One Day in My Life


Apa yang saya rasakan sekarang? Saya merasa hampa… mungkin seperti itulah rasanya ketika rasa sakit datang bertubi-tubi… pada akhirnya, tak terasa apapun lagi… Saya berharap dengan menuliskannya, saya dapat mengurai makna yang masih tersembunyi entah dimana…

Saya menyadari, saya termasuk orang yang sangat peka… itu lah yang membedakan saya dengan yang lainnya, karena saya begitu mudah menyerap segala hal yang terjadi di sekeliling saya. Hal sekecil apapun dapat menjadi berarti bagi saya. Memang, menjadi seperti ini terkadang cukup melelahkan. Namun saya tidak dapat melepaskannya… nah, saya menemukan bahwa yang dapat saya lakukan adalah mengolah kepekaan saya menjadi suatu komoditas yang akan mendukung profesi saya nantinya, sebagai psikolog.. bukan semata-mata membuangnya.

Sore tadi, saya berbincang dengan dosen pembimbing akademik saya. Beliau menanyakan mengapa saya mudah menangis… *OKE, BANYAK ORANG YANG AKAN MENGATAKAN SAYA LEBAY, GO A HEAD.. SAYA MEMANG LEBAY*

Sesungguhnya, setelah saya timbang-timbang, saya banyak berpikir menggunakan hati saya.
Pernah mendengar “emotion focus coping” ?? Jika anda pernah mendengarnya, tentu anda pernah mendengar pula saudara kembarnya, yaitu “problem focused coping“… Bagaimana anda memperbandingkan keduanya? Apakah anda menilai salah satu lebih baik dari yang lain? Apakah yang lebih baik itu adalah yang kedua? Hmmmm………..

Coping adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka menghadapi ups & downs dalam hidup.. misalnya: cara kita ketika menghadapi putus cinta, bokek tidak punya uang, gagal dalam karir atau tugas, dan lain-lain…dan lain-lain… Sesuai namanya, emotion focus coping terkait dengan pengelolaan emosi, sedangkan problem focused coping terkait dengan fokus permasalahan.
Menurut saya, tidak ada di antara keduanya yang dapat berdiri sendiri. Semuanya memerlukan formulasi yang pas agar dapat diterapkan secara operasional dalam realitas kehidupan sehari-hari.

Dalam kasus saya, saya perlu mengenali sedalam apa saya berpikir menggunakan perasaan saya.. boleh jadi, terlalu memforsir perasaan akan membuat kepekaan saya berkurang *menjadi mati rasa dan hampa seperti tadi*. Saya perlu belajar menempatkan proporsi kedua tipe coping tadi agar saya dapat lebih efektif bekerja sebagai konselor/psikolog nantinya…

Berhadapan dengan diri sendiri adalah sesuatu yang sulit, memang… kita sebenarnya mengetahui dengan pasti dimana letak kebusukan kita, kadang inilah yang kita tutup-tutupi.. hmmmm, ditutup-tutupi dari siapa? orang lain? atau diri kita sendiri? big big biiiiiiiiiiiiiggggggggggggg question… *pada bagian ini mungkin ya.. letak integritas personal itu..

Begitu pekanya saya, selama ini saya mudah merasa bersalah. Setelah saya timbang-timbang, ini bodoh!! hahahahhaaaaa………….. rasa bersalah yang mudah muncul menunjukkan betapa saya membutuhkan pengakuan dari orang lain, menunjukkan betapa saya tergantung pada penilaian orang lain atas segala hal yang saya lakukan. Jika kita sama di mata Tuhan, mengapa saya memposisikan diri saya submisif seperti itu? Sama halnya saya tidak menghargai kreasi Tuhan atas diri saya, karena begitu dangkalnya saya membutuhkan penilaian dari manusia, bukan dari Tuhan.

Jika saya tidak berpikir menggunakan perasaan saya, mungkin insight seperti ini tidak akan pernah hadir dalam hidup saya… saya akan terus mengejar apa yang tampak, tanpa mengetahui bahwa yang tampak itu bahkan dapat menipu..semu.. Jadi saya patut bersyukur, sekali lagi, Tuhan memberi kesempatan bagi saya untuk hidup dengan cara-Nya..

Hidup adalah perjalanan yang panjang.. sepanjang jalan akan ada batu, kerikil, akar tanaman, onak yang menyakitkan kaki kita saat melaluinya.. sepanjang jalan akan ada masanya kita kelelahan, kehausan, kelaparan, sepanjang jalan akan ada banyak hal yang ditemui…
Benar kata seorang supervisor saya, bahwa dengan banyaknya rintangan, saya akan dapat banyak belajar… dan suatu saat nanti, saya akan mengingat hari dimana saya merasakan sakit, dengan tersenyum… bahwa saya telah melaluinya dengan selamat🙂

Saat itu, saya akan membagikan kisah perjalanan tersebut dengan penuh sukacita..

One Day In Your Life
by: Michael Jackson

One day in your life
You’ll remember a place
Someone touching your face
You’ll come back and you’ll look around, you’ll . . .
One day in your life
You’ll remember the love you found here
You’ll remember me somehow
Though you don’t need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You’ll remember one day . . .
One day in your life
When you find that you’re always waiting
For a love we used to share
Just call my name, and I’ll be there
You’ll remember me somehow
Though you don’t need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart
You’ll remember one day . . .
One day in your life
When you find that you’re always lonely
For a love we used to share
Just call my name, and I’ll be there..

PS: Kalau dalam setiap tulisan saya, saya menganalisis diri sendiri, bukan berarti saya narsis, tapi saya ingin membagikan apa yang saya temui, rasakan, pahami, dengan orang lain… pun semuanya dapat menggeneralisasikan ke dalam kehidupan dan pribadi masing-masing.. karena menurut saya, yang saya bagi adalah nilai-nilai universal sebagai manusia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s