah lebih dari 3 orang tetangga saya, di kampung ini, di Semarang, yang bilang… “Wah ya nanti kalau sudah ada anak, nggak bakalan bisa bikin-bikin kayak gini lagi…”

Huuufftt… dan saya masih saja sebel dikomentarin begitu…

Padahal ya kenapa juga saya harus sebel ya?? *mikir sambil garuk-garuk kepala*

Manfaat apa yang saya dapatkan dari hobi ini?

  1. Self-actualization, aktualisasi diri… berkarya… meraih sebuah pencapaian, kebanggan diri, dignity… menuangkan ide dalam suatu karya (abstrak –masih dalam bentuk konsep–Ā  maupun konkret –sudah dalam wujud barang jadi) sungguh sangat melegakan. Priceless
  2. Another coping strategy, strategi saat diri merasa tidak sehat secara mental… Dalam literatur psikologi, dikenal ada 2 tipe coping, emotion-focused coping dan problem-focused coping. Tipe pertama ditujukan untuk proses regulasi emosi sedangkan tipe yang kedua, langsung ditujukan untuk mengatasi dan menyelesaikan masalah yang dihadapi. Doing hobbies when you upset or feeling lonely, menurut saya termasuk dalam tipe yang pertama… kalau dalam kasus saya sih, ketika saya membutuhkan waktu lebih banyak untuk berdialog dengan diri sendirišŸ˜€
  3. Killing time, pengisi waktu luang… yah, daripada dikatain pemalas karena kerjaan sehari-hari tidur-tiduran dan nonton tv… setidaknya aktivitas ini lebih “menghasilkan” baik dari sisi finansial maupun non-finansial.

Itulah sebabnya saya menyukai aktivitas ini… penggunaan tangan kanan dan kiri secara bersamaan dengan aktif juga turut menyeimbangkan kinerja otak kanan dan otak kiri saya. Mungkin itu pula sebabnya, aktivitas ini dapat saya kategorikan sebagai aktivitas penentram hati, karena secara fisiologis saya memang telah berlatih untuk menyeimbangkan sisi emosional dan logis saya –bagus untuk bahan penelitian nih, ayo..yang belum dapat tema untuk skripsi/tesis…

***

Tentang “menghargai” hasil karya…

Harga dapat berupa harga materi, dalam bentuk nominal rupiah, atau harga dalam konsep apresiasi…

Boleh nggak saya memasukkan karya saya dalam kelompok benda seni (artwork)?Ā  Yaaa… resikonya memang benda seni akan terdegradasi dalam kategori barang-barang kebutuhan tersier… dan tidak semua orang menyadari kebutuhannya akan keindahan/seni… tidak semua orang terlatih untuk dapat mengapresiasi senišŸ˜¦

Sudah beberapa kali saya menemui orang yang berkomentar… “Wah mahal ya?” untuk sebuah bros ukuran besar yang saya hargai 50.000 rupiah… ini nih bros yang saya maksudkan:

Ukurannya sekitar 7x7cm… lumayan besar kan?

Memang pantesnya kalau barang begini harganya berapa sih? 20.000-an ya?atau 10.000-an baru dibilang nggak mahal?

Atau yang satu ini…

seharusnya dihargai berapa?

Untuk satu bros besar, saya membutuhkan waktu 2-3 jam untuk proses pembuatan. Proses pembuatan ini termasuk proses pemilihan warna dan bahan (tahap awal), proses pengerjaan dan sekaligus finishing-nya (packing ke wadah). Dalam proses pengerjaan, saya udah langsung sekaligus mikir… ini bros bakal dibentuk gimana ya, nyusun manik-maniknya seperti apa ya posisinya yang pas, dst… jadi ide langsung dieksekusi saat itu juga.

Setiap hasil karya bagi saya adalah masterpiece…tiada duanya…

Kenapa bisa begitu?

Uniqueness… keunikan… tidak akan pernah ada 2 bros buatan saya yang persis sama. Kenapa? karena pada setiap proses pengerjaan, mood yang melingkupi saya selalu berbeda, ada banyak hal yang berbeda: waktu, kondisi, suasana sekitar… semuanya menimbulkan atmosfer yang selalu berubah… karena keunikannya ini, barang tersebut menjadi langka… be the one and only

Bahkan saya pun tidak dapat mengulang membuat barang yang sama untuk diri saya sendiri…

Meskipun demikian, saya tahu diri lah… tidak mungkin saya menjual satu bros seharga ratusan ribu bila saya tahu memang secara kualitas bahan tidak dapat dihargai sedemikian mahalnya…

Lain cerita kalau kristal yang digunakan adalah kristal swarovsky yang bersertifikat itu… Ya nggak sih?? Lain cerita juga kalau saya nanti pake kawat impor yang harga memang mahal… ya jatuhnya bakalan mahal juga kan harga barangnya?

Intinya, patokan untuk menentukan harga suatu barang adalah sebagai berikut:

  1. Harga bahan baku utama… usahakan untuk menggunakan selalu kualitas yang terbaik (atau kedua yang terbaik, bolehlah). Bahan baku utama misalnya manik-manik, mutiara, kristal… bahan-bahan yang ingin kita tonjolkan dalam karya kita.
  2. Harga bahan baku pendukung, misalnya kawat, aneka paku, aneka ring, peniti, sarangan pin, dsb…
  3. Harga tenaga. Kita juga harus menghargai tenaga kita yang telah kita keluarkan untuk mengerjakan suatu karya. Katakanlah, selama 3 jam kita duduk tepekur, tangan terus mengerjakan yang njlimet-njlimet, mata mendelik melihat benda-benda kecil…
  4. Harga ide/kreativitas. Kita juga harus menghargai ide orisinil yang muncul dari kepala kita. Maka dari itu, saya paling benci dengan yang namanya plagiat…

Nah, begitu lah…

Uneg-uneg saya hari ini, heeheheheee…

***

Ini ada 2 bros dari tetangga sebelah yang dapat anda jadikan sebagai perbandingan, lihatlah dari segi model (tingkat kerumitan, pemilihan warna dan bahan) dan harganya :D:D

Bros ini dihargai i 30.ooo rupiah

dan yang satu ini…

dihargai 35.000 rupiah

dan ini…

dihargai 55.000 rupiah

Nah…

Bagaimana menurut anda?

4 thoughts on “Pricing your artwork

  1. ih, iya… betul bgt. sebeeelll… bgt kalo ada yg blg harga kemahalan. pdhl buatan qta tu istimewa. akhirnya ada yg blg “mending untung sedikit tapi laku banyak, drpd mahal tp jarang laku ato laku hanya krn kasihan.” whaaaaatttt??!! (shock bgt deh). akhirnya brusaha bikin bbrp dg tema sama tp dengan bahan yg murah. resiko untuk tuntutan pasar. ToT ini namanya menyerah, ato adaptasi ya??

    • kalo aku sih tetep lebih baik bikin yang eksklusif, biarin dah laku dikit yang penting nggak menggadaikan idealisme demi rupiah…
      wahhahahaha…sok idealis ya… tapi biarin lah, daripada bikin yang abal-abal…kita kan harus menddidik konsumen untuk nggak konsumtif jugašŸ™‚
      salam kenal jeng manekinšŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s