Baby Blues

Review Jurnal

Judul               :

Depression Prevalence and Incidence Among Inner – City Pregnant and Postpartum Women.

Peeliti            :

Stevan E. Hobfoll & Christian Ritter (Kent State University), Justin Lavin (Akron City Medical Center and Northeastern Ohio Universities College of Medicine), Michael R. H & Rebecca P. C (Kent State University)

 

Permasalahan :

Depresi pada masa hamil dan persalinan memiliki konsekuensi penting pada ibu dan bayinya. Penelitian mengenai kehamilan dan depresi telah meningkat pesat, namun hanya sedikit dari penelitian tersebut yang menganalisa fenomena depresi selama masa kehamilan dan persalinan pada perempuan miskin (Steer, Scholl, & Beck, 1990). Diyakini bahwa status sosial – ekonomi (SSE) rendah dan kesukuan terkait dengan depresi klinis, tapi mayoritas penelitian pada populasi ini berdasarkan pengukuran self – report terhadap suasana hati atau gejala depresif.

Banyak factor yang menyumbang terjadinya gangguan mental pada masyarakat dengan SSE rendah, diantaranya adalah peristiwa pemicu stress kronis dalam kehidupan sehari-hari dengan frekuensi tinggi, kurangnya kontrol diri saat stressor muncul, ketidakmampuan menghadapi pengaruh negatif peristiwa penyebab stress yang meningkat. Gender adalah faktor resiko lain yang menyebabkan depresi, yang didiagnosa lebih tinggi pada perempuan dibanding laki-laki. Pada perempuan dengan SSE rendah konsekuensi depresi secara potensial lebih parah daripada perempuan pada SSE yang lebih tinggi. Kemiskinan membuat kehidupan menjadi serba terbatas dan memicu depresi, termasuk ketidakmampuan membayar pelayanan kesehatan anak.

Kehamilan dan masa persalinan adalah masa resiko tinggi terjadinya depresi. Terdapat bukti yang menegaskan adanya hubungan antara SSE dengan deperesi yang terkait dengan kehamilan. Pada sebuah penelitian di Inggris, ditemukan bahwa kehamilan banyak dikaitkan dengan keadaan distress terutama pada perempuan kelas menengah tapi tidak ada penelitian yang menerangkan status pasangan atau keadaan depresinya selama dan setelah masa kehamilan pada kelompok SSE manapun, dan perempuan lajang yang menjadi orang tua tunggal tidak diikutsertakan dalam analisis.

Tinjauan umum penelitian ini adalah meningkatkan pengetahuan akan kelaziman dan keberadaan depresi dikaitkan dengan kehamilan dan persalinan pada perempuan dengan SSE rendah. Tujuan utama penulis adalah mendokumentasikan pengalaman depresi klinis perempuan dengan tingkat SSE rendah selama masa kehamilan dan persalinan.dalam penelitian ini juga dicari apakah ada faktor demografi lainnya yang berpengaruh pada tingkat depresi mereka.

 

Metode :

1.      Partisipan

Sebanyak 252 orang perempuan direkrut selama 2,5 tahun, tapi hanya 192 orang yang benar-benar mengikuti penelitian secara utuh. Perempuan yang berpartisipasi adalah mereka yang (a) berusia antara 17 – 40 tahun, (b) berada pada minggu ke-16  sampai dengan minggu ke-24 masa kehamilan, dan (c) bebas dari komplikasi medis yang serius saat diterima sebagai partisipan. Rata-rata usia partisipan adalah 24,5 tahun. Partisipan diambil dari populasi etnis African – American dan European – American karena populasi etnis yang lain jumlahnya terlalu sedikit.

2.      Prosedur

Partisipan mengikuti 3 kali wawancara, sekali pada trimester kehamilan kedua, sekali pada trimester ketiga (diperkirakan 7 atau 9 minggu sebelum hari persalinan yang diharapkan), dan sekali  pada 7 atau 9 minggu setelah hari persalinan yang diharapkan. Partisipan memperoleh imbalan untuk masing-masing sesi wawancara sebesar $10, $15, dan $20. partisipan yang berpartisipasi utuh berhak untuk memperoleh satu set TV melalui pengundian.

3.      Instrumen

Depresi klinis diukur selama 3 kali wawancara dengan menggunakan Schedule for Affective Dissorders and Schizophrenia (SADS) versi yang telah dimodifikasi. Diagnosis gangguan afeksi (mayor dan minor) dibuat berdasarkan Research Diagnostic Criteria (RDC). Sebagai perbandingan, untuk depresi mayor diagnosis juga dibuat berdasarkan Diagnostic and Statistic Manual of Mental Dissorders 3rd Ed (DSM – III). Disini juga digunakan Beck Depression Inventory (BDI), aitem 1 – 14, memeriksa simtom somatik pada masa kehamilan, misalnya simtom gangguan tidur atau kesulitan makan seperti sering dilaporkan oleh perempuan hamil yang tidak mengalami depresi.

 

Hasil :

1.      Analisis awal : peneliti memperbandingkan validitas kontruk RDC dengan BDI. Hasilnya menunjukkan kemampuan RDC untuk membedakan secara adekuat hasil skor BDI kedalam kriteria-kriteria tertentu. Hal ini memberikan dukungan pada pengaplikasian RDC sebagai alat diagnostik yang valid.

2.      Kelaziman terjadinya depresi sebelum dan sesudah masa persalinan à z-test pada perbedaan antara dua proporsi (mengalami depresi sebelum persalinan dan sesudah persalinan) menunjukkan bahwa terdapat kemunculan depresi sebelum persalinan secara signifikan meningkatkan kemungkinan pada timbulnya depresi setelah persalinan.

3.      Bagaimana keluarga dan karakteristik demografik berpengaruh pada status diagnostik depresi à tidak terdapat variable demografis yang secara signifikan menunjukkan status diagnostic depresi selama masa kehamilan atau persalinan

4.      Bagaimana keluarga dan karakteristik demografik berpengaruh pada timbulnya status depresi persalinan (dalam ketidakadaan depresi sebelum persalinan) : tidak terdapat pengaruh yang signifikan baik dari keluarga atau faktor demografis lainnya yang terhadap timbulnya kasus depresi.

 

Diskusi :

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengindentifikasi kelaziman dan keberadaan depresi selama masa kehamilan dan setelah persalinan pada sampel suku bangsa gabungan (African – American dan European – American) yang secara ekonomi termasuk kelompok masyarakat miskin. Pada tiga pengukuran ditemukan rerata depresi lebih dari dua kali lebih besar dibanding laporan yang diperoleh dari  kelompok masyarakat menengah. SSE rendah merupakan status resiko signifikan untuk depresi berkaitan dengan kehamilan dan persalinan. Depresi sebelum persalinan juga merupakan status resiko signifikan untuk depresi setelah persalinan.

Sebagaimana diharapkan, depresi klinis tidak dipengaruhi oleh variabel keluarga dan demografis dalam sampel masyarakat miskin dengan penghasilan rendah. Satu-satunya faktor keluarga tambahan yang berkontribusi pada depresi adalah kurangnya perhatian pasangan. Faktor ini hanya ditemukan pada masa selama kehamilan. Status sebagai orang tua tunggal merupakan penyebab tambahan timbulnya depresi. Perempuan lajang juga mengalami konflik keluarga yang meningkat dengan mengalami kehamilan tapi mungkin dapat memperoleh penerimaan dan bantuan setelah anaknya lahir.

Fakta bahwa faktor keluarga dan faktor demografis lainnya, termasuk status etnik/suku bangsa, tidak berpengaruh pada timbulnya depresi menegaskan bahwa kemiskinanlah yang merupakan faktor utama penyebab depresi.

 

Tanggapan:

Hasil perdebatan sosial mengenai pengaruh keluarga berantakan adalah asumsi bahwa perkawinan merupakan faktor protektif bagi perempuan hamil namun penelitian ini menunjukkan bahwa pilihan gaya hidup yang lain, hidup bersama misalnya, juga memberikan fungsi perlindungan/protektif. Penelitian yang akan datang seyogyanya mecari tahu bagaimana bentuk hubungan yang berbeda-beda memberikan bentuk dukungan yang berbeda pula. Dalam penelitian ini, peneliti mencari tahu lebih jauh pada status hubungan terkait dengan timbulnya depresi pada perempuan miskin tapi tidak memfokuskan pada persepsi dari dukungan tersebut, dimana pada dasarnya keduanya sama-sama merupakan faktor yang penting.

Perhatian lebih harus ditujukan pada penggeneralisasian hasil penelitian yang menyangkut status etnik. Terdapat bukti lain bahwa kemiskinan lebih berpengaruh dalam timbulnya depresi daripada status kesukuan. Tapi sebagaimana diketahui, kelompok African – American berada pada kelas yang lebih rendah dalam kehidupan social dibandingkan dengan kelompok European – American. Dengan demikkian, sering nampak bahwa  kelompok African – American lebih miskin daripada kelompok European – American.

Hasil wawancara juga mungkin kurang valid karena adanya bias pada interviewer. Interviewer harus benar-benar terlatif, dapat menggali informasi seobjektif mungkin, mengesampingkan pandangan rasial. Dalam penelitian ini seharusnya disertakan pula sampel dari kelompok SSE menengah sebagai pembanding agar kita tahu perbedaan-perbedaan apa saja yang timbul antara kedua tingkat SSE tersebut sehubungan dengan timbulnya depresi selama masa kehamilan dan persalinan.

 

 

Sumber:

Journal of Consulting and Clinical Psychology, 1995, Vol. 63, No. 3, p. 445 – 453.

Review oleh: Idei K. Swasti, M.Psi, Psikolog