Proyek “Balas Dendam”


Ihihihihihihi…syerem sekali ini judulnya ya? Tidak dalam konotasi negatif kok, buddy… hanya semacam pelampiasan keinginan yang meluap-luap semenjak saya terkapar sakit😀

Hasilnya? Bros-bros cantik ini…

Untungnya, sakit tidak menghapus kemampuan saya untuk berkreasi😀 *lebay*

Eh iya, saya juga mau sedikit cerita inih… tentang “kunjungan” salah seorang tetangga saya (plus suaminya) ke rumah beberapa hari yang lalu dengan alasan “pengen liat-liat” aksesoris buatan saya. I didn’t even care what their real purpose was, hihihihihi…

Tapi teteeup, ada yang bikin jengah yeeee…ilustrasinya begini…

Istri (I) : “Mas, yang ini bagus yaa (sambil nunjukin salah satu bros)…”

Suami (S) : “Iya, pinter ya mbaknya madu-madankan warna. Bagus-bagus semua, ini lho bu, bagus…25 ribu”

Saya (Sa): –dalam hati saja– ah biasa aja, itu mah tergantung sense masing-masing, lagian rugi saya lama makan bangku sekolahan kalo nggak bisa ngasah sense.. *mesam-mesem*

I : “Iya, bikinnya juga rapi”

S : ” Tapi kalo kayak gini kalo udah punya anak pasti susah ya?”

I : “Iya lah harus pinter-pinter nyimpen, harus rapi terus.”

Sa: –dalam hati saja– yeee, itu mah tergantung masih-masing orang kaleeee…kalo dasarnya udah seneng yang rapih-rapih, biarpun punya anak, pasti akan ngusahain tetep rapih dong ah… *mesam-mesem*

S : “Susah ya kalo punya anak (masih) kecil, mana sempet mau bikin-bikin kayak ginian.”

Sa : –dalam hati– maksudnya apa ini orang? “Ah nggak juga, kalo memang punya anak itu merepotkan, mana ada orang di dunia ini yang mau punya anak, mas… optimis aja lah”

Itu adalah pertama kalinya saya menjawab komentar sinis para tetangga saya tentang ANAK dan BETAPA REPOTNYA MENGURUS ANAK.

Saya heran ya, kenapa mereka berkomentar seperti itu ke saya? Sering dan tidak hanya satu orang saja😦 Ada yang pernah mengomentari kebiasaan saya memasak sendiri SETIAP HARI, SEMUA MENU untuk makanan kami (saya dan suami) sehari-hari, kebiasaan yang membuat saya juga rajin belanja.

SI tetangga bilang, “Ah nanti kalo sudah punya anak nggak bakalan sempet begitu-begitu, anaknya pasti lebih seneng jajan.” Dalam hati, saya menjawab… “Helloooooo, kebiasaan anak itu menurun dari pola asuh orang tua kaleee mbaaaaaaaaaakkk!!! Kalo nggak dibiasain jajan dari bayi, mana anak ngarti jajanan?? Kalo dibiasain makan makanan rumah dan nyamil camilan rumahan, ya bisa juga to?”

Apakah sebegitu buruknya dampak memiliki anak pada kehidupan orang dewasa?? Jadi nggak bisa melakukan hobi, jadi nggak bisa berkreasi, jadi nggak bisa berkembang sebagai individu, gitu? Hadeeeeehhh, capeeee deeeehh…saya ini lagi hamil, tauuuu… saya jadi dongkol-dongkol gimana gituuuu…

 

Oke deh, auranya bikin nggak bagus ini…

balik lagi ke bros aja dah, ini nih hasil karya terbaru saya😀

Cekidot beibeh…

 

Saya sih berharap meskipun “direpotkan” dengan urusan anak nantinya, saya masih tetap bisa berkarya dan tumbuh sebagai individu. Kasihan sekali anak saya nanti kalo ibunya nggak bisa mengimbangi pertumbuhan dan perkembangannya. Saya ingin menjadi partner bagi anak saya, tidak sekedar ibu biologis saja. Begitu pula dengan suami, saya berharap dapatr terus menjadi partner hidup yang menyenangkan, tidak hanya berlabel sebagai suami dan istri tapi “hidup” terpisah dalam alam pikir masing-masing…

Semoga Tuhan mendengar doa saya malam ini… Amin😀

5 thoughts on “Proyek “Balas Dendam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s