In Her Circumtances (2)


Tentang diriku

Aku memberanikan diri untuk menyentuhmu. Aku tahu itu melukaiku, mungkin juga melukaimu. Namun membiarkan hatiku seperti ini ternyata juga menyakitkan. Ternyata aku tak sekuat itu. Sekarang aku mohonkan waktu untuk kita bisa luangkan waktu bersama, duduk, dan bicara.

Sejak awal, kutahu ini adalah tentang aku, aku yang semakin lama semakin mencandumu. Aku pasti sudah gila saat ini karena saat memejamkan mata, yang terlintas adalah sosokmu. Sebegitu berharga kah dirimu bagiku? Entahlah.. aku pun tak ingin mengetahui jawabannya yang tampaknya tidak akan melegakan hatiku. Bingkisan ulang tahun itu belum lagi kubuka, kurasa aku takkan sanggup menemukan apa isi di dalamnya.

Aku mengasihimu. Hingga kini… mungkin kau tak peduli karena kau terlalu sibuk berlari. Tak apa. Sejak awal, kutahu ini semua sungguh hanya tentang aku.

Bahkan ketika aku berkata bahwa kau datang dan pergi begitu saja seperti angin berhembus tertahan di sela pergantian musim yang menyesakkan dan menyisakan perubahan, itu pun sungguh hanya tentang aku. Pemahamanku atas ada dan tiadanya dirimu, pemahamanku atas ada dan tiadanya diriku, dalam siklus pertemuan kita di persimpangan kehidupan ini.. sungguh subjektif. Kau terlalu sibuk untuk melihatku, karena memang aku bukan bagian darimu lagi. Aku bukan siapa-siapa.

Kau yang pergi dan aku yang menanti…

Apakah kau pernah menyisakan kasih itu untukku?

Tampaknya aku harus melepaskanmu. Aku harus merelakanmu untuk benar-benar pergi. Aku harus berhenti menanti. Apakah kau mengijinkanku merelakanmu? Apakah kau akan menahanku? Atau kau akan dengan mudah melepaskanku? Sungguh ini semua adalah tentang aku, tapi aku ingin tahu apa yang ada di benakmu… apakah pertemuan kita bermakna atau hanya sekedar angin yang berlalu mengikuti arakan awan?

Selama ini aku terlalu takut untuk menahanmu pergi.. dan aku pun terlalu lemah untuk mempertahankanmu.. saat ini, mau tak mau aku tetap harus memilih.. bukan demi dirimu, namun demi kebahagianku sendiri.

Tentang Kita

Pergilah mengejarnya… aku lelah terjebak dalam lingkaran ini.. aku mencintaimu yang mencintainya.. sehingga hatiku membatu untuk dia yang mencintaiku.. seharusnya tidak begini kan? Seharusnya kita semua bahagia.. mencintai dan dicintai..

Jangan meragukan kasihku. Jangan meragukan doa-doaku untukmu. Itu tulus.. dan aku bahkan takkan berani meminta imbalannya pada Tuhanku! Aku hanya berharap kau bisa menemukan kebahagiaan dalam pelarianmu. Ingin rasanya aku menawarkan diri sebagai tempatmu kembali, namun aku meragukan apakah itu cukup untuk kita bertahan… apakah itu cukup berharga buatmu untuk tetap tinggal di sisiku…

Tampaknya tidak.

Mungkin kelak, di suatu masa..
Akan ada kesempatan untukku memperbaiki semua
Aku mencintaimu
Aku mengasihimu
Selamanya begitu
Aku mencoba berkata: tak apa jika kau pergi
Mungkin aku tak akan lagi menanti..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s