Cinta yang Membebaskan


Betapa mudahnya menjadi manusia yang menyalahkan orang lain atas ketidakbahagiaan yang dialaminya, atau penderitaan yang dijalaninya…

Itulah pemikiran yang terlintas dalam benak saya ketika saya membuka wall seseorang dan membaca statusnya…

Saya tercenung, dan hampir saja merusak malam saya yang indah ini dengan menjadi impulsif merespon sesuatu yang memang pada dasarnya membuat saya mual karena jijik sekaligus marah… lalu saya pikir, inilah ujian saya sebagai psikolog. Saya kelak akan menghadapi berbagai macam karakter orang dari yang paling skeptis hingga yang super lebay🙂

Ketika berbicara tentang penderitaan, saya ingat beberapa bagian dari buku The Art of Happyness-nya Dalai Lama (sepertinya jadi buku favorit nih) bahwa penderitaan adalah sinonim dari hidup.

Berani untuk hidup adalah berani untuk menderita, dan manusia memang akan selalu menemui penderitaan. Mengapa demikian?

Karena manusia hidup dalam waktu.. masa lalu, masa kini, masa depan.
Dalam hemat saya, semua itu berkaitan dan saling memiliki hubungan sebab akibat. Seperti halnya konsep tentang karma, siapa yang menanam maka dia lah yang menuai. Saya sangat percaya pada hukum sebab-akibat itu.. makanya seringkali saya lebih memilih untuk menyalahkan diri saya daripada mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain. Maka dari itu, kaca mata personal saya membenci orang yang menyalahkan orang lain dan menyalahkan keadaan atas penderitaan yang ia alami.

Dan ternyata.. menyalahkan diri sendiri adalah sumber dari penderitaan pula! Saya membuktikan bahwa menyalahkan diri sendiri adalah sumber dari rasa rendah diri dan tidak berharga –penderitaan yang dibuat sendiri– yang berakibat penghancuran diri.

Orang sering menyebutkan sumber penderitaan adalah cinta. Salah besar! cinta tidak akan menghadirkan penderitaan. Yang menghadirkan penderitaan adalah segala hal yang melekat pada cinta, misalnya: keinginan memiliki, perasaan takut kehilangan, kebergantungan, ketakutan, dan kawan-kawannya… semua hal yang merupakan bentuk kemelekatan (attachment).

Mengapa seseorang mengalami kemelekatan pada objek cintanya?

Tentu banyak alasan, karena yang dicintai cantik/tampan, baik hati, pendengar yang empatik, powerfull, berduit, royal, hebat di atas ranjang, punya mobil bagus, body-nya oke, susah didapatkan, obat kekecewaan masa lalu, dan seterusnya. Semua itu adalah atribut kemelekatan. Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang lepas dari semua atribut itu. Cinta yang tanpa alasan, cinta yang menerima, cinta yang membebaskan… bila ada cinta yang seperti itu, takkan ada penderitaan atas nama cinta.

Dee (Dewi Lestari) menulis dalam novelnya, Perahu Kertas, bahwa hati itu dipilih oleh cinta, bukan hati yang memilih.. Menurut saya, filosofinya adalah kita tidak bisa memaksakan cinta.

Lantas siapa yang bersalah ketika kita merasa sakit hati? dikhianati? dibohongi? dipecundangi?

Tidak ada yang salah.
Dalam hal ini, inilah yang dimaksud Dalai Lama sebagai penderitaan bagian dari hidup. Hidup kita yang berpacu dalam waktu akan bergerak dinamis. Akan banyak terjadi perubahan, yang memang seharusnya terjadi dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apakah kita bisa melawan proses penuaan? Tidak. Apakah kita bisa menghentikan datangnya malam (maunya siang terus) dan sebaliknya? Tidak. Semua mengalami perubahan, termasuk diri kita dan orang yang kita cintai.

Kita berproses, dia juga berproses..

Lantas apa yang akan dilakukan jika merasa sakit?

Jika pertanyaan itu ditujukan pada saya, maka saya menjawab saya akan melaluinya. Jika dulu saya mencari-cari bagian dari diri saya yang menjadi sumber malapetaka, sekarang tidak lagi. Kesadaran itu datang tepat di saat saya terpuruk paling dalam dan menangis paling kencang. There’s no one left to blame! Menikmati penderitaan terdengar sebagai ratapan seorang masokis, tapi bagi saya tidak semata-mata berdiam diri.. namun belajar dari proses menderita itu sendiri.

Cinta itu membebaskan..

Seorang teman saya menuliskan: Hal pertama yang harus kita lakukan adalah jangan mengharap sesuatu saat kita memberikan cinta kepada orang lain, ingatlah bahwa konteks kecintaan kita adalah kecintaan sejati pada Allah, bukan duniawi, karena cinta duniawi bersifat egois dan cenderung menipu, cinta yang hanya mementingkan diri sendiri, cinta yang terbangun oleh obsesi ingin memiliki. Cinta dijadikan spekulasi, mencintai harus saling memiliki.Cinta seperti ini amat berbahaya, orang yang gagal dalam percintaan konteks ini setidaknya akan mengalami dua hal. Pertama : Penghancuran diri sendiri, seperti stress, menyiksa diri dan akhirnya Harakiri. Kedua : Menghancurkan obyek yang dicintai, dengan tujuan agar orang tersebut mengalami penderitaan yang sama. Cinta seperti ini tidak bisa disebut cinta., yang seharusnya bila kita mencintai adalah kita mempunyai hati yang besar untuk dapat menampung cinta orang yang kita cintai kepada orang lain. Dengan begitu maka akan timbul pertanyaan : sebesar apakah hati yang dapat menampung cinta di seluruh semesta ini ?… “Sebesar cinta itu sendiri”.

Kebahagiaan adalah tanggung jawab kita pribadi. Bukan kewajiban orang lain untuk membahagiakan kita…

Ketika kita mencintai, maka yang terpenting adalah mengijinkannya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, lebih matang, lebih utuh… maka dengan sendiri cinta menemukan hati yang akan dipilihnya sebagai pelabuhan cinta. Jika saya ditanya, apakah saya mencintai calon suami saya.. saya akan menjawab bahwa saya sedang belajar mencintainya… dan akan terus belajar karena seiring waktu dia dan saya akan mengalami perubahan dan sekali lagi, kita tidak dapat memaksakan cinta. Yang dapat saya lakukan adalah membuka hati saya seluas-luasnya untuk segala kemungkinan yang akan terjadi dan berpasrah pada Gusti..karena Gusti lah Sang Maha Agung pemilik segala yang ada di semesta ini…

Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s