Di Persimpangan


Tulisan ini adalah hasil perenungan saya semalam setelah melalui 4 hari berinteraksi dengan para psikolog senior pada kegiatan pelatihan pra-konas dan konas IPK…

Ibaratnya, saya sekarang berada di persimpangan lain dalam hidup saya..


Empat tahun yang lalu ketika saya menyelesaikan pendidikan strata satu psikologi di salah satu universitas terbaik di negeri ini (hahahahha.. disensorđŸ˜› ) dengan predikat sebagai salah satu lulusan terbaik pula… saya mengalami kebingungan yang hampir sama dengan kebingungan yang saya rasakan sekarang. Bingungnya sama tetapi kadar kebingungan itu menjadi lebih kompleks sekarang…

Empat tahun yang lalu, waktu itu tahun 2006, umur saya 22 tahun…
Tahun ini, umur saya 26 tahun…

Empat tahun yang lalu, pada akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya dengan mengikuti program magister profesi psikologi –masih di universitas almamater saya–
Tahun ini, apakah saya akan melanjutkan pendidikan saya dengan mengikuti program doktoral????

The answer is a BIG NO NO NO…

Saya sangat suka sekolah, saya suka belajar, tapi untuk sekolah doktor saya akan berpikir ulang 1000X

Dan inilah akar kebimbangan saya saat ini…

Selama menjadi bagian dari konferensi nasional Ikatan Psikolog Klinis (IPK), saya banyak melihat role model seorang psikolog itu yang seperti apa.. Apakah seperti Ibu Prof. Sawitri S. Sadarjoen? Apakah seperti Ibu Ratih Ibrahim? Pokoknya banyak lah contoh yang dapat dijadikan role model…

Saya teringat percakapan saya dengan salah seorang dosen saya, sekitar 2-3 minggu yang lalu.. bahwa beliau sangat mendukung saya untuk menjadi dosen (seperti beliau) karena beliau melihat potensi yang luar biasa pada diri saya untuk menjadi pendidik.. (catat: bukan hanya pengajar, tetapi juga pendidik). Beliau dengan senang hati akan memberikan rekomendasinya ke universitas mana pun yang saya inginkan menjadi tempat bekerja saya sebagai dosen.

Saya sempat tercenung dan kemudian berkata pada beliau, “Apakah saya harus menjadi dosen, ibu? Saya ingin jadi praktisi saja”

Beliau menjawab, “Bisa saja, sambil nanti nunggu kamu ketrima jadi dosen”. Dan saya tersenyum… senyum yang gamang.

Menjadi dosen awalnya memang menjadi angan-angan saya.. menjadi akademisi, menjadi peneliti, menjadi pendidik, menjadi penular nilai.. hmmm sepertinya menyenangkan dan merupakan pekerjaan yang prestisius di masyarakat. Saya dulu berpikir, saya pasti akan terlihat keren kalau saya bekerja pada sebuah instansi yang prestise nya tinggi lalu ketika ditanya saya akan menjawab dengan dada menggembung, “SAYA BEKERJA DI UNIVERSITAS X LHO” hahahhahahaha….

Sekarang, setelah pengalaman akhir tahun lalu yang sempat membuat saya terserang depresi, saya berpikir ulang tentang segala hal, merestrukturisasi semua pemikiran yang telah saya bentuk…

1. Tentang falsafah hidup. Saya adalah penganut aliran feminis naturalis, bahwa perempuan memiliki kekuatan khasnya yang tidak dapat dibandingkan dengan kaum laki-laki, meski demikian kaum perempuan juga memiliki kesempatan dan kapabilitas yang sama untuk melakukan segala suatu yang dilakukan oleh lelaki. Maka dari itu, saya melatih diri saya untuk mandiri, unggul dengan kemampuan sendiri, tidak bergantung dan bermanja-manja dengan laki-laki hanya untuk masalah sepele yang sebenarnya dapat diatasi sendiri. Lalu, kemudian saya menemukan bahwa laki-laki senang bila memiliki pasangan yang lemah yang kemudian akan meminta bantuannya. Kesimpulan ini saya peroleh ketika pasangan saya berselingkuh dengan perempuan yang dari sisi manapun levelnya berada di bawah saya. Hmmm… kemudian saya berpikir, mungkin saya harus menyesuaikan diri… tidak ada salahnya berpura-pura tidak mampu, toh saya tahu saya sebenarnya mampu. Ini demi menghargai pasangan, karena saya menyadari bahwa saya juga memiliki kecenderungan untuk menjadi dominan. Dalam satu perahu, hanya boleh ada satu nakhkoda, bukan? Saya kemudian mempelajari lebih jauh mengenai konsep “kanca wingking” dalam budaya Jawa… oh maksudnya begitu…

2. Tentang pekerjaan. Sebelumnya, saya berpikir menjadi perempuan berkarir itu akan meningkatkan pride saya. Ternyata kemudian pemikiran itu bergeser pada pemaknaan yang jauh lebih lebih dalam daripada sekedar mengejar pride di mata orang lain atau di mata masyarakat umum, bahwa “Ketika melakukan segala sesuatu itu jangan lah demi orang lain, tapi lakukan demi diri sendiri”. Ada pergeseran prioritas dalam hidup saya. Awalnya saya berpikir bahwa aktualisasi diri perempuan hanya dapat tercapai ketika ia bekerja atau berprofesi secara resmi…ternyata saya merevisinya sendiri, bahwa akan ada banyak cara bagi seorang individu untuk tumbuh dan berkembang. Artinya, tidak ada batasan bahwa ia harus melakukan ini dan itu, menjalani a, b, c, d sampai z untuk dapat berkembang. Karena, perkembangan pribadi tentunya sangat personal dan subjektif sesuai dengan pengalaman dan pemaknaan individu yang bersangkutan terhadap pengalaman tersebut. Apakah perempuan yang menjadi ibu rumah tangga lebih terbelakang dan tidak teraktualisasi dibandingkan perempuan yang menjadi politisi? Kita tidak bisa mengambil kesimpulan umum atas hal ini.

3. Tentang perkawinan, dulunya saya tidak menganggap perkawinan itu suatu hal yang perlu dilakukan. Ketika pertama kali saya dilamar, saya mengacuhkannya… saya tidak siap menggadaikan mimpi-mimpi saya menjadi perempuan yang kuat (dan egosentris, hahahahha) dengan segala tetek bengek printilan pride itu tadi. Kemudian, saya banyak merenung… hal-hal apa yang paling saya nikmati dalam keseharian saya? Ternyata saya ini benar-benar perempuan Jawa banget… otak saya mungkin memang telah banyak menyerap banyak informasi dari luar, tapi jiwa saya ternyata sangat nJawani… nah, sekarang saya harus menyelaraskan kedua komponen besar ini… antara mind dan spirit, karena benturan yang sering terjadi dalam diri saya adalah ketika logika saya tidak selaras dengan pemaknaan jiwa saya.

Dua hari yang lalu saya sempat berdiskusi singkat dengan adik tingkat saya yang imut dan supercerdas, tentang bagaimana perempuan menempatkan diri di lingkungan sosial yang menuntut perempuan berpendidikan tinggi –kami– untuk berperan dalam masyarakat.. lagi-lagi, peran yang dimaksudkan adalah peran untuk meningkatkan strata sosial-ekonomi, lagi-lagi terkait dengan prestise dan pride. Adik tingkat saya ini sudah tinggal sejengkal lagi menyelesaikan skripsinya, persis berada di posisi saya 4 tahun yang lalu. Dan kami kemudian menyepakati bahwa inilah tantangan untuk kami, untuk menguatkan diri, menikmati kehidupan kami, dan memaknai setiap momen yang terjadi di dalamnya.

Hmmm… tampaknya sangat absurd ya?

Kembali lagi ke pertanyaan dasar, apa sih yang dicari dalam hidup ini?

Sebenarnya, kenapa to kok saya menuliskan ini semua? Saya masih dalam masa penyembuhan diri. Saya perlu untuk terus berinteraksi dengan dunia luar. Ketika menghadapi permasalahan dalam hidup (baik itu sakit, perubahan krusial, kehilangan, kematian, dan lain-lain), manusia akan melewati 4 tahapan, yaitu:

1. Denial >> menyangkal
Misalnya dengan berkata “saya baik-baik saja” padahal di dalam hatinya dia marah atau sedih setengah mati…

2. Anger >> marah
Biasanya akan dilalui dengan banyak proses penyalahan, mulai dari penyalahan terhadap pencetus masalah (mostly orang yang menyakiti), penyalahan pada Tuhan, hingga penyalahan pada diri sendiri

3. Bargaining >> menawar
Ketika amarah sudah mulai mereda, kita sudah bisa mulai berpikir dengan kepala dingin,mulai mencoba mencari jalan keluar, mulai nemawar “Jika saya melakukan ini, mungkin nanti hasilnya akan lebih baik” atau “Nanti saya akan berhenti begini, semoga ke depannya hubungan kami menjadi lebih harmonis” dan seterusnya.. mulai membangun harapan di atas rasa sakit yang masih sering datang menyerang.

4. Accept >> menerima
Mencapai pemaknaan bahwa segala rasa sakit yang dirasakan adalah merupakan bagian dari hidup yang memang harus dijalani pada masa ini, sebagaimana dulu juga pernah mengalami masalah-masalah yang lain.. ibarat anak sekolah/kuliah, memang saat ini adalah waktu ujian.. menerimanya sebagai bagian dari proses kehidupan, seperti halnya ketika kita makan, mungkin ada kalanya kita memang harus merasakan cabe yang pedas..

Saat ini, saya berada di tahap 2 dan 3.. bergerak dia antara itu.. kadang sampai pada tahap 4 tapi kemudian amarah itu masih sering datang mengunjungi… hehehehe…

Dan tulisan ini adalah bentuk penawaran yang saya berikan pada diri saya sendiriđŸ˜›
Saya berada di persimpangan, dan memang kewajiban saya terhadap diri saya sendiri untuk mengambil keputusan jalan mana yang akan saya tempuh..

Life is a matter of change, somehow we’ll change, everybody change, this world change..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s