Penggosip, enyahlah dari muka bumi!


Why people love social networking?

Uhmm… sebenarnya pertanyaan saya begini nih yang lebih tepatnya: Why people love social networking via internet? Jejaring sosial yang saya maksudkan terutama adalah Twitter dan Facebook.

Pasti banyak diantara teman-teman yang sudah melakukan semacam pengamatan atas fenomena maraknya penggunaan jejaring sosial ini di negara kita tercinta, Indonesia, ini. Saya buta tentang statistik penggunaan kedua jejaring sosial ini, namun saya tidak akan memaparkan bukti statistik, namun saya yakin kita semua sudah pernah mendengarkan pemaparan tentang hal tersebut di stasiun tv nasional.

Saya punya akun Twitter, tapi jarang saya kunjungi. Saya lebih sering bermain di Facebook. Tidak ada alasan khusus sih, saya cuman malas aja menghafal password, jadi sepertinya saya juga sudah lupa password akun Twitter saya heee…

Facebook banyak membantu saya untuk bertemu kawan lama (SD-SMP-SMA), keep in touch dengan mereka (dan juga dengan teman-teman saya sekarang –teman kuliah), saling menyapa dan bersilaturahmi. Kalau dengan teman-teman dekat saya, saya jadi lebih mudah berbagi apa saja dengan mereka tanpa harus bertatap muka. Yaa, karena banyak diantara kami yang sekarang tidak tinggal sekota lagi. Saya juga bisa menjalin kontak dengan forum alumni kampus, forum praktisi psikologi, dan forum-forum lain yang bermanfaat bagi karir saya di bidang psikologi.

Jadi, sejauh ini saya merasakan banyak manfaatnyašŸ˜€

Tapiiii………………..yang menyebalkan adalah “menemui” orang-orang rese yang memiliki tujuan lain dalam aktivitas jejaring sosial mereka. Well, saya tidak bisa menilai secara langsung tujuan mereka itu jelek, tidaakkk…tapi yaaa kok saya beberapa kali menemui fakta (termasuk pengalaman pribadi) bahwa data dan informasi yang diperoleh dari situs jejaring sosial itu dijadikan sebagai bahan bergosip, bahkan bahan fitnahanšŸ˜¦

Geee, seram sekali…

Dan 1000% rese!!!!!

Saya pernah mengkonfrontir salah seorang penggosip yang menggunakan informasi di Facebook untuk bergosip ria.

Dia berdalih: “Kalau nggak mau jadi bahan perbincangan ya nggak usah nulis status…kalau nggak mau dikomenin ya udah, nggak usah apdet…beres kan? Kita mah bebas mau ngomentarin kayak apa juga”

Dalam hati saya berkata, “Ooo..gitu ya? Jadi kalau di internet / dunia maya, udah nggak ada gitu tata krama pergaulannya? Udah hangus gitu ya yang namanya etika pergaulan?”

Meskipun, dunia maya itu dunia bebas, menurut saya tetap saja kita harus menghargai orang lain. Walaupun orang lain itu super lebay, 100% alay, menyebalkan, tidak sesuai dengan standar kita, dlsb… Kita memang punya hak untuk berkomentar, tapi tetap dalam koridor sopan santun dong yaaa… kecuali kalau ketika kita bertemu langsung dengan ybs sikap kita juga seperti itu…boleh lah, berarti hitam di atas putih kita sudah mengakui kalau kita bermusuhan dengan ybs. Tapi kalau yang terjadi adalah sebaliknya??? Iiiiidddiiih, amit-amit… munafik banget!

Peribahasa berkata, MULUTMU ADALAH HARIMAUMU

Dan itu memang benar… jangan sampai perkataan kita menyakiti orang lain, apalagi jika hanya untuk memuaskan dahaga kita untuk bergosip.Bergosip itu jauh dari kata sehat, kawan!

Coba, bedakan antara peduli dengan gosip…

Kadang tanpa kita sadari, kita bergosip karena kita merasa peduli pada orang yang kita perbincangkan. Iya nggak? Contohnya seperti ini:

“Eh, tau nggak si anu kan sekarang udah menikah…kabarnya sih karena hamil duluan. Padahal tau nggak, dulunya dia itu alim banget lho…kok bisa ya sampe segitunya? Pasti gara-gara lakinya tuh, orang keliatan kok di foto nikahannya tuh dia pake anting gitu, padahal kan si anu itu pake jilbab gede…akhwat gitu deh…”

Menurut saya, itu adalah kalimat penggosip… cermati saja, ada berapa banyak judgment yang sudah kita jatuhkan pada si mbak anu? Apakah kita berhak menilai mereka seperti itu dan menyebarluaskan penilaian kita yang absurd ini ke semua orang hanya karena kita melihat foto profilnya di Facebook?

***

 

Atau yang baru saja saya alami…

Ibu saya memberikan informasi tentang pembukaan penerimaan pegawai negeri sipil di kampung saya, saya sudah mengecek kualifikasi yang dibutuhkan berikut syarat-syaratnya… ada satu posisi kosong untuk psikolog tapi ternyata yang dimaksud adalah Sarjana S1 Psikologi, sedangkan saya adalah psikolog, Sarjana S2 Psikologi.

Saya menulis lah sebuah status, “Kenapa nggak ada ya lowongan untuk lulusan seperti saya ini? Buat apa saya sekolah susah-susah kalau yang dipake malah ijazah jaman baheula (–maksud saya adalah ijazah S1)?”

Trus banyak yang kasih komentar di status tersebut, salah satunya teman saya yang menanyakan memangnya kenapa? cari lowongan apa? Lalu saya menjawab, itu ibu saya berharap sapa tahu saya mau jadi PNS, tapi posisinya bukan untuk lulusan S2.

Saya anggap tidak ada masalah… eh tahu-tahunya, beberapa hari yang lalu ibu saya telepon, bilang kalau ada temannya yang woro-woro ke banyak orang kalau saya ini nggak mau jadi PNS dan ibu saya maksa-maksa saya buat jadi PNS. Usut punya usut, si penggosip tadi adalah ibu dari salah seorang teman SMA saya yang kebetulan juga jadi teman facebook saya.

Padahal si teman saya ini nggak ikut komen di status saya tadi lho… wah kok dia segitu pedulinya ya sama saya, sampe mendiskusikan status saya tadi dengan ibunya…dan ibunya kok ya baik banget, mendiskusikan hasil diskusinya tadi dengan orang-orang lain sampe akhirnya masuk ke telinga ibu saya?? Padahal sudah 2 bulan yll lho…

Saya kan jadi merasa nggak enak sama ibu saya… lha wong saya maksudkan bukan seperti itušŸ˜¦

***

 

Daaaaaaaaaaannnnn…………………….

Kira-kira ada berapa banyak orang tuh yang kayak teman saya itu? Yang tanpa konfirmasi melanjutkan informasi sepotong-sepotong yang ia terima lalu memolesnya menjadi berita hangat yang menyesatkan?

Wuuuu…jangan ditanya deh… lagi-lagi saya memang tidak memiliki data statistik untuk memperkuat asumsi saya ini, tapi menurut saya, masyarakat kita ini memang masyarakat penggosip kok… the backstabbers, si penikam dari belakang, kaum pasif-agresif, bermuka dua… (amit-amit, jangan sampe saya tertarik untuk bergabung… *tepok-tepok jidat)

Kalau nggak percaya, coba hitung saja, dalam sehari ada berapa kali acara infotaintment yang ditayangkan di satu stasiun tv? lalu kalikan dengan jumlah stasiun tv yang menayangkannya… Lalu cermati deh, acara bincang-bincang atau acara liputan berita sekalipun, gaya bicara mereka sudah seperti penggosip saja bukan? Berita bukannya memperjelas, malah memperkeruh suasana…

Hmmmm…….

Hai para penggosip, enyahlah dari muka bumi ini!

Cobalah untuk mencari aktivitas lain yang lebih positif untuk memenuhi kebutuhan egomu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s