My Animal Angels


Beberapa hari yang lalu saya sempat menyinggung tentang tujuan binatang dihadirkan dalam kehidupan kita… Percaya atau tidak, sebenarnya kita tidak hanya berjodoh dengan sesama manusia (yang biasa kita sebut belahan jiwa, atau lelaki/perempuan yang kemudian kita nikahi), tetapi kita berjodoh dengan banyak hal lain di luar itu. Mungkin kita berjodoh dengan pekerjaan tertentu, tempat sekolah tertentu, sahabat, orang-orang yang (entah bagaimana caranya) telah membantu kita, atau bahkan dengan binatang-binatang tertentu yang dengan sengaja/tidak kita temui.

Saya punya satu buku yang sangat menarik tentang binatang-binatang yang berjodoh dengan manusia, dalam hal ini mereka telah membantu manusia melewati masa sulit, menghadirkan kegembiraan, mengenali diri, atau hal-hal lain yang takpernah terbayangkan dapat diperankan oleh seekor binatang. Temen-temen pasti pernah dengar film Hachiko kan? Yah, itu salah satu contoh persahabatan antara manusia dan binatang.Dan ada baaaaaanyaak contoh yang lain…Marley and Me, juga sudah difilmkan..itu true story juga lho…

Oh iya, judul bukunya Animal Angels, oleh Charlene R. Johnson dan Michael Rebel. Temen-temen yang tertarik untuk membacanya lebih lanjut bisa mencari buku itu di toko buku atau googling dan mengunduh versi e-book-nya kalo ada…heheheheee…

Yang mau saya ceritakan di sini, tak lain dan tak bukan, adalah tentang Leon dan Nessie… sapa lagi?? hehehhee…

Saya pindah ke Semarang ini benar-benar seperti masuk ke dunia antahberantah, yang super-duper asing, yang mana saya sama sekali nggak tahu arah dan tak mengenal seorang pun (oke, kecuali beberapa teman kantor suami dan beberapa istri mereka yang sempat rese). Trus tahu-tahu ada seekor kucing yang sok akrab, ya si Nanapuss itu…tahu-tahu juga, dia hamil, tahu-tahu dia punya bayi kucing 4 ekor… trus gantian, saya yang ketahuan hamil juga hahahahhaaa…😀

Intinya, saya jadi punya Leon dan Nessie. Memelihara mereka bukan tanpa konsekuensi. Konsekuensi logis yang harus saya hadapi dengan memelihara bayi kucing dari seekor induk kucing liar adalah saya harus lebih rajin bersih-bersih rumah, nggak boleh jijik sama tikus yang dibawain si induk buat bayi-bayinya, harus sigap kalo rumah jadi berantakan gara-gara para bayi itu main kejar-kejaran, dan seterusnya…dan seterusnya…dan seterusnya…

Saya jadi tambah yakin…

Selalu ada konsekuensi logis dibalik setiap keputusan yang kita ambil…apapun keputusan itu. Tidak ada keputusan yang 100% membuat kita senang dan benar-benar bebas dari tanggung jawab.

Seperti yang sering dikeluhkan oleh para tetangga saya yang merasa direpotkan oleh anak-anak balita mereka… gosh, itulah konsekuensi logis dari memiliki anak! Kalau nggak mau repot, nggak usah punya anak… Tapi harus diingat, tentunya akan ada konsekuensi logis lainnya yang akan menyertai keputusan untuk tidak memiliki anak, ya kan?

Saya benar-benar belajar tentang pilihan dan menjalani pilihan…

Sepertinya saya adalah tipe orang yang martir…

Saya baca di buku Nanny 911-nya Nanny Deborah Carroll dan Nanny Stella Reid >> orangtua / ibu yang martir akan cenderung banyak mengeluh… “saya sudah melakukan ini, saya sudah melakukan itu, bla-bla-bla… ” dan tanpa ia sadari menuntut permakluman dari anggota keluarga yang lain bahwa dirinyalah yang berhak untuk menjadi dominan dalam keluarga… tanpa sadar pula, ia telah membuat orang lain tergantung padanya, ia mengeluh, tapi sebenarnya menikmati ketergantungan tersebut untuk menguatkan eksistensi dirinya…“Lihat, mereka membutuhkanku, tidak ada yang beres kalau aku tidak ada”.

Guys, itu saaaaaaaaaaaangggaaaaaaaaaaat tidak sehat. Believe me, saya berusaha keras untuk melawan kecenderungan munculnya keinginan untuk menjadi martir seperti itu… Rangkaiannya teramat panjang dan rumit untuk dijelaskan di sini, tentang mengapa dan bagaimana sikap itu terbentuk, akarnya sih sepertinya dari rasa tidak percaya diri yaaaa… Makanya, percaya diri-lah, kawan!!! Self-talk sangat membantu untuk meyakinkan diri sendiri…

Selain pelajaran tentang konsekuensi logis untuk setiap pilihan, Leon dan Nessie mengajarkan pada saya tentang pentingnya konsistensi.

Konsisten, khususnya dalam menghadapi atau mendidik anak,  memang terkadang terkesan kejam…tapi konsisten itu perlu dalam menerapkan disiplin. Dan disiplin itu penting.

Saya lemah dalam hal penerapan disiplin pada kucing-kucing itu…saya mudah sekali luluh pada kelucuan mereka… itu kucing lho, gimana nanti saya menghadapi anak saya sendiri? Gossshhh…ini harus segera diantisipasi. Cara termudah adalah speak up, komunikasikan dengan pasangan. Mintalah pendapat dan dukungannya untuk menyikapi kelemahan anda dalam menjaga konsistensi penerapan disiplin. Pasangan adalah partner bukan musuh…jangan ada peran “malaikat-iblis” atau orangtua yang jahat dan baik…jangan membela anak, saat pasangan memberikan teguran…

Saya sering nyuri-nyuri nggendong kucing-kucing itu kalo suami nggak adaaaa… itu nggak baik…😦😦😦

Begitulah…

Sementara ini saya menemukan 2 hal penting itu… saya harus terus belajar dan berlatih nih…

Buku Nanny 911 bagu lho untuk jadi bahan bacaan…banyak tips dan trik yang bisa kita terapkan dan juga banyak ilmu baru yang (bagi saya) bisa “menyentil” jauh ke dalam…bahwa kita berhak untuk menjadi manusia dan orangtua yang lebih baik demi anak-anak kita…

Anak nakal tidak dilahirkan, tetapi mereka diciptakan.

Siapa yang menciptakan? Ya kita sebagai orangtuanya…dengan cara pengasuhan yang malfungsi. So, selagi ada waktu mari belajar lagi…😀

 

Sweeeeemaaaangggaaaaaaaddddddddddd!!!!!!!!!!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s