Fear of Uncertainty


–This is a note from my facebook page, which was written on June 6, 2009, on my 25th birthday…–

 

Rasa takut adalah mencari-cari kesalahan dengan masa depan. Kalau saja kita ingat bahwa masa depan itu tak pasti, kita tak akan pernah mencoba meramalkan apa yang bisa saja salah. Dan Rasa takut itu akan berakhir saat ini juga.

Suatu hari ketika saya masih kecil, saya begitu takut kalau harus pergi ke dokter gigi. meskipun saya sudah membuat janji untuk bertemu dokter gigi, tetap saja saya tak ingin pergi. Dengan tololnya saya khawatir sendiri. Saat tiba di tempat praktek dokter gigi, saya diberitahu bahwa dokter giginya berhalangan hadir.

Saya belajar, betapa sia-sianya rasa takut itu. Rasa takut terlarut dalam ketidakpastian masa depan. Namun jika kita tidak memakai kebijaksanaan kita, kita lah yang akan dilarutkan dalam rasa takut.

 

Tiga paragraf di atas adalah penggalan kisah yang disampaikan oleh Ajahn Brahm, seorang bhiksu yang lahir di London pd thn 1951, meraih gelar sarjana fisika teori dr Cambridge University, yang pada usianya yang ke-23 tahun memutuskan untuk menjadi bhiksu petapa dalam tradisi hutan Thailand. Buku Ajahn Brahm telah menemani saya selama seminggu terakhir ini.. Saya menyebut minggu ini adalah minggu perenungan Timur karena saya banyak membaca filosofi Timur (Thailand, Cina, Jawa). Saya sangat terkesan dengan buku ini karena kisah2 yang dituturkan di dalamnya sangat sederhana namun memiliki nilai filosofis yang dalam. Makna dari ucapan sederhana yang dituturkan secara turun temurun dalam tradisi Vihara rupanya mampu menginspirasi manusia dari belahan dunia manapun. Intinya bukan pada ajaran agama, saya rasa, tapi pada pemaknaan atas pengalaman hidup sehari-hari, yang mana hal itu sangat universal dan dapat dialami oleh siapapun.

Penggunaan metafora dalam penuturan kisah-kisah ini sungguh membuat saya tersentuh dan banyak melakukan refleksi.. saya sampaikan pemahaman saya pada beberapa orang teman dan saya senang mereka senang mendengarkannya.. *saya rasa, hal yang bagus tidak selayaknya disimpan sendiri*. Kisah tentang rasa takut tadi, misalnya. Seorang samanera (calon bhiksu muda) gagal dalam ujian ketahanan karena pikiran takut yang begitu menguasainya.. ia gagal meski telah berlatih keras. Ia gagal pada saatnya ia harus maju (Brahm, pp. 55 – 57).

Pengalaman seperti yang dialami oleh samanera tersebut tentunya sering kita –saya dan Anda– alami, bukan? Tenyata itu counterproductive, merugikan. Rasa takut dapat berwujud dalam banyak rupa.. memahami metafora akan mendukung kepekaan kita menangkap makna dibalik segala suatu yang terjadi di sekeliling kita, mengasah abstract reasoning kitaπŸ™‚

Buku ini sangat ringan dan menyenangkan. Jika Anda terjebak dalam anggapan bahwa filsafat itu memusingkan dan membosankan, maka Anda tidak akan menemukannya dalam buku ini. It’s so daily.. Anda tertarik? Ada waktu?? Have fun with it, then.. Selamat membaca!!

Judul buku: Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya (a litle bit vulgar, but once more I say.. it’s just a metaphore!). Please check this link for further information: http://sicacing.blogspot.com/

Saya tidak tahu mengapa penerjemah memberikan judul ini, judul aslinya Opening the Door of Your Heart. Penulis: Ajahn Brahm. Penerjemah: Chuang. Penerbit: Awareness Publication, 2009. Harga: 40rb-an (murraaah kann??)

Salah satu pesan moral dari kisah yang tertulis dari buku ini adalah manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, be here & now, dan nikmatilah hidup ini karena INI PASTI AKAN BERLALU.. waktu yang terpenting adalah SAAT INI, orang yang terpenting adalah IA YANG BERSAMA DENGAN ANDA SAAT INI, dan hal yang terpenting untuk dilakukan adalah PEDULI.. dan lirik lagu jadul di masa awal remaja saya ini tampaknya sesuai..

 

So little time so much to do, I’d rather spend my days with you.

So little time so much to do, Id like to spend one day with you.

And if that day is not enough, Maybe we can stay in touch,

But I’m not making plans for tomorrow, For tomorrow never comes…..

 

Lantas mengapa saya mengangkat kembali tulisan ini? Padahal sekuel bukunya aja udah ada lhohehehee… Yup! Saya memang sedang merasa takut nih… penyakit takut yang susah hilang, bagaimana tidak, kalau judul takutnya adalah a fear of uncertainty???? Padahal kan di dunia ini nggak ada sesuatu yang benar-benar tetap dan pasti… apalagi tentang kehidupan manusia… menemukan buku ini, bersama satu lagi buku Dalai Lama yang ada di rak buku saya tadi sore, “memaksa” saya melakukan refleksi lagi malam ini..

Setidaknya ada pengingat bahwa rapuhnya jiwa manusia lah yang membuat ia terjebak dalam ketakutan-ketakutan yang secara harfiah sebenarnya ia ciptakan sendiri…

Great books…πŸ˜€

I do hope I can sleep tight tonightπŸ˜€

Hehehehehheheheheee…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s