Basic Dimension of Human Condition in Existential Therapy

To expand our awareness is to increase our capacity to live fully. The greater our awareness, the greater our possibilities for freedom. Awareness is realizing that we are subject to loneliness, meaningless, emptiness, guilt, and isolation. But, we have the potential, the choice, to act or not to act. (Existential Therapy: Propositon 1)

Jadi, yuk mari…beramai-ramai sadar diri. “Saya ini siapa, apa tujuan saya hidup di dunia, apa yang sudah saya lakukan, bagaimana perilaku saya, bla..bla..bla…”

Because we are basically free beings, we must accept responsibility that accompanies our freedom. We are free to choose among alternatives. We have a role in shaping our destinies. (Existential Therapy:Proposition 2)

Jadi, yuk menjadi manusia bertanggung jawab. Minimal pd diri sendiri, dg berani menerima konsekuensi dr tiap keputusan dan pilihan yg sdh diambil.

Experience of aloneness. We must learn to enjoy being alone before we can enjoy being with others. We are ultimately alone, yet related. The experience of relatedness will improve once you’re comfortable with yourself. (Existential Therapy :P roposition 3)

Jadi, kalau orang lain tdk nyaman bersama kita, maka cobalah untuk berkaca: “Apakah saya nyaman dg diri saya sendiri? Ataukah selama ini saya hanya berpura-pura tidak tahu apa yg salah?”

Searching for meaning. Meaning -like pleasure- must be pursued obliquely. Finding meaning in life is a by-product of a commitment to creating, loving, and working. Meaningless in life leads to emptiness and hollowness. (Existential therapy:proposition 4)

Jadi, kalau merasa “suwung”, kesepian, linglung, bingung sampai ga tau musti ngapain, sampai ga peduli udah nyakitin orang lain..maka perlu mikir, “hidup saya selama ini, apa sih artinya?”

Anxiety is a part of human condition. Life can’t be lived nor can death be faced, without anxiety. If we have the courage to face ourselves and life we maybe frightened, we will be able to change. Opening up to new life means opening up to new anxieties. (Existential therapy: Proposition 5)

Jadi, sebenarnya apa sih yang kita cemaskan? Setiap perubahan dalam hidup akan menimbulkan perasaan cemas, namun apakah lantas kita menghindari hidup?

Awareness of death and nonbeing. Death is also a basic human condition, and awareness of it gives significance to living. We have limited time to complete our projects. So, each moment is crucial! (Exixtential therapy: proposition 6)

Jadi, ternyata penting juga ya untuk mengingat MATI? Karena dengan begitu, kita akan lebih menghargai hidup dan setiap kesempatan yang kita miliki untuk bertumbuh. Selagi ada kesempatan, mengapa tidak meminta maaf? Mengapa tidak memaafkan? Mengapa tidak memberdayakan diri menjadi individu yang lebih baik dari kemarin???

My 1st Clay Creation

130120136488

Ini nih..

finally, I tried working with clay!

These was my 1st clay creation. Lil bit disappointed with my supplier, from whom I bought the supplies to make this clay creation. She offered me to buy a book from her, but when I received it, it wasn’t “real” book but a printed version of e-book. Piracy! Lil bit upset but it was okay, I will not talk about that anymore.

So, I can not learn the basic steps from that book. The book I believe for advance clay artisan!

Oh my!!

Okay, I started to learn by my self!

And I quite satisfied with the result :D

Happy.

And want to try more :D

The Dragon

060120136443-horz

This is my first piece on 2013 :)

I made it after I got back from office. Yup. Gotta find perfect time to work with wire, from now on.

This piece made from combination of moss agate (the center piece), wrapped with copper wire, and a piece of outstanding mother of pearl laid in the downside of the main stone. I used synthetic leather cord as necklace, to give the “ethnic” look on it.

060120136437

Actually, this is a very simple piece. I’m not using complicated technique to finish it. Just swirling here and there, to get the best proportional shape and goodlooking outcome. lol

060120136440

As seen in these pictures, I’m not adding to much tiny colorful supplies on it. So, basically, it’ll give you monochrome color :) What do you think?

By the way, it’s still available for sale. Please contact me for further details, or visit my FB page at Dei’s Gallery by clicking this link: http://www.facebook.com/Deisgallery

Thank you :D

Emosi Positif

231220126220

Apa yang anda rasakan ketika melihat gambar di atas?

******

Saya pribadi suka dengan kombinasi warna secara keseluruhan, ada putih (kristal yang keluar dari si batu druzy), ada merah (dari tali kulit dan pinggiran batu yang bernuansa oranye kemerahan), dan warna tembaga dari kawat yang saya gunakan.

Perasaan yang muncul dalam diri saya adalah perasaan hangat dan bersemangat :D

******

Itu adalah emosi positif.

Lebih lanjut, disebutkan oleh Watson (dalam Compton, 2005) bahwa emosi positif itu identik dengan ekspresi-ekspresi emosi yang menyenangkan serta menunjukkan fulfilling of life, sebuah rasa “penuh” atau “puas” dalam hidup. Ada 3 dimensi emosi positif, yaitu:

  • JOVIALITY >> terkait dengan kebahagiaan, kegembiraan, serta antusiasme individu dalam menjalani kehidupannya.
  • ASSURANCE >> berkaitan dengan kepercayaan diri dan keberanian untuk menghadapi tantangan dalam hidup.
  • ATTENTIVENSS >> berhubungan dengan kewaspadaan, konsentrasi, dan bertujuan untuk mengembangkan TUJUAN hidup (Saya ini hidup buat apa sih???).

Tidak hanya hubungan antara individu dengan lingkungan, emosi positif akan dapat membantu individu untuk MENGEMBANGKAN DIRI-nya. Pengalaman merasakan emosi positif akan memungkinkan individu untuk terlibat dan memiliki ikatan dengan lingkungan serta merangsang munculnya aktivitas-aktivitas PRODUKTIF. Emosi positif memberdayakan individu untuk mampu beradaptasi secara adekuat (Huppert, et. al., 2005).

Nah, bagaimana seseorang dapat mengembangkan emosi positifnya, instead of emosi negatif yang memang lebih mudah muncul dan meledak?

REGULASI EMOSI adalah kata kuncinya :)

Regulasi emosi merupakan proses memonitor dan mengontrol baik emosi maupun ekspresi emosi yang dimiliki untuk menyesuaikan dengan situasi-situasi sosial yang dihadapi (La Freniere, 2000). Jadi, kemampuan individu untuk bisa memonitor dan mengontrol inilah yang berperan membantu proses adaptasinya di lingkungan.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah: BAGAIMANA MELAKUKAN REGULASI EMOSI?

Kembali lagi ke awal nih, individu harus mengenali dirinya! Dalam arti, kita harus mengenali emosi-emosi dan ekspresinya yang sering muncul ketika kita berhadapan dengan berbagai macam situasi, misalnya: kalau sedang marah, itu karena apa, ekspresi emosi marahnya ini bagaimana bentuknya, dan apa efek yang muncul dari ekspresi emosi marah tersebut? apakah kemudian muncul emosi sekunder yang menyertai? Dan begitu seterusnya..

Kenapa sih proses mengenali ini perlu dilakukan?

IMHO, siapa sih yang bakal kenal diri kita lebih baik selain diri kita sendiri? Hehehehhe… motifnya sih sederhana saja, kita kan harus berhubungan dengan banyak orang dalam kehidupan ini (mau nggak mau lho ya..) dan untuk itu, kita harus melakukan serangkaian peran yang mungkin saja bisa berseberangan. Misalnya= peran saya sebagai wire jewelry artisan yang harus memikirkan laba-rugi, mungkin akan berbenturan dengan peran saya sebagai psikolog yang cenderung menjadi free-helper… Nah, saya tidak mungkin mencampuradukkan keduanya. Maka dari itu, saya harus belajar untuk mengontrol emosi yang muncul terkait dengan dua dunia ini, caranya ya dengan mengenali diri itu tadi. Hmmm.. semoga ilustrasi contohnya nggak membuat bingung yah… :D

Nanti deh ya, saya akan coba bahas lebih spesifik tentang SELF-REGULATION, yang mendasari proses regulasi emosi :D

Semangkaaaa!!!

231220126223

For detailed infos about my artworks, please visit Dei’s Gallery on Facebook by clicking this link: http://www.facebook.com/Deisgallery

 

References:

  1. Compton, W. C. (2005) An Introduction to Positive Psychology. CA: Wadsworth.
  2. Huppert, F. A., Baylis, N. & Keverne, B. (2005). The Science of Well-being. Oxford: Oxford University Press.
  3. La Freniere, P. J. (2000). Emotional Development: a Biosocial Perspective. CA: Wadsworth.

The Butterflies

Kupu-kupu lucu ini adalah hasil karya terakhir yang saya kerjakan sewaktu liburan Natal kemarin :) Lumayan lah yaa bisa ngobatin kangen sama kawat.. berhubung selama 2 minggu saya nggak sempat menyisihkan waktu bersama mereka.

Mengapa kupu-kupu? karena memang ada pesanan dari seorang kawan di fakultas, supaya saya membuat bros berbentuk kupu-kupu. Permintaannya sudah sejak awal bulan waktu sebelum saya pergi ke Surabaya untuk lokakarya HIMPSI waktu itu, tapi baru sempat dikerjakan kemarin.. Rasanya senang, malah sampai bikin 3 versi kupu-kupu :D

the butterflies

Inilah ketiga kupu-kupu manis itu…

Nah akhirnya, yang dibeli oleh teman saya yang ini nih…

231220126238

Jadi masih ada sisa 2 kupu-kupu lagi yang masih saya simpan…

251220126282

dan yang ini…

251220126286

Ketiganya memang bernuansa putih-pink-ungu :D sangat girlie yaaa…

For details of my artworks, please visit my page at FB, Dei’s Gallery (www.facebook.com/Dei’sgallery) or please text me @081328763361 (Dei)

Thank you :D

Masih sempatkah?

Hyyaaaaaa.. ini nih yang saya galaukan beberapa waktu terakhir, terkait dengan alokasi waktu untuk load pekerjaan yang bertambah :)
Pekerjaan baru sebagai junior lecturer itu sangat menantang! Benar-benar menuntut kemampuan adaptasi saya untuk diakselerasi! Jadi minggu pertama adalah minggu orientasi, masih perlu memperkenalkan diri kesana-kemari tentang siapa saya (mayoritas sudah banyak yang kenal sih) dan apa status saya sekarang… Maklum, saya sering keluar masuk kampus dan berganti-ganti status.. pernah jadi mahasiswa S1, lalu jadi mahasiswa magister profesi, lalu sekarang ini..jadi dosen muda. Malah ada yang mengira kalau saya ngambil kuliah S3..hehehhehe.. jadi begitulah.. menyenangkan, ternyata banyak yang masih mengingat nama saya (minimal itu deh) sekaligus masih mengingat momen-momen pernah bersama saya, meskipun saya sudah meninggalkan fakultas di tahun 2010 lalu, sudah dua tahun yaa…

Menyenangkan sekali karena saya mendapatkan tugas pertama saya keluar kota, ke Surabaya, pada tanggal 10-12 Desember 2012, bersama para pengelola Program Studi Magister Psikologi Profesi, mengikuti lokakarya yang diselenggarakan oleh AP2TPI (Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia) dan HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia). Menariknya begini, ini adalah tugas luar kota pertama, dan sekaligus pertama kalinya saya meninggalkan baby boy selama berhari-hari.. Karena ia masih menyusu, maka momen itu sekaligus dijadikan tonggak awal masa menyapih. Huhuhuhu, jadi selama di Surabaya itu saya kesakitan karena PD yang membengkak :( but it’s okay, masih bisa ditahan kok rasa sakitnya hehehe..

Setelah pulang, ternyata agenda menyapih ini sukses lho.. sekarang bengkak sudah sembuh dan si baby boy enggak rewel :) Saya malahan yang merasa kehilangan… rasanya ada yang aneh ketika anak ini mulai melepaskan ketergantungannya pada saya. Saya merasa tidak dibutuhkan lagi (haaaa, lebay!).

Seiring dengan proses menyapih itu, saya mulai disibukkan dengan pekerjaan di fakultas -sebenarnya ini masih termasuk pekerjaan yang cemen, kata senior-senior saya- yang lumayan menguras tenaga saya. Saya musti berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari. Hmmm… perlu adaptasi ekstra untuk orang yang sebelumnya bekerja di rumah, seperti saya.

Maka dari itu njuk saya merenung.. apakah saya masih sempat ya menekuni pekerjaan lama saya sebagai wire jewelry artisan? jika saya harus mendobel dengan load pekerjaan saya di fakultas? Saat ini, saya sudah diserahi 2 tanggung jawab pekerjaan, yang bobotnya lumayan besar. Adakalanya saya merasakan kerinduan pada aktivitas wire working dan berharap bisa menyalurkannya pada saat akhir pekan tiba. Dan, ternyata pada akhir pekan pertama saya bisa menyelesaikan 2 bros dan merevisi 1 pendant menjadi bros, sesuai dengan pesanan.

030120076174

 

ini bros pertama, Ungu

si biru

ini bros kedua, Biru

dan ini adalah bros hasil revisian..

020120076187

Aktivitas ini menjadi semacam stress reliefer buat saya ya.. dan saya berharap masih terus sempat melakukannya di sela-sela kesibukan saya yang baru. Oya, dan kebetulan ada pesanan baru lagi yang masuk. Saya sudah membuat desainnya, dan sangat berharap pada liburan Natal ini bisa merampungkannya. Kalau akhir pekan kemarin saya nggak sempat mengerjakan karena ada agenda yang sangat menarik, yaitu workshop tentang metode eksperimen dalam penelitian. Sejak jaman S1 saya nggak “dong” tentang materi ini, jadi begitu kemarin diajak untuk mengikuti workshop ya saya senang sekali.. apalagi langsung berguru pada para Profesor yang memang mumpuni di bidang tersebut.

Yah, pokoknya sempat nggak sempat harus disempatin deh! Hehehehehe.. for my mental health maintenance :D

Oh iya, ini foto sewaktu di Surabaya.. nggak sempat ambil banyak foto sih..

111220126199

hahaha cuma ini foto yang saya punya.. :( Saya yang pake baju kurung warna biru tua itu, foto bareng Ibu Dra. Retno Suhapti, SU., MA, Ketua Umum HIMPSI dan rekan-rekan dari UII.

 

Responding to stress

Nah, kalau kemarin saya sudah sedikit membahas tentang 4 tipe stress *menurut buku (yang) baru saya (pinjam): Psychology applied to modern life* nah sekarang akan saya lanjutkan ke topik berikutnya, yaitu tentang bagaimana merespon stress.

Cara manusia merespon situasi dan kondisi yang menimbulkan stress baginya itu sangat kompleks dan multidimensional. Sampai ada istilah yang disebut meta-emosi, yaitu emosi yang muncul saat merasakan suatu emosi akibat dari situasi/stimulus tertentu. hyaaa… terdengar ribet yah? Jadi, contohnya nih meta-emosi itu muncul ketika kita merasakan emosi sedih saat kita marah terhadap seseorang. Sedihnya ini bukan karena orang tersebut, tapi -misalnya, mungkin- karena kita merasa amarah kita menjadi destruktif.

Nah, emosi itu sendiri apa sih? Seringkali kita dengar orang mengatakan: “huh kejadian itu membuat aku emosi!” padahal sebenarnya “emosi” yang dia maksud adalah “marah”. Jadinya, seringkali terjadi salah pemahaman terhadap kata emosi. Nah, emosi itu adalah memang suatu konsep yang sangat luas dan cukup membingungkan, hingga para ahli pun kesulitan untuk mendefinisikan emosi secara sepakat. Sederhananya begini, emosi adalah sesuatu yang sangat kuat, suatu perasaan yang seringkali sulit untuk dikuasai/dikontol, yang diikuti oleh perubahan fisiologis. Jadi, emosi itu bukan hanya marah. Sedih, senang, bingung, cemas, takut, penasaran, bahkan galau.. itu juga emosi..

Nah, ketika menghadapi stress, akan ada 3 macam respon yang menyertai, yaitu respon emosional, respon fisiologis, dan respon perilaku. Yuk ah, dibahas satu per satu.

Respon emosional, yaitu respon yang berupa munculnya emosi-emosi tertentu ketika berada dalam situasi stress. Ada 2 macam bentuknya, yaitu emosi negatif dan emosi yang positif. Kenapa emosi negatif cenderung muncul pertama kali saat berada dalam situasi stress? itu karena secara intuitif, diri kita akan melakukan mekanisme pertahanan diri, untuk “menyelamatkan” diri dari hal yang tidak menyenangkan. Menurut Lazarus, respons emosi negatif yang umumnya muncul adalah: MARAH, CEMAS, TAKUT, SEDIH, dan BERDUKA. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada emosi lain yang muncul. Lazarus menambahkan, ada perasaan bersalah, rasa malu, iri, cemburu, dan juga muak/jijik.

Meskipun, disebutkan bahwa respons orang terhadap stress cenderung dalam bentuk emosi negatif, sebenarnya ada pula bentuk respon emosi positif yang muncul. Emosi positif ini muncul dalam proses lebih lanjut dari upaya individu yang bersangkutan untuk mengatasi situasi stress yang ia hadapi. Emosi positif akan bertahan lebih lama karena ia bersifat memberdayakan dan kemudian meningkatkan daya tahan/resiliensi seseorang terhadap stress. Hal ini yang seringkali tidak disadari oleh individu, karena ia terlalu terpaku pada sisi negatif stress dan respon negatif yang ia tunjukkan.

Nah, kalau individu terpake pada respon emosi negatif, bisa jadi stress akan menjadi lingkaran setan yang tidak berkesudahan. Kenapa? karena respon emosi negatif dapat merusak performa seseorang. Misalnya saja kecemasan. Ketika seorang cemas, ia kan mengalami kesulitan untuk berpikir fokus, bahkan pada orang-orang tertentu dapat membuat orang tersebut gagap dan atau mengalami blocking saat berbicara. Tentu saja hal ini akan secara signifikan berpengaruh pada penampilannya saat menjalani audisi atau wawancara pekerjaan, ya kan? Ketika ia -pada akhirnya- mengalami kegagalan, karena kecemasan yang tidak teratasi, ia akan masuk pada situasi stress yang baru yaitu frustrasi. Dan demikian seterusnya.

Selain respon emosional, respon selanjutnya yang muncul adalah respon fisiologis, yaitu yang dapat ditandai dari reaksi tubuh kita.

hyaaa.. kalau ngomongin respon fisiologis nanti nyambungnya sama sistem kerja organ tubuh, sistem hormon dan kelenjar, serta sistem syaraf. Agak ribet yah? Hhehehe bukan AGAK lagi, tapi SUPER ribet hehehehe.. namun demikian, bisa dipersingkat dan diperjelas seperti ini:

FISIK dan PSIKIS itu saling berkaitan. BADAN dan JIWA itu saling berkaitan. Kenapa? karena BADAN atau FISIK adalah rumah bagi JIWA atau PSIKIS. Maka dari itu pasti akan nyambung, kalau jiwa kita lagi sakit, katakanlah kita lagi sedih gitu ya.. pasti badan kita juga merasakan penurunan daya, misalnya jadi malas makan, malas beraktivitas, lebih senang diam, dst. Dan sebaliknya, ketika tubuh kita lagi sakit, misalnya flu atau migren gitu, pasti perasaan kita juga nggak enak, lebih murung, malas ketemu orang, malas di tempat keramaian, dst. Yang paling mudah lagi ditandai dari respon fisiologis ini yaitu dengan mengamati perubahan detak jantung, apakah konstan, melambat, atau malah menjadi lebih cepat. Lalu kemudian, dapat diperiksa juga produksi keringat, apakah kemudian muncul keringat dingin/gembrobyos, atau biasa-biasa saja. Nah, dua contoh itu yang paling mudah dikenali.

Nah, yang terakhir adalah respons perilaku. Respons bentuk ketiga, sesuai dengan namanya, terwujud dalam serangkaian gerakan dan perilaku yang mengarah pada upaya mengastasi stress. Pada umumnya, respons perilaku ini melibatkan upaya coping – coping refers to active efforts to master, reduce, or tolerate the demands created by stress.

Faktanya, coping ini juga bisa jadi “sehat” atau pun “tidak sehat”. Begini nih, ilustrasinya… Ketika anda mendapatkan nilai buruk saat ujian, apa yang anda lakukan: (1) anda akan belajar lebih giat pada semester berikutnya, (2) anda akan meminta bantuan pada senior atau tutor untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut mengenai materi yang dipelajari, (3) menyalahkan dosen anda karena menurut anda beliau tidak fair dalam memberikan penilaian, atau (4) tidak mengambil kelas beliau lagi /walk out. Kalau kita analisis di sini, 2 respons pertama tampaknya lebih sehat ya daripada 2 respons terakhir.

Nah, memang ya… cara masing-masing orang untuk merepons dan menghadapi -to cope with- stress itu berbeda-beda.. ada banyak faktor yang mempengaruhi :)

Diharapkan sih kita semua mau mulai mengenali diri kita agar kita nggak sampai terkena dampak dari stress. Tadi sih sudah sedikit saya singgung, misalnya yaitu menurunkan performa, kegagalan menyelesaikan tugas, selain itu juga bisa menyebabkan gangguan pemusatan perhatian, berkurangnya daya ingat dan konsentrasi, burn out -kelelahan yang teramat sangat- dan juga adanya trauma.

Harapannya sih, kita semua dapat mengatasi kondisi stress dengan sehat dan adekuat sehingga tetap dapat tampil prima ya prens!

Tetap semangat!! :D

Stress and its effects

Saya menemukan sebuah buku bagus di perpustakaan fakultas dua hari yang lalu. Sebenarnya isi buku ini mirip dengan isi dari buku saya yang hilang entah kemana, karya James Calhoun dan Joan Ross Acocella, Psychology of Adjustement and Human Relationship.

the book cover

Nah, buku yang baru saya temukan kemaren itu berjudul Psychology Applied to Modern Life: adjustment to the 21st century (9th ed.) karya Wayne Weiten, Margaret A. Lloyd, Dana S. Dunn, dan Elizabeth Yost Hammer. Diterbitkan oleh Wadsworth Cengage Learning di Belmount, California, US. pada tahun 2009. Cek link ini untuk lebih detail: the book.

Nah *lagi*, yang mau saya cuplik dalam artikel ini adalah salah satu chapter yang menarik… ehmm sebenarnya semua chapter sangat menarik dan menggoda untuk dibahas, namun berhubung topik pada chapter 3: Stress and its effects ini sangat relevan dengan kondisi dan situasi yang saya hadapi sekarang, maka otak saya pun tampaknya merespon lebih cepat..hehehe..

Oke, lanjut..

Dalam buku ini disebutkan bahwa stress itu adalah suatu kondisi yang sangat wajar terjadi dan siapapun pasti mengalaminya. Yup! Itu benar sekali!

Stress as any circumtances that threaten or ARE PERCEIVED to threathen one’s well being and thereby tax one’s coping abilities.

Artinya kurang lebih begini ya, stress adalah suatu keadaan yang mengancam atau DIPERSEPSIKAN mengancam (oleh individu ybs) kesejahteraan -kondisi yang nyaman/well-being- dan oleh karenanya, menuntut kemampuan coping individu tersebut untuk menghadapinya…

Masihkah ada yang bertanya-tanya: COPING itu apaan sih? Hehehe, istilah coping dalam terminologi psikologi diartikan sebagai kemampuan untuk menghadapi situasi menekan (stressfull event). Asal katanya dari kata COPE. Agak sulit memang menerjemahkannya secara harfiah :)

Trus, kenapa ya itu saya kok menandai kata ARE PERCEIVED dengan huruf kapital? Hal ini berkaitan dengan penilaian terhadapa kondisi stress. Richard Lazarus adalah salah seorang tokoh psikologi yang fokus meneliti tentang stress, coping, dan emosi pada manusia. Beliau dan kolganya, Folkman, membedakan penilaian stress primer dan stress sekunder.

Primary appraisal is an initial evaluation of wether an even is (1) irrelevant to you, (2) relevant but not threathening, or (3) stressful. When you view and event as a stressful, you’re likely to make a secondary appraisal, which is an evaluation of your coping resources and options for dealing with the stress.

Artinya nih.. “kacamata” individual kita berperan untuk menilai apakah suatu hal -bisa jadi keadaan, situasi, stimulus lainnya- yang muncul itu akan kita nilai sebagai kondisi stress atau tidak.. dan kita sendirilah yang kemudian menilai kemampuan kita untuk menghadapi stress itu, secara lebih spesifik yaitu dengan menentukan cara coping yang tepat.

Kalau ditarik ke kondisi saya sekarang nih, analisisnya seperti ini:

  • Penilaian primer: apakah saya melihat pekerjaan baru saya di fakultas ini sebagai hal yang menegangkan, membebani, menakutkan -dan seterusnya embel-ember menyeramkan lainnya?
  • Penilaian sekunder: saya akan menganalisis lebih lanjut apakah penilaian primer saya ini tepat? dan sejauh mana tingkat “menyeramkannya”? sekaligus bagaimana saya dapat mengatasi atau menghadapi kondisi ini?

Nah, untuk bisa menilai suatu situasi itu “benar-benar ” mengancam atau tidak, ada baiknya kita bahas sedikit tentang: Major Type of Stress. Dalam buku ini, disebutkan ada 2 kategori besar: acute stressor dan chronic stressor.

Acute stressor are threathening events that have a relatively short duration and a clear endpoint. Chronic stressor are threathening events that have relatively long duration and no readily apparent time limit.

Gampangnya begini, stressor akut itu datangnya tiba-tiba, dalam waktu yang singkat, dan penanganannya lebih jelas. Misalnya, ketika anda tinggal di daerah pesisir dan mengkhawatirkan akan datangnya gelombang tsunami, atau ketika anda pulang kerja larut malam dan takut dicegat preman mabuk di jalan. Sedangkan stressor kronis adalah situasi stress yang terjadi berlarut-larut, dalam jangka waktu yang relatif lama, dan penanganannya masih sulit untuk ditemukan. Misalnya nih: ketika anda berada di lingkungan kerja di mana atasan cenderung otoriter dan tidak suportif, ketika anda terlibat hutang dengan bank, atau ketika anda atau anggota keluarga anda mengidap penyakit terminal seperti kanker. Dampak dari stressor kronis ini pun cenderung dalam jangka waktu yang panjang karena akan memperngaruhi banyak aspek lain dalam kehidupan ybs.

Sebenarnya, para ahli pun masih mengalami perdebatan tentang klasifikasi stress. namun demikian penulis buku ini, menyimpulkan bahwa ada 4 tipe stress, yaitu frustrasi, konflik, perubahan, tekanan.

Frustation occurs in any situation in which the pursuit of some goals is thwarted. Artinya gini nih, frustrasi itu muncul bila tujuan yang kita sasar itu tidak tercapai, gampangnya nih, ada perasaan kecewa, dongkol, sebel, menyesal, dan atau bahkan self-blame alias menyalahkan diri sendiri. Intinya, frustasi itu muncul pas kamu pengen sesuatu tapi nggak bisa mencapai itu. Frustrasi yang berkepanjangan dapat mengarah pada hilangnya kesejahteraan hidup seseorang.

Conflict occurs when two or more incompatible motivations or behavioral impulses compete for expression. Konflik itu munculnya ketika kita berada di “persimpangan” alias harus mengambil keputusan, alias bimbang bin galau hehehe.. pertanyaan yang sering muncul biasanya sih “Iya nggak ya??” “Should I or shouldn’t I?”

Live changes are any noticeable alterations in one’s living circumtances that require adjustment. Nah, ini nih kayaknya yang paling relevan dengan kondisi saya nih! :) Nah, perubahan dalam hidup menjadi kondisi stress meskipun perubahan yang terjadi adalah perubahan positif, misalnya begini: (dalam kasus saya ya) mendapatkan pekerjaan yang prosepektif menjadi stressor karena saya harus beradaptasi dengan lingkungan kerja baru, tugas-tugas baru, dan rutinitas baru yang tidak hanya melibatkan saya namun juga seluruh anggota keluarga saya. Jadi, bukan dapat kerjanya yang menjadi stressor, namun perubahan AKIBAT dari mendapatkan pekerjaan baru itu lah yang menjadi stressor

Pressure involves expectation or demands that one behave in certain way. Artinya, kondisi tekanan itu dihadapi invvidu bila ia memperoleh tuntutan atau harapan dari pihak lain yang dibebankan padanya, biasanya sih dari figur yang lebih berkuasa, misalnya orang tua atau atasan. Bisa juga pasangan yang lebih dominan.

Bahasannya sebenarnya masih panjang.. saya lanjut di bagian 2 aja yaaa.. takut malah jadinya membingungkan :) Oke, saya istiharat makan siang dulu :)

Dilema Daycare

Ibu-ibu bekerja pasti sudah akrab ya dengan lembaga satu ini, kecuali yang punya nanny khusus di rumah..

Nah, saya adalah pemain baru. Baru 2 hari mencoba melatihkan anak saya masuk daycare karena dia mau saya tinggal bekerja. Hiiii… Agak sulit memang mencari daycare yang deket tempat kerja dan bersedia menerima anak usia di bawah 2 tahun. Anak saya sekarang 20 bulan. Nah, ketemua satu pilihan -hanya ada SATU- yang memenuhi kriteria tersebut. Saya mengambil pilihan itu, pada akhirnya.

Yang membuat saya merasa tidak nyaman saat ini karena kebiasaan di daycare tersebut yang memakaikan popok sekali pakai (pospak) pada anak-anak, dan sepertinya tidak -atau belum?- melatihkan toilet training bahkan pada anak usia diatas 3 tahun! Lha anak saya ini nggak pernah pakai pospak sejak bayi je.. gimana dong? dia juga sudah ngerti kalau mau pipis/pup. Tapiiiiiiiiii… masalahnya, memang selama ini saya sendiri yang meng-handle si bocah.. orang lain kan belum tentu mau serepot saya ngurusin dia.. ya itu kalau dibilang repot yah..

BTW, saya jadi mikir, duluuuuuuuuuu.. sebelum pospak atau dispossable diapers itu menjamur dan semua ibu-ibu berlomba-lomba memakaikannya pada anak bayinya, orang-orang jaman dulu kayaknya ya biasa-biasa aja ya anaknya nggak pake pospak itu.. apa karena sekarang sudah merasa sangat terbantu dengan pospak yang murah itu ya? dibandingkan dengan kerepotan melatih toilet training, pospak jauh lebih meringankan beban ibu dan beban para caregivers/nanny/prt?

Hmmm…. Ya sudah.. mau gimana lagi, memang sudah masanya anak saya masuk daycare.. kadang yo kok merasa bersalah ya, demi ambisi ibunya untuk berkarir, anak ini menjadi “korban”…

Tapi, ah.. saya mikir juga, mungkin kenyataan kondisi yang terjadi besok, bisa saja tidak seseram yang saya bayangkan :) Mungkin, ada caregiver yang nggak sesinis yang kemarin saya temui, yang masih mau “direpotin” ngurus anak tanpa pospak :)

Amin.. :D

btw, saya jadi mikir lagi… apa saya ini termasuk ibu yang aneh ya, kalau nggak ngikutin trend ibu-ibu sekarang? Menjadi outlyer gitu.. kan kalau di kurve normal, termasuk yang nggak normal :(

Yah, things changed.. nggak tahu deh..

Berdoa aja semoga besok, anak lanang bisa beradaptasi dengan baik.. at least selama 5 bulan ajah di sana.. semoga begitu sampai 2 tahun dia bisa pindah ke daycare kampus yang melarang anak pakai pospak :D

Amiin :D

Colorful brooches

Beberapa waktu terakhir, saya “ngebut” membuat beberapa bros… mengingat nantinya bakal agak susah dapet waktu buat bikin-bikin lagi.. jadilah ini, beberapa bros yang saya jadikan sebagai ajang curhat.. hehehehe..

Pertama adalah KENCANA WUNGU.

Kedua adalah si merah ini, karena pakai kombinasi kawat aluminium warna merah :) Saya namai PEACOCK.

Trus si ungu-ijo ini, saya namai PURPLE LEAF

Selanjutnya, yang berwarna kalem ini, saya namai PEACH

Kemudian, bros selanjutnya agak pucat ya warnanya, tapi asli… uweran kawatnya saya suka :) Saya namai BUBBLING TUB

Dan sementara ini, yang terakhir.. (karena ada satu lagi masih dalam proses pengerjaan), saya belum kasih nama.. apa? INNOCENT mungkin pas.. karena warnanya dominan putih :)

***

Kata orang-orang, nanti/besok kalau udah mulai ngampus, ga bakalan ada waktu untuk bikin-bikin wire jewelry lagi. Sedih ya denger komentar begitu.. secara sudah setahun terkahir ini saya hidup bersama kawat-kawat dan bebatuan ini. Mereka lah yang menemani proses aktualisasi diri saya selama setahun terakhir.

But, anyhow, karir baru saya memang penting juga sih buat masa depan jangka panjang.. ada kesempatan scholarship ke luar negeri, kesempatan mengaplikasikan ilmu yang sudah dipelajari bertahun-tahun di sekolahan… hehehe..

Saya belum tahu nanti akan ditempatkan dimana sebelum benar-benar mulai mengajar di Profesi, tapi saya SANGAT berharap bisa magang di unit layanan konsultasi.. hhehehe… Amin, semoga tercapai harapan ini :D

Kembali ke jewelry making, saya juga SANGAT berharap masih mempunyai spare time untuk mengembangkan talenta saya di bidang ini. Banyak juga teman yang memiliki pekerjaan lain selain bikin jewelry, dan mereka masih “hidup” sampai sekarang, meskipun kalau saya amati, membuat wire jwelry-nya cuma buat seneng-seneng aja. Kalau saya, sih tetep, wire jewelry buat menyambung hidup, mencari sebutir nasi..hehehee..

So, kembali ke quote aja deh:

THINGS that do NOT kill you, will make you STRONGER

Saya mau berjuang! Saya ndak mau “mati”!

MERDEKA!!

:D

 

 

My new life is about to begin :)

Hyaaa.. panjang aja judulnya! hhehehehe.. iyah begitulah. Sudah lebih seminggu sebenarnya kabar ini dirilis secara resmi oleh institusi, akhirnya! Masa penantian itu berakhir lah sudah. Sebagai gantinya, kami akan memasuki masa baru dalam kehidupan kami, suatu masa yang memang harus dilalui sebagai bagian dari perjalanan :)

 

Saya bekerja di luar rumah, terhitung efektif mulai 3 Desember 2012. Tentunya banyak yang akan berubah, pasti. Rutinitas harian, jadwal kerja, rute perjalanan, budget tambahan, dll.dll…

 

Excited? Tentu. Bimbang? Pastinya. Tapi…lepas dari apapu emosi yang dirasakan saat ini, memang hal inilah yang harus dihadapi. Lebih baik memfokuskan diri pada persiapan-persiapan teknis yang tentunya membutuhkan pemikiran detil dan tidak sembarangan.

So.. semangat!

Bismillahirrahmanirrahiim :)

Kebahagiaan dan strategi coping terhadap situasi stres

—HAPPYNESS
Seligman, tokoh Psikologi Positif, menyatakan kebahagiaan terbagi ke tiga masa, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Masa lalu :
  1. —kepuasan,
  2. —besarnya kepuasan (contentment),
  3. —pemenuhan (fulfillment),
  4. —kebanggaan,
  5. —kedamaian (serenity),
  6. —kesuksesan,
  7. kelegaan.
—Masa kini :
  1. —kenikmatan (pleasure)
  2. —gratifikasi/rasa syukur (gratification).
—Masa depan:
  1. —keyakinan (faith),
  2. —kepercayaan (trust),
  3. —kepastian (confidence),
  4. —harapan,
  5. —optimisme

—Kebahagiaan yang autentik (sejati) yaitu individu yang telah dapat mengidentifikasi dan mengolah atau melatih kekuatan dasar (terdiri dari kekuatan dan keutamaan) yang dimilikinya dan menggunakannya pada kehidupan sehari-hari, baik dalam pekerjaan, cinta, permainan, dan pengasuhan.

—Tingkat kebahagiaan yang dirasakan seseorang bergantung pada emosi positif yang dirasakan pada masa lalu, masa kini, dan masa depan.
COPING terhadap situasi pencetus STRESS

Stress timbul saat seseorang menerima tuntutan situasi melebihi kapasitas dan  sumber-sumber yang dimilikinya.

Untuk menghadapi situasi pencetus stress, orang melakukan strategi coping.

Coping merupakan mekanisme psikologis untuk menemukan respon adekuat terhadap tuntutan dan tantangan lingkungan, usaha yang melibatkan kognitif dan perilaku, yang disalurkan untuk mengelola tuntutan baik eksternal maupun internal yang menimbulkan tekanan atau dinilai melebihi sumber-sumber pada diri seseorang.

Delapan tipe coping (Lazarus & Folkman, 1984) :
  1. Confrontative coping (strategi coping yang dilakukan secara agresif untuk mengubah keadaan yang dianggap menekan/membahayakan, berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkan)
  2. Seeking social support (strategi coping yang ditandai dengan dorongan untuk mendapatkan kenyamanan emosional dan mencari informasi dari orang lain yang ada di sekelilingnya)
  3. Planful problem solving (ditandai dengan dorongan untuk berfokus pada masalah dan mencoba untuk membuat perencanaan untuk memecahkan masalah yang dihadapi)
  4. Self-control (ditandai dengan dorongan untuk meregulasi/mengatur perasaan seseorang)
  5. Distancing (ditandai dengan dorongan untuk melepaskan diri dari permasalahan, atau situasi yang menekan seperti menghindar dari permasalahan seakan tidak terjadi sesuatu atau berusaha membuat pandangan-pandangan positif, seperti menganggap masalah sebagai lelucon)
  6. Positive reappraisal (ditandai dengan dorongan untuk mencari makna positif dari pengalaman yang dialami dengan memfokuskan diri pada pengembangan diri)
  7. Accepting responsibility (ditandai dengan menyadari/mengakui tanggung jawab dan peran diri sendiri dalam permasalahan yang dihadapinya dan mencoba menerimanya untuk membuat semuanya menjadi lebih baik)
  8. Escape/avoidance (mencoba untuk memikirkan masalah dari keinginan orang yang bersangkutan/wishful thinking atau dorongan untuk menghindar/lari dari situasi yang menekan, misalnya dengan makan, merokok, alkohol, menggunakan obat-obatan, dan lain-lain).
Tiga coping pertama dikategorikan sebagai problem-focused coping, sedangkan 5 coping terakhir dikategorikan sebagai emotion-focused coping.
***
Kira-kira ada nggak ya, keterkaitan antara coping strategi yang dipilih seseorang ketika menghadapi situasi stres dengan tingkat kebahagiaan yang dirasakannya?
Hipotesis saya sih, ada.
Logikanya gini nih, kalau kita BERHASIL mengatasi masalah, entah itu dari melalui penyelesaian masalah itu sendiri atau pengelolaan emosi saat menghadapi masalah, maka emosi positif akan muncul, misalnya rasa lega, tenang, relaks, dst.
Hanya saja, yang masih menjadi pertanyaan saya, coping itu kan nggak semuanya produktif ya.. bisa juga strategi coping yang dipilih justru kontra produktif :(
Gimana tuh kalau begitu?
Yang paling mudah dijadikan contoh adalah Escape/avoidance. Kalau tiap kali mengalami situasi stress, orang melakukan escaping/avoiding, yang artinya melarikan diri, maka yang ada adalah penumpukan masalah. Kontra produktif tuh kalau begitu kan? Bukannya selesai, masalah akan menjadi semakin rumit dan tak terkendali.
Hmmm… sebuah ide penelitian yang menarik :)
Yuk, siapa yang mau melakukan penelitian dengan tema ini?