Bias Jender dalam Budaya Patriarkhi


Hmm… saya ingat obrolan saya dengan beberapa teman di status akun facebook saya kemarin…dan nyambungnya dengan ingatan saya pada saat kuliah Psikologi Jender yang diampu oleh Alm. Pak Firin sekitar 6-7 tahun yang lalu.

Saya merasa mengalami kemunduran secara fisik dan intelektual pasca-melahirkan. Yaaaa… ini ada hasil penelitiannya nggak sih? Hahahhaaaa..atau cuma perasaan saya aja…

Nah, sudah hampir sebulan saya tidak menulis, lalu setelah berupaya untuk menulis lagi, lebih tepatnya bekerja lagi, kok saya mengalami kesulitan ya?

Lalu saya berpikir, kenapa ya? bagaimana pula nanti kalau seterusnya seperti itu? Huaaaaaaaa, seram euy!

Lalu saya semakin tenggelam ke dunia domestik yang identik dengan urusan rumah tangga, anak, suami yang melulu seperti itu dan tidak berkembang. Seraaaam!! Apalagi dengan budaya patriarkhi yang sarat dengan bias jender. Terkotak-kotakkan gitu, tugas perempuan, tugas laki-laki sepertinya sudah ditakdirkan begitu dari sononya. Padahal itu kan semata-mata bentukan budaya to???

Saya kemudian berpikir, apakah sebaiknya saya bekerja di luar rumah saja? berkarir begitu? Saya kok merasa takut dilecehkan ya kalau saya tidak bekerja, sementara itu saya dirumah saja terus saya dianggap sebagai perempuan yang tidak berguna. *Hayyyaaaaah!!! Kata-kata apa ini??* Sebenarnya, kalau lingkungan memberikan dukungan kepada perempuan, baik perempuan itu memilih untuk bekerja di rumah atau di luar rumah, sepertinya tidak akan ada masalah. Eh, bekerja di rumah itu capek juga lho…

Dulu Pak Firin pernah berkata, ibu rumah tangga sebenarnya mencakup beberapa profesi sekaligus yang kalau hendak digaji sepertinya si suami tak akan sanggup membayarnya. Ibu adalah chef, desainer interior, housekeeper, manajer keuangan, ahli gizi, dan (maaf) private hooker. Nah lho!

Beberapa teman menyayangkan, kenapa saya tidak mengejar karir yang lebih mapan… nah saya juga bingung, kenapa ya saya merasa sayang untuk meninggalkan rumah? Banyak pula yang menyayangkan prestasi saya yang cemerlang semasa sekolah dan kuliah, jika saya tidak berkarir. Hiks!

Tidak bisa ditolak atau disangkal, demikian kata dua orang pembimbing saya di kampus dulu, Bu Eni (Prof. Dr. Wisjnu Martani) dan Bu Nida (Dr. Nida ul Hasanat) bahwa dunia ini milik laki-laki. Laki-laki dapat bebas berkata “saya capek” ketika pulang kerja dan langsung berangkat bersantai ria sementara istrinya masih harus berkutat dengan serangkain pekerjaan ini-itu di rumah. Semua itu diatasnamakan pada kodrat. Dan celakanya, perempuan pun mengamini kodrat tersebut sebagai takdir yang tidak bisa diganggu gugat…alamak, dimana kesetaraan itu?

Padahal ya, apa salahnya kalau laki-laki mencuci baju dan perempuan menggunakan palu dan paku untuk memperbaiki jemuran?

Dalam budaya patriarkhi, memang lelaki adalah breadwinner (pencari nafkah) yang diakui masyarakat. Maka dari itu, kebanyakan merasa berhak untuk menjadi “penguasa” di rumah.

Hyaa…tulisan saya kok sinis banget ya disini…

Sekedar melepaskan uneg-uneg aja kok ya, nggak papa..hahahahaa… :D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s