AMATI-TIRU-MODIFIKASI


Dalam dunia kreatif, sebenarnya susah-susah gampang menentukan dengan pasti karya siapa yang paling orisinil. Termasuk dalam dunia wire working.

Pernah saya dengar (baca, lebih tepatnya) selentingan dari diskusi teman-teman sesama wire worker yang menyebutkan adanya virus ATM -amati, tiru, modifikasi- yang menjangkiti komunitas wire worker. Karya siapa gitu yang dianggap bagus atau ngetrend langsung sejuta umat membuat yang -mirip-mirip- seperti itu juga.

Saya akui saya ini cenderung mengambil peran sebagai pengamat. Saya banyak mengamati karya-karya orang lain. Saya mengamati teknik, bukan mengamati desain. Dalam kebiasaan saya, desain selalu datang pada detik-detik menjelang suatu karya itu dibuat. Agak sulit untuk dengan pasti merencanakannya, apalagi membuat sketsa. Saya pernah mencoba membuat sketsa terlebih dahulu, alhasil…pada saat eksekusi, rencana awal di sketsa gagal total…

Kembali lagi pada virus ATM. Manusia pembelajar itu memang melakukan proses modelling lho. Albert Bandura dalam teorinya menyebutkan itu sebagai proses observational learning. Ada beberapa tahapan proses yang dilakukan, mulai dari mengamati, menyimpan dalam memori, memanggil kembali ingatan yang disimpan, sampai pada memotivasi diri untuk melakukan atau mencoba hal yang sama seperti yang telah diamati.

Jadi ATM itu harfiahnya manusia.

Nah, yang menyimpang adalah plagiarisme atau menjadi plagiat. TIdak mengakui bahwa dirinya telah mencontek, bahkan mengakui bahwa hasil contekan itu adalah murni hasil pemikiran dia.

Dalam bidang desain, dengan persaingan yang sangat ketat antardesainer yang berkecimpung di dalamnya, menjaga aset kreatif merupakan hal yang wajib dilakukan. Tapi yang susah ya, kalau blueprint sudah bocor di dunia maya. Lha njuk piye?

Kalau menurut hemat saya, biarkan konsumen yang memilih. Menjadi plagiat berarti tidak memiliki identitas dan pegangan hidup. Mengapa? Karena, kemudian ia akan terus melihat pada orang yang ia tiru. Selamanya ia menjadi peniru, selamanya ia menjadi budak.

Memang, pasar juga macam-macam isinya. Ada konsumen yang hanya nyari barang murah dengan mengesampingkan mutu. Ada konsumen yang mau mutu bagus tapi harga murah (!!). Ada juga konsumen yang menghargai hasil karya artisan dan bersedia bersikap objektif.

Nah, sebagai produsen, sebaiknya kita juga menentukan pasar kita siapa. Kalau pasar peminat mass product adalah sasaran kita, buatlah produk yang cepat dan mudah diproduksi dan terutama, memproduksinya nggak pake mikir alias siapa aja bisa. Dengan begitu kita bisa meng-hire tetangga sebanyak-banyak untuk menjadi tenaga lepas pembuat bros -misalnya. Sah-sah saja kalau memang itu tujuan kita, malah bagus bisa ngasih kerjaan ke orang-orang.

Nah, kalau sasaran kita adalah penikmat karya seni, maka buatlah karya seni yang seindah-indahnya. Buatlah dengan segenap hatimu. Kita harus mampu menyentuh hati sang calon pembeli, caranya adalah dengan membuat sesuatu yang berasal dari hati pula. Libatkan perasaan pada saat membuatnya, tidak asal jadi namun memanfaatkan seluruh indera kita untuk merasakan dan menikmati karya seni tersebut.

Nah, yang susah adalah konsumen tipe kedua. Maunya bagus tapi yang harganya murah. Heh! Bikin mangkel. Tapi memang ada lhoo yang kayak begini…banyaaaaaak. Saran saya sih jangan kepancing omongan mereka ya. Kalau kita kepancing, kita akan merasa awful. Merasa hasil karya kita tidak layak untuk dipresentasikan. Merasa bahwa kita telah gagal.

Konsumen pencari harga murah ini biasa menggunakan kalimat atau kata-kata negatif untuk menyerang. Salah satunya -dan yang paling sering digunakan- adalah: MAHAL! atau KEMAHALAN!

Padahal ya, mahal-tidak suatu karya seni itu sifatnya sangat subjektif. Meskipun demikian, saya percaya bahwa wire worker -termasuk saya- menentukan harga yang realistis kok. Hanya saja mungkin keawaman membuat orang mengira wire art berlebihan mahalnya.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah: sebagai pelaku dunia kreatif, kita harus pede. Percaya diri dengan pikiran dan ide kita sendiri, bekerja sesuai dengan passion dan percaya pada taste yang kita punya, dan tidak terpancing oleh kritik destruktif yang seringkali datang dari orang yang sebenarnya tidak benar-benar memahami apa yang sudah kita kerjakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s