Between You and Me


“Kayak masih muda aja, pake acara berduaan dan pacaran segala.”


Demikianlah isi pesan singkat dari teman kantor suami saya ketika ia meng-sms dan dijawab oleh suami saya bahwa suami saya dan saya sedang pacaran (berduaan).

Saya geli campur sebal dengan komentar dari si teman ini…

Apa pasal? Begini lho, memang kami (suami dan saya) sudah menikah ya, dan sebentar lagi insyaAllah dipercaya untuk momong anak sama Gusti Allah, tapi apakah perubahan status sebagai suami atau istri atau orang tua itu mengubah cinta kami satu sama lain sebagai individu?

Iya, pasti ada yang berubah. Dan menurut saya, sebaiknya perubahan itu bukan berupa pengurangan melainkan pertambahan. Cinta bertumbuh seiring meluasnya ruang hati kita untuk perubahan dalam hidup, bukan?

Sewaktu pacaran saja, sayang-sayangan tiada henti…lantas kenapa harus berhenti saat sudah menjadi pasangan suami-istri? Malu? Malu kenapa memangnya? Malu sama umur? Lho memangnya kalau sudah tua ndak boleh berkasih sayang? Kalau sudah tua ndak boleh mencintai – dicintai? Hweerrran dwegh!

Cinta itu bertumbuh, harusnya semakin kuat dan kokoh…karena hidup yang kita hadapi tidak semakin mudah melainkan sebaliknya, semakin melibatkan banyak hal. Siapa sih pasangan anda itu? Suami atau istri itu sebenarnya siapa? Teman tidur atau partner seks legal? Partner proses reproduksi? Orang yang membiayai hidup? Sahabat? Teman curhat? Penguat dan pendukung? Atau apa? Please, define it so you can do the best to treat him/her responsively and maintain your relationship stable…

Geli deh, usia saya 26 tahun, tahun ini…sudah terlalu tua kah untuk tampil bergandengan tangan dengan laki-laki berusia 27 tahun yang sudah saya nikahi? Aneh kah kalau kami nonton film atau makan bareng di luar?

Menurut saya sih, semakin kita dapat melestarikan kebiasaan romantis saat pacaran ketika sudah menikah, itu justru semakin baik. Agar kita tetap punya benang merah dengan kenangan…untuk menjawab pertanyaan “why do I choose this guy/girl to be my mr./ms. right for entire of my life?“…

Bahkan ketika sudah memiliki anak pun, menurut saya, tetap penting bagi pasangan untuk memiliki waktu berkualitas untuk mereka sendiri, berdua saja…katanya, I love you for better or worse, jadi ya semua dihadapi berdua dong, sebagai tim gituh…saya sih berharap nanti akan seperti itu, tetap solid sebagai tim, sebagai kesatuan…itu intinya kenapa kita memerlukan teman hidup kan?

Begitulah…ungkapan kegelian saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s