Littlest Things

Sometimes I find myself sittin’ back and reminiscing
Especially when I have to watch other people kissin’
And I remember when you started callin’ me your miss’s
All the play fightin’, all the flirtatious disses
I’d tell you sad stories about my childhood

I don’t know why I trusted you but I knew that I could

We’d spend the whole weekend lying in our own dirt
I was just so happy in your boxers and your t-shirt

Continue reading “Littlest Things”

Advertisements

Sand Play Therapy

PicsArt_04-05-06.29.09

Pernah dengar tentang Sand Play Therapy?

Nah, pada hari Selasa, 3 April 2018 lalu, saya beruntung bertemu pakar terapi ini. Beliau datang dari Hawaii untuk berbagi ilmu. Beliau adalah Bu Lorraine Freedle, PhD.

Nah, saya bertugas untuk mengurus segala sesuatunya untuk persiapan acara kuliah umum tersebut. Rasanya memang berat pada prosesnya, namun setelah semua terlaksana….rasanya lega. Yaaaah kalau mau diliat kekurangannya, pasti ada aja ya.. tapi memilih untuk menyikapi semua itu dengan kacamata positif. Demi sebuah proses pembelajaran.

Bu Lorraine menjelaskan kaitan antara teori Psikologi dalam yang dalam hal ini menggunakan teori Jungian.

 

Jujur?

Ketika di kepalaku jujur adalah sebuah keharusan, bukan sebuah pilihan, maka aku kemudian menganggap bahwa seharusnya semua orang pun berpikiran sama denganku. Padahal jelas, anggapan itu sama halnya seperti menunggu Godot. Almost impossible to happen but still hoping it to be happened.

Isi kepala antara¬† satu orang dengan orang lainnya sangat besar variasinya. Tampaknya, aku terlalu naif menganggap bahwa “alter world” itu sama dengan dunia nyata. Aku terlalu gegabah menyimpulkan bahwa “kenyataan” yang ada di sana adalah nyata, ketika itu hanya mungkin sebagian saja dan selebihnya merupakan rekayasa yang telah disiapkan dengan jeli, teliti, dan rapi. Yah, sebagai dari wujud representasi diri yang termediasi teknologi. Sepertinya begitu.

Continue reading “Jujur?”

Bukan Aku

Sungguh bukan aku.

Bukan aku menyengaja untuk menghindari kesalahan. Di dalam diriku, aku sudah merasa bersalah atas banyak hal. Bagaimana agar kau bisa memahamiku? Atau mungkin aku memang tidak tidak bisa dipahami?

Bukan aku tidak ingin berhenti meluapkan emosiku. Bukan aku tak tahu malu. Namun sungguh senyatanya aku memang tak mampu. Aku membutuhkanmu untuk bersandar. Aku membutuhkanmu untuk menemaniku dan berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Bahwa kita akan baik-baik saja. Sebesar itu aku membutuhkanmu.

Bukan aku tidak percaya padamu ketika aku cemburu. Ketahuilah bahwa cemburu ku karena aku begitu takut kehilanganmu. Aku menyerahkan hatiku padamu. Kutitipkan di genggaman tanganmu untuk kau lindungi. Karena di sanalah aku merasa aman. Maka dari itu, aku serakah tak hendak membaginya dengan siapapun.

Bukan aku tak percaya padamu ketika aku ingin tahu. Bahwa dengan begitu aku berharap untuk selalu menjadi bagian dirimu dengan semua kisah di dalamnya. Aku ingin kau menganggapku ada. Aku ingin menjadi bermakna. Ketahuilah, semua itu sungguh karena aku percaya. Sangat percaya.

Bukan aku jika hendak menyerah saat ini dengan begitu mudah. Tapi, aku terlalu lemah untuk berjuang sendiri tanpamu. Aku terlalu lemah berjalan tanpamu. Tolong jangan pergi. Tetaplah di sini berjuang di sampingku. Sesulit apapun itu, bersamai aku. Genggam tanganku. Erat. Lekat. Berjalanlah di sisiku.

Aku mencintaimu sedalam ini.

Aku mencintaimu sedalam ini.

Aku mencintaimu sedalam ini.

Maafkan aku.