Ambang Petang


Ambang petang..

Pantai itu tampak mulai ditinggalkan para pengunjungnya. Aroma sepi senja dan beku malam mulai menguar sejauh mata memandang pada hambaran permadani bergelombang yang berwarna biru jingga karena pantulan cahaya matahari kekuningan di ufuk barat. Suasana pantai itu seketika berubah muram, gelam, murung, dan penuh misteri.

Sedari tadi, muda-mudi yang saling bercengkerama di pantai itu telah pergi. Mereka seolah berlari menghindari sepi senja di pantai. Kesepian yang entah mengapa seolah mampu membuka berbagai luka yang tersimpan dalam hati, luka yang sengaja ingin diusir pergi. Muda-mudi pecinta itu masih sangat muda, mungkin usianya belum genap dua dekade. Tahu apa mereka tentang sepi?

Dan perempuan itu masih di sana. Tak bergeming ia dari tempat duduknya semula. Di bawah sebuah pohon tua yang entah ia sendiri pun tak tahu namanya. Yang ia tahu, pohon ini lah kawannya yang setia selama bertahun-tahun ia mendatangi pantai ini. Sendiri atau berdua, tak ada beda baginya. Hanya pohon tua itu yang tetap ada. Lainnya datang dan pergi. Akhirnya, hanya perempuan itu sendiri.

Perempuan itu terduduk lama sekali. Dipandanginya deburan ombak yang melandai di bibir pantai berpasir putih itu, lama sekali. Ia mungkin tak menyadari bahwa air telah mulai pasang, bahwa air itu seolah siap menelannya jika ia tak menggeser tempat duduknya dan beralih pergi ke bagian pantai yang lebih tinggi. Perempuan itu tak peduli.

Di pantai yang sunyi sepi ini, kepalanya terlalu bising dipenuhi oleh suara-suara yang saling bersahutan memohon untuk didengarkan si empunya. Perempuan itu berusaha tak peduli, namun ia tahu dengan pasti, selain pohon tua, suara-suara itu lah karibnya yang setia. Ia mulai mendengarkan atau lebih tepatnya, memilih untuk mendengarkan. Inilah dunianya, batin perempuan itu dalam benaknya. Sebuah dunia yang tak mungkin ia hindari. Tak ada tempat lagi baginya di mana pun itu. Hanya ada dirinya, pantai, pohon tua, dan suara-suara. Di ambang petang ini…

“Kau harus berhenti bertanya tentang banyak hal”, kata suara pertama dengan sangat lantang, membuat perempuan itu terhenyak dari kekosongan pandangan matanya, “Tak ada gunanya kau bertanya, karena tidak ada jawaban. Kau buang-buang waktumu untuk hal yang tidak ada? Bodoh.”

Bukan hanya sekali dua kali, suara melengking itu mengatai dirinya bodoh. Perempuan itu merasa terganggu. Keningnya berkerut dan kedua tangannya mengepal menggenggam pasir.

Suara yang ia tahu adalah perwujudan dirinya ingin menjawab, “Mengapa aku diberi otak jika aku tidak boleh berpikir? Mengapa aku diberikan mulut jika aku tidak boleh bicara, tidak boleh bertanya? Mengapa aku masih saja hidup sampai sekarang?”

“Nah kan, kau banyak sekali bertanya. Tak bisakah kau hanya menerima?”
“Mengapa aku harus menerima?”
“Kau memang keras kepala!”

Perempuan itu benci jika harus berdebat dengan suara melengking itu. Ia tahu ia selalu kalah. Pada akhirnya ia harus menerima. Menerima hidupnya, menjalani hidupnya, mati dalam hidupnya.

Mati…
Perempuan itu tak tahu mengapa ia suka sekali kata mati. Ia tak pernah mendapat jawaban, mengapa ia suka kata mati. Ia hanya meyimpan harapan bahwa mati dapat mengakhiri semua penderitaannya di dunia. Tapi sejenak ia gamang, ia belum mau mati sebenarnya. Mungkin yang ia inginkan adalah matinya laki-laki haram jadah itu. Matinya perempuan laknat itu. Matinya orang-orang yang menginginkan kematiannya.

“Tidak baik memikirkan hal-hal yang buruk, itu hanya akan merusak dirimu. Membuatmu mati dari dalam. Sayang sekali…”, sahut suara kedua, suara yang mendinginkan kepalanya. Hanya sesekali saja dia datang, dan lebih sering lagi ia diabaikan.

“Lantas aku harus berpikir hal yang baik tentang mereka? Mendoakan mereka berbahagia selamanya dan membuangku, begitu?” Perempuan itu mendebat, ia menggugat.

“Hahahahaa… kau tidak pernah bisa berhenti bertanya!! Payah!” Seringai suara pertama padanya

“Kau bisa mulai memaafkan, sayang… sembuhkan lukamu” Kata suara kedua yang lembut bak beledu

“Ya ya ya.. katakan saja semaumu, kau bukan aku. Kau tidak merasakan apa yang kurasakan. Coba saja, jadilah aku. Kupastikan kau akan lebih muram daripada tampangku sekarang. Tidak mudah hidup dalam semua kekacauan ini, kau tahu? Kau hanya suara basi, mana kau tahu tentang hidup. Aku bahkan meragukan bahwa kau hidup!” Perempuan itu menggumam panjang lebar. Jika ada orang yang lewat di dekatnya, pastilah ia disangka orang gila. Lalu perempuan itu diam. Suara-suara itu diam.

Perempuan itu masih memandangi hamparan permadani yang kini berwarna jauh lebih gelap. Matahari pergi tak bersisa. Malam hanya mnghadirkan memoar kepedihannya yang tak kunjung reda. Sudah bertahun-tahun sejak kejadian itu, perempuan itu belum bisa melupakannya. Belum bisa memaafkan. Belum bisa melepaskan. Ia masih menggugat, ia masih bertanya.

“Kau kuat, sayang. Kau bisa melalui ini segera. Ada banyak kesempatan yang sayang bila kau lewatkan.. kejarlah itu, tinggalkan sedihmu di masa lalu. Masa lalu adalah sejarah. Tak ada yang tahu seperti apa masa depanmu. Untuk itu lah kau ada di sini menikmati masa sekarang, bukan untuk bermuram durja menghadap ke belakang, ke masa lalu”, akhirnya suara kedua angkat bicara. “Masa depanmu kau tentukan sekarang.”

“Apakah aku bisa? Apakah aku mampu? Mengapa begitu sulit untuk keluar dari kegelapan sakit hati ini?”

“Itu karena kau selalu bertanya. Jadinya kau selalu mengharap jawaban dan ketika jawaban itu tidak sesuai yang kau inginkan, kau merasa kecewa.”, suara pertama menimpali, kali ini suaranya lebih rendah dan tidak memekakkan telinga, “Mungkin kau memang harus diam.”

“Aku tidak bisa diam. Aku bisa mati kalau diam. Aku mati! Mereka akan bersorak-sorai kalau aku mati. Itu yang mereka inginkan sejak dulu bukan?”

“Aku bosan bicara padamu. Aku akan pergi”, lanjut suara pertama

“Tidak, tidak.. jangan pergi, tolong jangan pergi! Baik, aku akan berusaha untuk diam.” Perempuan itu mendadak bangkit dari duduknya dan tampak seperti menahan kepergian seseorang.. senyatanya, ia menahan perginya kewarasan yang tersisa dalam dirinya..

“Kita bertiga tahu kau mampu melalui ini, tanpa perlu menunggu selama ini. Tak mengerti kah kau bahwa kami percaya padamu?”, kata suara pertama. “Aku hanya ingin kau menemukan jalanmu yang baru, bukan jalan buntu yang selama ini selalu kau pilih, bukan pula tembok tempat kau bentur-benturkan kepalamu saat kau tidak tahu harus berbuat apa. Kau bisa berbuat yang lebih baik!”

“Apakah aku bisa?” Perempuan itu duduk kembali, kali ini tidak diatas pasir, namun di atas cabang pohon tua yang ada di belakangnya. Kaki lincah dan tungkai panjangnya tidak mengalami kesulitan melontarkan tubuhnya ke cabang itu. Kakinya berayun perlahan.

“Satu-satunya yang membuatmu tidak bisa adalah keraguanmu itu, sayang. Lihatlah dirimu, apa yang kau miliki lebih dari cukup.”, timpal suara kedua..

Perempuan itu menunduk memandang dirinya sendiri, dari dada hingga ujung kakinya yang masih berayun lemah.

Suara pertama berkata, “Pandanglah jauh ke dalam…”
“Kami hanya bisa bicara, sayang… percaya lah… kau berhak untuk bahagia.” Lanjut suara kedua
“Benarkah?”
“Demi Tuhan, berhenti lah bertanya! Kau hanya perlu percaya, maka sakit itu akan pergi” hardik suara pertama
“Tidak mudah… tidak semudah itu, kawan.” Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya tanda ketidaksetujuan. “Orang bilang, kau bilang, kalau aku berpikir yang baik-baik saja maka aku akan mendapatkan hal yang baik. Tapi tahukah kau, hukum itu tidak berlaku padaku.”
“Hanya belum waktunya.”
“Harus berapa lama?”
“Hingga kau berhenti bertanya”

Perempuan itu turun dari cabang pohon tempatnya duduk. Ia berjalan menuju air. Dijejakkannya kaki-kaki panjang itu di dalam air. Sempat ia bergidik saat kaki-kaki itu bersentuhan dengan dinginnya air laut. Ia terus berjalan masuk hingga sebatas lututnya terendam. Perempuan itu berkali-kali datang ke pantai, namun baru kali ini ia masuk ke dalam laut. Ia tidak pernah berani sebelumnya. Ia merasa ombak akan menggoyahkan pijakannya. Dan sekarang ia mencoba masuk lebih dalam. Perutnya mual karena limbung, namun senyatanya ia masih berdiri.

Dalam diam, ia merasakan perlahan ombak memanjakannya dalam buaian. Air laut tak sedingin tadi, ia mulai merasakan telapak kakinya nyaman di bawah sana. Sebelumnya, ia selalu takut ada lintah, duri, ubur-ubur beracun atau apa saja lah yang dapat membahayakan keselamatannya. Namun kini berbeda. Sontak ia mendapatkan keberanian dirinya.

“Aku akan mencoba.” Bisiknya.

Perempuan itu melihat permukaan air di bawahnya bersemburat kuning keemasan. Ah, sudah pagi rupanya.

“Hatiku masih terasa sakit, apakah itu boleh?” Tanya perempuan itu

Hening.
Tidak ada suara-suara lagi.

“Ah sepertinya kali ini aku harus berusaha sendiri. Ini pertempuranku.”

Perempuan itu membalikkan badannya dan melangkah menepi. Di belakangnya, cahaya matahari mulai membias di permukaan air laut, menampakkan siluet badannya yang bak terbungkus cahaya. Rasa sakit itu masih ada, tapi perempuan itu mulai merasakan ada yang hangat di dalam sana. Entah di bagian mana. Dan ia terus melangkah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s