Semesta Kecilku

img_20170126_130321_621

Kau,

Apa kabarmu pagi ini?

Ingatanku kembali pada waktu lebih kurang sebulan yang lalu. Bisa jadi sampai hari ini, aku menyesalinya. Aku menyesal memberi tahu dirimu bahwa kau telah menjadi poros semestaku. Kupikir, waktu itu aku sudah siap. Ternyata aku salah. Kita berdua belum siap. Aku pun teringat kau pernah berkata, “Ini terlalu cepat.”

Kau,

Sosok yang tak pernah berpikir apakah dirimu penting atau tidak bagi orang lain,

Aku bisa memahami bahwa aku membuat semua menjadi kacau dan berantakan dengan mengatakan bahwa kau sangat penting bagiku. Di bilangan sederhanaku tentang cinta, kau masih memegang sembilan dari sepuluh tingkatan angka yang ada di sana. Saat ini pun masih seperti itu, andai kau tahu.

Kemudian,

Aku kembali lagi pada penyesalanku.

Seandainya aku tidak terlalu banyak bicara, maka aku masih memilikimu hari ini.

Seandainya aku sedikit lagi bersabar, maka aku tidak akan menyaksikanmu pergi.

Seandainya aku mau mendengarkanmu, maka tak payah aku berada dalam penantian tak pasti.

Aku kembali lagi pada penyesalan yang menyesakkan! Namun aku tidak bisa berbuat apa-apa. Takut. Ragu. Diam. Tahan.

***

Kau,

Bagaimana harimu hari ini?

Aku ingin mendengarkan ceritamu lagi. Namun, aku paham aku tidak bisa memaksakan kehendakku padamu. Kau adalah kau, kau bukan aku, dan aku pun bukan dirimu. Kita memiliki diri kita masing-masing, begitu katamu waktu itu. Dan iya, kita punya urusan kita masing-masing juga. Aku perlu menyadari bahwa ini semua tidak akan berhasil. Bahwa cinta ini bertepuk sebelah tangan. Senyap, tanpa suara. Memaksaku untuk segera bungkam!

Kau,

Sosok yang menjadi bagian dari doa-doaku di setiap pagi dan petang,

Semesta kecilku terasa hampa setelah kepergianmu. Namun, tak apa kurasa, jika kita berhenti dan memberi jeda pada perasaan entah apa ini namanya. Biarkan ia tumbuh secara wajar jika memang seturut demikian takdirnya. Biarkan ia pergi dan berlalu jika memang tak semestinya ia ada disini lagi.

Aku sudah lelah. Dayaku telah melemah. Seberapa lama lagi aku harus berada dalam ketidakpastian ini? Menanti sesuatu yang ingin pergi itu sama halnya dengan mengharap turunnya salju di bulan Juni. Hampir serupa mustahil.

***

Kau,

Ya. Adalah kau yang membuatku belajar menjadi diriku. Dengan kehadiranmu, membuatku berpikir ulang tentang banyak hal.

Tak cukup banyak ucapan terimakasih kusampaikan. Tak cukup banyak permohonan maaf kupintakan. Ingin kuulangi ribuan kali hingga tuntas perasaan bersalah dan penyesalan yang membelengguku. Agar aku bisa melangkah.

Aku mencintaimu.

Maka, aku akan pergi.

Kawan Seperjalanan

“Terimakasih ya, semalam sudah mau mendengarkan ceritaku.” katamu. “Maaf sepertinya semalam itu aku lupa mau bilang terimakasih.”

“Ah, nggak kok. Kamu sudah bilang, seingatku.”, jawabku

“Ya pokoknya aku mau bilang terimakasih.”, lanjutmu.

“Okay, sama-sama. Sudah mendingan sekarang?”

“Sepertinya begitu”, pungkasmu.

Continue reading “Kawan Seperjalanan”